Nama: 'Abidah Ulul 'Azmi NIM: A310200094 Kelas: 5B/PBSI Mata Kuliah: Menulis Kreatif Karya: Antologi Puisi "Kata"
1. Judul: Aku Semesta berbisik di benakku, bahwa aku harus menulis, Mengelana bersama jutaan huruf yang tercecer tanpa cerita. Semesta berbisik di benakku, bahwa aku harus menunjukkan diri, Bersama pena yang tak pernah surut mengeluarkan tinta perbuatan. Semesta membawa ku pergi berkunjung ke neptunus, mars, dan saturnus. Dalam potongan mimpi-mimpi yang berserakan di malam-malam sunyi. Aku, hanyalah aku. Biarkan semua kertas ini terisi dengan banyak kisah. Aku di masa lalu, adalah aku. Aku yang sekarang, adalah aku. Aku di masa depan, tetaplah aku. Aku tidak terlahir kembali. Aku hanya kembali membuka mata.
2. Judul: Buram Aku membiarkanmu semakin buram dari pandangan Sebab diri tak lagi mengarahkan pandangan di tempat mu berdiri Terperangkap untuk semakin menyalahkan keadaan Sementara diri dipenuhi banyak beban Cukuplah kau isi omong kosong Cerita cinta yang romantis itu nyatanya tidak Apa lagi, tuan? Aku kini terlatih untuk terluka
3. Judul: Sandiwara Waktu menghabisiku tanpa pendewasaan Tak muda untuk mengerti bagaimana hebatnya terjatuh Segalanya berkerumun dalam pikiran Tapi tubuh tak peduli Tergagap, sungguh mengagumkan sandiwara ini Melankolis untuk sebuah pertunjukan drama Sebab tampaknya, pemeran pendukung lebih bersinar daripada pemeran utama
4. Judul: Bertanya-tanya Aku mencari tahu Dari warna hitam dan putih Dalam banyak detik dan berjam-jam Beberapa waktu Bagaimana itu terjadi? Apakah salah atau benar? Aku terjebak diantara keheningan dan suara Tak lagi menggenggam dengan erat Bertengkar dengan diri sendiri Aku mencari tahu ... Melihat seperti apa siang dan malam Tanpa perlu manipulasi Tanpa perlu beramai-ramai Di sana Akan selalu ada kebisingan Mereka menatap cahaya dengan sudut pandang lain Tak sama dengan tempat ku berdiri Bahkan jika itu seorang diri, aku merasa tidak perlu mencoba seperti mereka Berjalan, ikuti, dan buat cerita sendiri, aku lah pemeran utamanya Meskipun aku, seorang diri.
Nama: 'Abidah Ulul 'Azmi NIM: A310200094 Kelas: 5B/PBSI Mata Kuliah: Menulis Kreatif Karya: Antologi Puisi "Kata"
5. Judul: Siapa? Ini rasa sakit Menjadi takut dengan mata orang sekitar ku Begitu pandai kau mengelabuhi Banyak manusia bersyair bahagia jika jatuh cinta Sebenarnya siapa yang mengatakannya? Siapa? Disini.. Aku masih begitu terbelakang Jika kau menjadi aku, bagaimana kau akan menghadapinya? Jika hari-hari yang gila dan menyesakkan ini menjadi milik mu? Apa kau tahu keadaan ku yang sekarang ? Tak ada lagi tidur nyenyak Menjadi semakin hancur Hingga mati rasa Kendati pun tak ada cara untuk mu kembali Aku masih di sini
6. Judul: Luka Namaku adalah luka Aku membersamai di setiap langkah Aku menyakiti di setiap perjalanan Bukan karena aku ingin membuatmu berhenti Tapi karena aku ingin membuatmu tetap bertahan Aku adalah luka Aku adalah rasa sakit Aku adalah kepedihan Aku adalah rasa yang tidak diinginkan Sebuah luka yang menggendong pelajaran Rasa sakit menumbuhkan kekuatan Kepedihan yang mengundang sabar Nyata adanya Hidup ini tidak selalu tentang keinginan Akan selalu dipenuhi dengan diriku Jangan berusaha melarikan diri Karena pelarian itu justru akan membuat semakin terluka
7. Judul: Usai Malam ini aku memutar judul lagu yang sama. Terus begitu, seperti di malam-malam yang lalu. Aku ingin berhenti. Tapi setiap aku mencoba untuk tidak melakukannya, rasanya itu sangat menyalahi aturan. Malam ini aku mengingat kembali cara kita belajar dari kesalahan. Bagaimana denganmu? Dulu Setiap pandangan kita bertemu adalah seperti sebuah pertunjukan yang sangat mengagumkan. Seolah tidak ada lagi hal menarik di dunia ini selain dirimu. Sekarang aku bertanya-tanya apa yang terjadi pada kita hingga kita menjadi asing satu sama lain. Aku sangat terkejut dengan seberapa banyak kau membuatku mengeluarkan air mata. Dan kenyataan bahwa kau pergi tanpa meninggalkan satupun luka justru membuatku semakin terluka. Ini terlalu berlebihan. Melewati saat-saat dimana aku tetap begitu jelas melihatmu, bahkan di saat mataku tertutup. Melewati saat-saat dimana aku berjuang menutup kedua telingaku dengan telapak tangan, karena suaramu yang terdengar begitu nyaring. Padahal kau bahkan tidak mengatakan apapun. Rasanya bukan. Ini bukan aku. Aku tidak bisa lagi mengenali diriku sendiri. Bagaimana kamu masih mengisi hari-hariku sementara kita tidak lagi saling berbicara? Seperti orang bodoh yang tetap berulang kali mencoba untuk mendatangimu, meski benar-benar tahu jika aku akan kembali tersakiti. Malam ini aku menyadari kembali, bahwa aku belum benar-benar belajar dari kesalahan. Bagaimana denganmu? Malam ini aku membaca catatan yang sama. Terus begitu, seperti di malam-malam yang sebelumya. Aku ingin berhenti. Tapi setiap aku mencoba untuk tidak melakukannya, rasanya itu sangat menyalahi aturan.
Nama : Fani Devikasari NIM : A310200004 Kelas : 5A Mata Kuliah : Menulis Kreatif Karya : Antologi Puisi “Kata” dan Cerpen
1.Judul : Pelangi Terlalu singkat hadirmu Namun berhasil mengukir senyum di bibirku Dirimu yang tak pernah gagal membuatku takjub akan keindahanmu Warna warni di langit kelabu
2.Judul : Baru Klinting Kemarahan hati seseorang Menciptakan air deras yang menggenang Suara gemuruh tak karuan Penduduk desa berlarian Malam itu penuh dengan ketakutan Ketakutan yang menciptakan kegaduhan Hidup mereka tak terselamatkan Air yang akhirnya menenggelamkan Air yang menggenang Menjadi rawa yang bening Mereka menyebutnya Rawa Pening Tercipta karena kemarahan baru klinting
3.Judul : Kehidupan Kehidupan Hidup punya banyak cobaan Agar kita tahu bagaimana cara bertahan Hidup tak selalu tentang keindahan Kadang terbalut akan kesedihan Kehidupan memang melelahkan Tapi itulah kehidupan
Nama : Fani Devikasari NIM : A310200004 Kelas : 5A Mata Kuliah : Menulis Kreatif Karya : Antologi Puisi “Kata” dan Cerpen
4.Judul : Hilang Arah Aku hanya bisa berserah Berserah pada langkah yang hilang arah Menjalani hidup dengan tabah Berjuang mengubah lelah menjadi lillah Rasa sakit yang kian parah Membuatku ingin menyerah 5.Judul : Pintaku Tuhan Aku tidak meminta bebanku diringankan Hanya berharap dadaku dilapangkan Agar kuat menghadapi cobaan Untuk menjalani kehidupan Mengejar impian untuk masa depan 6.Judul : Tanya Hujan rintik di awan kelabu Rawan rindu berakhir sendu Rindu yang terus menggebu-gebu Ingin bertemu melepas pilu Bagaimana kabarmu? Bagaimana dengan hatimu? Akankah kita akan bertemu? Tanya yang memenuhi isi hatiku
Nama : Fani Devikasari NIM : A310200004 Kelas : 5A Mata Kuliah : Menulis Kreatif Karya : Antologi Puisi “Kata” dan Cerpen
10.Judul : Doa Aku berusaha mengubah takdirku Mengubah takdir dengan lantunan doaku Memanggil nama-Nya di setiap sujudku Berharap ridho-Nya di setiap hariku
11.Judul : Hujan Dia bisa menjadi berkah Namun juga bisa menjadi musibah Dia selalu jatuh ke dunia Namun tak pernah ada rasa trauma Kemarin dia datang lagi Hujan di sore hari
12.Judul : Andai Andai waktu bisa diputar Kan kuperbaiki kesalahanku Andai aku tahu akan seperti ini Aku tak kan melangkah sejauh ini
Nama : Fani Devikasari NIM : A310200004 Kelas : 5A Mata Kuliah : Menulis Kreatif Karya : Antologi Puisi “Kata” dan Cerpen
13.Cerpen : Ruli si Berang-berang Pada suatu hari,seekor berang-berang bernama Ruli sedang menyusuri sungai.Ia melihat ada anak kelinci yang berteriak ketakutan karena hanyut terbawa arus.Ruli pun membantu anak kelinci itu dengan membawanya ke tepian.Di tepian sungai terlihat ibu kelinci yang mencari anaknya.Ruli pun menghampiri ibu kelinci tersebut dan mengembalikan anaknya dan menjelaskan apa yang terjadi ke ibu kelinci.Ibu kelinci tersebut bernama Tina. Tina sangat berterima kasih kepada Ruli.Tina pun berjanji suatu saat akan membalas kebaikan Ruli.Ruli membalasnya dengan senyuman dan berkata bahwa ia tulus membantunya tanpa mengharapkan suatu imbalan.Tina pun terharu.Hari sudah mulai gelap,Tina pamit kepada Ruli untuk pulang ke rumah karena anak-anaknya yang lain pasti menunggunya. Di keesokan harinya hujan begitu lebat.Hujan yang tidak kunjung reda menyebabkan air sungai meluap dan banjir.Hal itu membuat rumah Ruli terbawa arus banjir.Namun Ruli tak dapat berbuat apa-apa,ia hanya bisa menunggu hujan reda.Setelah hujan reda,Ruli terlihat sedih karena rumahnya sangat hancur berantakan. Banyak potongan kayu yang hanyut terbawa arus banjir.Di lain sisi,Tina yang mendengar bahwa rumah Ruli hanyut terbawa arus pun tidak tinggal diam.Tina mengumpulkan saudara-saudara dan teman-temannya kelinci untuk meminta bantuan dengan mencarikan potongan kayu.Setelah potongan kayu dirasa sudah banyak.Tina dan yang lainnya membawanya ke tepi sungai.Tina memanggil Ruli.Ruli yang tampak sedih pun datang karena panggilan Tina. Tina berkata “Ruli,aku dan teman-temanku mengumpulkan potongan kayu untuk kamu.Kami mendengar bahwa rumahmu hanyut terbawa arus banjir kemarin.”Ruli dengan mata berkaca-kaca pun terharu mendengar penjelasan Tina.Ia sangat berterima kasih kepada semuanya telah membantu mengumpulkan potongan kayu yang dapat digunakan untuk memperbaiki rumahnya.
Nama : ERNAWATI NIM : A310200105 Kelas : 5B Mata Kuliah : Menulis Kreatif Karya : Puisi
1. Judul: Bersama Dirinya Diantara berjuta manusia yang ada Diriku hanya tertuju padanya Dengan rasa yang tak terucap oleh kata Deru hati yang tak terdengar oleh telinga Siapa sangka jadi begini adanya Bersamamu menghadapi dunia Berdua merajut asa Sebagai satu kesatuan jiwa Langkahku menyatu dengan langkahnya Jariku bertaut dengan jarinya Kerasnya hidup tak terasa Jikalau selalu bersamanya
2. Judul: Isi Kepala Memikirkan hal yang tak berguna Menduga-duga keadaan kedepannya Merasa lelah setiap harinya Mengkhawatirkan dugaan yang belum tentu benar adanya Ingin pecah rasanya Mungkin ini tahap dari usia Syukuri saja apa adanya Jalani semua dengan tawa
3. Judul: Bagaimana? Bagaimana? Jika kau menginginkan bintang Tetapi yang kau dapat adalah bulan Bagaimana? Jika kau memiliki harapan yang terbentang Tetapi Tuhan tak jua mewujudkan Bagaimana? Jika jiwamu tak kunjung tenang Tetapi dipaksa tuk merelakan Upaya apa yang dapat diri lakukan tuk mempersenang Selain berpasrah pada keadaan
4. Judul: Syukur Cahaya matahari menyambut pagi ini Kulihat wanita tua pengais sampah bergegas menjemput rezeki Aku tersenyum hangat sebagai tanda sapa Agar diri tak dinilai jumawa Satu karung yang sudah ia dapat Terlihat begitu berat Baju lusuh yang begitu kusut Pertanda diri kurang terurus Mengingatkanku tentang rasa syukur kepada Nya Tentang semua nikmat kehidupan yang tak ada batasnya
5. Judul: Ceroboh Kamar gelap temaram tersorot cahaya dari luar ruangan Merebahkan badan untuk mengurai kelelahan Bersiap untuk segera lelap ke alam bawah sadar Kumainkan gawai hingga waktuku habis terbuang Cerobohnya diriku sampai-sampai bangunku kesiangan
6. Judul: Rindu Air mataku mengalir Menggambarkan rasa rindu yang terukir Menjalani ketentuan takdir Risiko yang telah terpikir Kali pertama kurasa Berada jauh dari ibu bapa Mencari ilmu alasannya Sebagai bekal dimasa tua
7. Judul: Tobat Bukan lagi dosa katanya Karena semua orang melakukannya Bukan lagi dosa katanya Karena semua orang memakluminya Dikasih peringatan tak mau Ditunjukkan yang benar tak sadar Mengikuti tren zaman yang tak ada habisnya Melakukan semua semaunya Bersyukur pada sang pencipta Maha pengampun segala dosa Yang memaafkan kesalahan kita Sebagai makhluk yang jumawa
8. Judul: Memohon Belas Kasihan-Nya Saat semua terasa berat Tak henti tanganku terangkat Mengucap runtutan doa Kepa-Nya tempatku meminta Saat semua berjalan begitu lambat Tak henti diriku bertaubat Agar Tuhan senantiasa iba Sehingga dipermudah jalannya Saat semua begitu mengikat Tak henti imanku pertingkat Berusaha berbaik sangka Pada setiap ketetapannya
9. Judul: Susah Percaya Siapa percaya adanya cinta Saat semua ucapannya dusta Perasaannya terbagi dua Hadirnya tak selalu ada Siapa percaya adanya kasih Setiap ucapannya terasa perih Membuatku semakin tertatih Memahimi sikap yang begitu risih Siapa percaya adanya sayang Jika janji yang diucapnya melayang Kebebasan selalu dikekang Hingga perasaan menjadi bimbang
10. Judul: Kehidupan Kos Mahasiswa Diam tak saling sapa “Kurang begitu kenal” katanya Tidak pernah terjadi interaksi Saling sibuk dengan urusan sendiri Berteduh di satu atap yang sama Berusaha mencapai tujuannya Berlatih mandiri alibinya Berada jauh dari keluarga Tidak ada rasa saling menjaga Karena itu bukan urusannya Terlalu ikut campur takutnya Pura-pura tidak tahu saja
Nama : ERNAWATI NIM : A310200105 Kelas : 5B Mata Kuliah : Menulis Kreatif Karya : Cerpen Judul : Bangun Secangkir the dan roti panggang yang wanginya memenuhi ruangan menjadi pilihan Haha untuk menu sarapannya pagi ini. Gadis cantik berambut panjang itu terlihat sudah berdandan rapi, karena hari ini dirinya ada janji dengan sahabatnya Lulu untuk pergi ke pusat perbelanjaan bersama. “Selamat pagi Mimi, selamat pagi Pipi.” Sapa Haha kepada Ayah dan Ibunya yang turut duduk di ruang makan untuk menyantap sarapan bersama. Raut wajah Lulu terlihat begitu sumringah ketika melihat mobil yang dikendarai oleh Haha tiba di depan rumahnya. Lulu sontak berlari dan segera masuk kedalam mobil Haha, dirinya sudah tak sabar untuk pergi ke pusat perbelanjaan bersama dengan Haha. Pemandanagn yang begitu memukau mampu membuat mata keduanya terbelalak. Deretan baju-baju mahal yang tersusun rapi, tas-tas yang tersusun di etalase kaca tembus pandang, dan sepatu-sepatu cantik terpampang di dinding toko. Tanpa menunggu aba-aba Haha dan Lulu langsung memilih dan mengambil barang-barang yang mereka inginkan. Tak sampai disitu, setelah keduanya merasa puas berbelanja Haha dan Lulu bergegas menuju salon kecantikan untuk mempercantik diri mereka. Mengubah warna rambut, mewarnai kuku, dan melakukan perawatan kulit merupakan kegiatan rutin yang sering mereka lakukan. Apalagi mengingat besok Imagination, pacar Haha, akan datang menemuidirinya sehingga penampilannya harus mempesona dari ujung kaki hingga ujung kepala. Setelah lelah melakukan aktivitas hari ini, Haha segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang kamar mewahnya. Dirinya merasa sangat bahagia dan tidak sabar untuk segera bertemu dengan kekasihnya imagination besok pagi. Baru sekejap ia memejamkan mata, tiba-tiba terdengar teriakan yang begitu keras dari luar kamar “Haha bangun!, waktunya pergi bekerja atau nanti kau akan terlambat.” Masih dengan mata terpejam Haha masih berusaha memahami kata-kata yang baru saja ia dengar. Timbul pertanyaan dalam benak Haha, mengapa dirinya harus bekerja? Bukankah selama ini Mimi dan Pipinya sudah mencukupi kebutuhannya tanpa dirinya harus bekerja. Kemudian Haha membuka matanya, terlihat langit-langit kamarnya yang tadinya dilapisis oleh emas berubah warna menjadi putih kekuningan akibat kebocoran air hujan. Seperti tersambar petir disiang bolong Haha kaget dan langsung melompat turun dari tempat tidur, dirinya terlihat jebingungan. Dimana rumah mewah yang tadi ditempatinya? Baju, tas, dan sepatu yang baru saja ia beli bersama Lulu tadi hilang kemana?. “Ada apa Haha?” tanya ibu Haha yang bingung melihat tingkah laku Haha, “Cepat segera mandi! Kau harus segera pergi bekerja.” Perintah ibu Haha.“Ternyata aku hanya bermimpi” ucap haha sambil mencubit pipinya sendiri. Setelah selesai bersiap-siap Haha segera menuju dapur untuk sarapan bersama bapak dan ibunya. Tidak ada roti bakar dan secangkir the hangat yang dihidangkan dengan peralatan makan mewah. Hanya ada nasi, telur balado, dan tumis kangkung yang dimasak oleh ibunya pagi ini sebagai menu sarapan. Inilah kehidupan Haha yang sebenarnya, Haha adalah seorang gadis biasa yang bekerja di minimarket, ibunya hanyalah seorang ibu rumahtangga biasa, dan ayahnya bekerja dikantor kelurahan dengan gaji yang hanya pas-pasan. Tidak ada mobil mewah seperti kehidupan dimimpinya, orang tuanya hanya memiliki satu motor dan satu sepeda. Setiap hari Haha naik sepeda saat pergi bekerja. Meskipun kehidupan mewahnya tadi hanyalah mimpi belaka, sejujurnya Haha sangat senang dan menikmati hidupnya yang sederhana. Bagi Haha apapun tantangan kehidupan yang dihadapinya tidak akan jadi masalah besar jika ayah dan ibunya selalu ada di sampingnya dan mendukungnya. Karena Haha sangat menyayangi kedua orang tuanya lebih dari apapun di dunia ini. SELESAI
Nama: Ari Diah Nur Ayuni NIM: A310200041 Kelas: 5A Mata Kuliah: Menulis Kreatif Karya: cerpen
"Proteksi di tengah pandemi" Pada awal bulan Maret, aku banyak mendengar berita mengenai pandemi virus yang mewabah di seantero negeri dunia. Bukan kepalang main, virus yang bernama Covid-19 ini telah banyak merenggut jiwa berjatuhan bahkan hingga hari ini. Semenjak pandemi sekarang setiap orang dimanapun ia berada haruslah menjaga jarak satu sama lain demi menjaga diri masing-masing dari penyebaran virus ini. Sudah berbulan-bulan juga ribuan sekolah ditutup dan merumahkan banyak siswa yang sejatinya masih harus menempuh kewajibannya untuk belajar di sekolah namun apa daya penyebaran virus yang sangat cepat mengancam siswa apalagi seperti aku dan mungkin kebanyakan siswa lainnya yang aktif kesana kemari sehingga tidak ada pilihan lain selain harus belajar secara online di rumah. Setiap harinya pemerintah negaraku selalu mengingatkan akan proteksi diri yang harus dilakukan selama di tengah situasi pandemi saat ini seperti menerapkan protokol kesehatan di berbagai fasilitas publik, mengeluarkan kebijakan mengenai pembatasan sosial berskala besar, menggunakan masker, dan masih banyak lagi langkah pemerintah yang dianjurkan untuk dipatuhi oleh masyarakat. Aku sendiri pun harus mematuhi protokol kesehatan dari pemerintah negaraku dengan menerapkan cuci tangan setiap memegang benda yang banyak disentuh orang ataupun setiap melakukan aktivitas di luar rumah, lalu aku menggunakan masker dan membawa hand sanitizer kemanapun aku akan pergi karena aku tahu banyak ancaman penyebaran virus di luar sana. Namun, satu hal yang sangat kusayangkan adalah masih banyak orang di luar sana belum sadar betapa pentingnya untuk menjaga kebersihan dan kesehatan di tengah pandemi saat ini. Aku banyak melihat ketika aku harus pergi ke pasar dan menemukan banyak orang masih tidak menggunakan masker serta tidak menjaga jarak sebagaimana mestinya. Aku memahami bahwa menyadarkan setiap orang itu tidaklah mudah tetapi aku bisa memulainya dengan menyadarkan dari diri sendiri sehingga ketika orang sudah melihat kesadaran kita betapa pentingnya menjaga kesehatan demi proteksi diri di tengah pandemi maka akan banyak yang juga ikutan sadar seperti aku. Seperti itulah sepenggal ceritaku dan tetap selalu menjaga kesehatan bagi siapapun yang membaca cerita ini.
Nama: Ari Diah Nur Ayuni NIM: A310200041 Kelas: 5A Mata Kuliah: Menulis Kreatif Karya: Antologi Puisi
Yang Berharga Bagi Kita
Tahukah kamu … Apa yang paling termurah? Apa yang sangat murah hingga tidak berharga? Apa yang mudah dipertahankan tetapi suka diabaikan?
Tentu saja … Sehat jawabannya, hanya sehat Harta dan waktu sebanyak apa pun Akan sirna karena sakit Betapa menyenangkannya hidup sehat Dapat beraktivitas dengan riang Jadi, jangan biarkan sakit menghampiri Karena sehat itu sangat murah
Nama: Ari Diah Nur Ayuni NIM: A310200041 Kelas: 5A Mata Kuliah: Menulis Kreatif Karya: Antologi Puisi
Ayo Hidup Sehat Mulailah dari sekarang Makan makanan yang bergizi Memakan sayur Memakan buah Jangan kau malas, ayo makan makanan yang bergizi Untuk tubuh yang sehat Berikan yang terbaik untuk kesehatanmu karena pada tubuh yang sehat, ada jiwa kuat Aku tidak mau sakit Rasanya pahit Tubuhku tak berdaya Lemas dan bertenaga
Aku berjanji pada ibu Akan makan makanan yang bergizi Banyak minum air putih Tidur yang cukup Tak akan jajan sembarangan lagi Untuk semuanya Ayo jaga kesehatan dari sekarang Cintai tubuhmu, sayangi kesehatanmu Karena sehat itu mahal
Nama : ERNAWATI NIM : A310200105 Kelas : 5B Mata kuliah : Menulis Kreatif Karya : Naskah Lakon
Naskan Lakon Cerpen “Alkisah Sal Mencari Kang Mad” Karya Ahmad Tohari Babak I (Rumah Nenek Nyami) Kang Mad, Santoyib, dan Kantun duduk mengelilingi meja dalam kegelapan malam. Mereka berbicara dengan berbisik agar suara mereka tidak menembus keluar dinding. Adegan 1 Santoyib: (hendak menggulung tembakau dengan kulit jagung) Kantun tolong nyalakan pelitanya!. Kantun: (mengangguk) Adegan 2 Terdengar suara burung bence mencecet terbang melintas di atas rumah. Kang Mad cepat meniup pelita dan segera melompat keluar melalui pintu belakang. Santoyib dan Kantun roboh terkena tembakan tentara Belanda dengan tubuh saling tindih di tanah. Babak II (Rumah Sal) Adegan 3 Sal: (gemetar ketakutan sambil menangis) Tuhan semoga kau selalu melindungi Kang Mad suamiku. Babak III (Rumah Nenek Nyami) Adegan 4 Terdengar rintihan orang dari rumah Nenek Nyami. Itu suara Kantun. Dia terus mengerang. Nenek Nyami keluar dari persembunyian di kolong balai-balai, lalu memangil-manggil siapa pun yang bisa mendengar. Lampu dinyalakan. Dua tubuh lelaki bertindihan di tanah. Sal: (segera memburu) Kantun dan Santoyib. Kang Mad di mana? Dibawa tentara Belanda? (Sal menangis dengan suara tertahan-tahan sambil mendekap bayinya). Seorang tetangga datang membawa kain sarung berlumur darah. Sal: (menjerit dan bayinya ikut menangis) Haaaaaaa! Tetangga: Sarung kutemukan di belakang rumah ini. Jangan menangis. Tadi saya mendengar suara orang berlari ke arah sawah. Itu pasti Kang Mad. Sal: Kang… Kang Mad lari? Dan sarungnya berdarah-darah? Tak seorang pun menjawab pertanyaan Sal. Semua sibuk mengurus mayat Santoyib, dan Kantun terus mengerang-erang. Sal: (menarik tangan Limun, adiknya) Temani aku mencari Kang Mad. Ayo cepat! Mendengar suara Sal, semua orang menoleh, lalu menegakkan punggung. Tampaknya tak ada yang menyetujui niat Sal. Juned: Jangan, biar saya yang mencari Kang Mad. Nenek Nyami: Eh iya! Kamu, Sal, jangan ke mana-mana. Kamu perempuan dan punya bayi yang baru lahir. Wanti-wanti jangan. Juned: Benar, meski kena tembak ternyata Kang Mad masih bisa lari. Dia orang kuat. Di Dukuh Kidul ini dia jadi jagabaya. Kang Mad juga pesilat tangguh. Percayalah, Kang Mad bisa menyelamatkan diri. Adegan 5 Mayat Santoyib dimandikan, disalati, dan dikubur dengan sederhana di pekarangan. Semua dilakukan dengan tergesa karena takut tentara Belanda datang lagi. Kantun dibawa Juned, katanya akan dicarikan obat. Babak IV (Rumah Sal) Adegan 6 Sal gelisah sambil menggendong bayinya. Tekadnya sudah bulat untuk pergi mencari kang Kang Mad. Sal: (membangunkan Limun yang sedang tidur) Limun ayo bergegas kau harus ikut denganku untuk mencari Kang Mad. Babak V (tepi sungai) Adegan 7 Sal masih berdiri termangu memandang aliran sungai yang deras. Mbok Makri: Hai, kamu Sal istri Mad kan? Sepagi ini kamu mau ke mana? Jangan menyeberang, bahaya. Sal: Tolong bantu saya menyebrang sungai mbok. Saya ingin mencari Kang Mad Mbok Makri: Kamu sungguh ingin menyeberang untuk mencari Kang Mad? Sal: (mengangguk) Mbok Makri: Baik. Sekarang serahkan bayimu kepada Limun dulu. Kamu akan saya bawa berenang ke seberang. Ayo! Babak VI (Rumah Mbok Makri) Adegan 8 Mbok Makri: Saya akan menemukan suamimu. Saya tahu tempat-tempat rahasia para pejuang di hutan jati. Sal: (mengangguk) Mbok Makri: Sekarang urus dulu bayimu dengan baik di sini. Lihat bayimu sudah amat kurus dan kudis memenuhi kulit sampai ke pelupuk mata. Kamu berhari-hari tidak memandikannya. Kamu tega? Bagaimana kalau bayimu mati karena terus kamu bawa-bawa sambil mencari suami? Ah, saya tidak tega. Maka dengar ini. Karena merasa amat kasihan, hari ini saya jadikan bayimu sebagai anak akuanku. Sal: (menangis tersedu) Adegan 9 Terdengar ada suara garukan di dinding bambu di luar bilik. Mbok makri dan Sal terbangun dari tidur. Kang Mad masuk merangkul Sal dan mengelus kepala Sal.
Nama: Aulia Nisatul Arifah NIM: A310200024 Kelas: 5A Mata Kuliah: Menulis Kreatif Karya: Antologi Puisi
Tema: Semangat Meraih Mimpi Banyak kerikil-kerikil tajam yang ku lalui Banyak udara dingin pagi yang menusuk tulang ini Walau banyak rintangan yang telah aku jalani Hingga hujan deras membasahi tubuh ini Semua rintangan tidak membuatku untuk menyerah Semakin semangat aku berlari menuju sekolah Semakin dekat gapaian Untuk masa depan yang aku impikan
Tema: Puisi Semangat Anak Pemuda Kini kitalah yang menjadi penerus bangsa Penerus para pahlawan bangsa kita untuk merdeka Mengutamakan pendidikan dengan mengukir prestasi Dengan mengharumkan negeri kita ini Ayo bergerak untuk maju! Kuatkan tekat menjadi satu! Jangan menyerah sebelum mencoba! Tunjukan bahwa kita pemuda Indonesia
Tema: Puisi Cinta Katakanlah cinta dalam bentuk apapun Bawalah aku pergi kemanapun Dengan memberikan sebuah kepastian Rasa cinta dan kasih sayang yang aku himpun Berikan semua rasamu kepadaku Aku ingin hilangkan rasa lelahku Denganmu aku merasa bahagia Jika tidak denganmu aku merasa hampa
Nama : Anisyah Febiola NIM : A310200147 Kelas : 5B Mata Kuliah : Menulis Kreatif Karya : Antologi Puisi
1. Judul : Cinta Bertepuk Sebelah Tangan Cinta ini, adalah rasa yang tak direstui Semesta menganggapnya pura pura, padahal wujudnya bisa dilihat oleh mata Katanya, aku terlalu berani. Berani menaruh hati pada wanita jelmaan bidadari ini. Maaf ya jika bagimu aku tak tahu diri. Begitu berambisi untuk mengisi ruang hati yang padahal sudah ada yang memiliki Meski berulang kali diingatkan untuk berhenti, Masih saja berharap pada cinta yang tak tahu ke arah mana akan bermuara Dan masih saja percaya bisa bersama selama janur kuning belum melengkung katanya Apakah memang aku akan beruntung atau alam menyuruhku menikung?
2. Judul : Tidak Sengaja Jatuh Cinta Tentang hari itu,, Kala itu aku sedang duduk tersudut di ujung ruangan Yang hanya berdiam meratapi genangan Sembari sesekali memikirkan kenangan Tapi kemudian kamu tiba tiba masuk ke dalam ruangan itu dengan begitu sopan Langkahmu yang nyaris tak terdengar hampir saja membuatku mati penasaran Dengan baiknya kamu menyalakan lilin di tiap celah Dan kemudian memancarkan cahaya yang amat cerah Pesonamu yang menyilaukan pandangan membuat manusia yang lemah sepertiku menjadi tak berdaya Bahkan bayanganmu saja sudah mampu membuat duniaku kembali utuh seperti sedia kala Suaramu yang begitu menggoda makin membuatku larut dalam fatamorgana Sampai akhirnya aku tersadar, jika aku tak sengaja jatuh cinta
3. Judul : Ketidaksengajaan yang Keterlaluan Hai, maaf yah kalau kehadiranku ini lancang. Tiba tiba saja datang dan membuatmu agak terguncang. Tapi mau bagaimana lagi, hatiku tidak bisa bohong kalau ternyata dia tidak lagi kosong. Awalnya aku tidak tahu kalau rasa ini punya nama. Aku hanya mengira jika dia hanya mampir begitu saja. Jatuh cinta ini melelahkan. Bertahan sakit, tapi memilih pergi juga sulit. Rumit. Sepertinya Tuhan hanya menakdirkan ku untuk mencintai, bukan memiliki. Tapi kalo boleh memaksa, aku mau ada kesempatan kedua. Dan aku mau tetap kamu orangnya.
4. Judul : Diam dan Dalam Kembali pada titik pertama, dimana semua kisahnya bermula Berdiri dari kejauhan memandangi bidadari yang berwujud seorang wanita Sembari menahan rasa yang sudah menggebu minta ditakdirkan bersama Senyumnya menyilaukan dunia, Iya, dunia. Duniaku yang masih saja abu abu setelah menghabiskan langitnya yang biru Maafkan manusia tidak tahu diri ini ya Terlalu lancang mencintai dan teramat memaksa agar bisa memiliki Aku memang sudah sampai di titik tidak baik baik saja karena mencintaimu Jangankan untuk bertemu, mendengar namamu disebut itu sudah bisa mencekik tenggorokanku Kalau kamu mau tahu gila karena cinta itu seperti apa, yaa aku inilah orangnya.
5. Judul : Aku dan Kamu Aku bukan manusia romantis Tapi bisa dibilang jika aku insan puitis Ini hanyalah sebait kata untuk seorang pria dewasa yang menyebut dirinya mempesona Kamu,, Malam kemarin masih terlalu lekat kuingat tentang panjangnya doa yang kupanjat Bukan tentang aku ataupun hidupku Tapi tentang namamu yang hampir setiap saat menghantuiku bahkan sampai di lembaran baru Aku sudah mendengar darimu jika ternyata hatimu masih belum sepenuhnya sembuh Ruang yang kala itu kau siapkan untuk cinta kedua ternyata hanya berakhir dengan segudang pengkhianatan yang terisi penuh Bahkan ketulusan yang ada masih saja utuh tak tersentuh
Nama: Nimah Puji Lestari NIM : A310200143 Kelas : 5B Mata Kuliah : Menulis Kreatif Karya : Antologi Puisi
1) Bahasa adalah rasa
Bahasa adalah rasa Bahasa gambaran jiwa Bila bahasa mu indah kurasa Ketenangan pun ku dapat
Kurasa perlu kita memirsa Baik buruknya Ada banyak yang tidak benar Memang.... Bahasa akan bermakna Bila tidak seenaknya
Marii kita tingkatkan Agar bahasa kita tidak pudar Biarkan abu-abu Jangan biarkan menjadi abu
Mudah kurasa bila kita bersama Tingkatkan literasi bahasa Menjadikan bangsa berbahasa Memperindah tampilan frasa Mengkualitaskan kiasan lisan
2) Secarik Kertas Putih bersih Ada garis horizontal Perapi tulisan manusia Banyak rasa terukir disana Tentang suka dan duka Perasaan tumpah ruah Terkadang mulut tertutup Tangan bergerak Entah apa perasaannya
3) Permintaan Sejuta kata kuminta Berulang-ulang kuucapkan Mungkin bosan Namun itulah permintaan Aku meminta Teguhkan inginku Perluas jalanku Aku menginginkanmu Menemani perjalananku
4) Kaya Terlihat Ingin terlihat berada ingin menunjukkan Ternyata tidak ada Semestinya biasa saja Tidak usah memaksa Kamipun tidak meminta Apalagi memaksa Tidak usah menjadi kaya Bila hanya kias mata Semuanya akan terbuka Bila tidak nyata
5) Punya tapi tidak ada ?
Banyak hal yang saya punya Tidak Semua saya miliki Ada namun tidak ada Bingung tapi apa penyebabnya
Apakah boleh Mungkin saya merasa ragu? Mengapa saya tidak boleh ragu ? Lantas bagaimana ku menepis raguku?
Ah.. Ini hanya coretan tinta Berisi tumpahan rasa Banyak yang tidak menyapa Bukan tidak bersyukur Hanya punya tapi tidak ada.
6) Alhamdulillah
Anak bungsu lahir di dunia. Perempuan yang hadir Menyapa dunia fana. Ketika hari menuju pagi
Hidup beriringan dengan usia Memang usia hanya sekedar angka Mamun tuamu kini terlihat Keriputmu Mata Kini mulai ada
Apa yang bisa kuberi Aku maan memberimu beban waktumu untuk istirahat menikmati masa tua Namun hadirku merubahnya Mengeluh pun Kau tak pernah Alhamdulillah. Semoga lelahmu menjadi lillah.
Nama: Ahmad Sani Saefur Rohman NIM: A310200042 Kelas: 5A/PBSI Mata Kuliah: Menulis Kreatif Karya: Antologi puisi"kata" dan memoar
1. judul : indah pada masanya
berkerja keras demi sesuap nasi berkerja keras demi masa depan yang indah akan tetapi semua akan musnah bila tidak serius menatap masa yang akan datang yang indah....
2. judul : kekasih bayangan kupejamkan mata ku teringat kamu disaat kulihat foto itu kenangan mu seakan mengadu adu di hatiku yang membuatku menjadi rindu
3. judul : mahasiswa kupu kupu pulang pergi kekampus tanpa kegiatan berarti memahami materi kelas yang monoton dan absurd tetapi tetap tahan akan hal tersebut...
4. judul : kekasih yang tak kembali ku pernah bahagia denganmu kupernah mengukir kenangan bersamamu yang teringat dalam sanubariku akan tetapi engkau tak kembali karena sudah sah dengan dia
Nama: Ahmad Sani Saefur Rohman NIM: A310200042 Kelas: 5A/PBSI Mata Kuliah: Menulis Kreatif Karya: Antologi puisi"kata" dan memoar
5. judul : sepatu tua kupakai dengan senangnya saling berbagi susah senang sama sama kehujanan sama sama kepanasan tapi engkau tak mengeluh atau menyerah sampai engkau kusut dan tak berbentuk...
6. judul : kerlap kerlip pasar malam kuberjalan mengitari tempat itu tanpa sedikitku memejamkan mata tanpa sedikitpun ku lewatkan pemandangan itu yang indah dan mempesona... yang terang gemilang... membuatku senang dan gembira...
7. judul : karpet tua biasa ku duduk disitu biasa ku injak injak akan tetapi engkau tak berkutik pernah juga ku tumpahkan minuman tapi engkau tak berkutik tapi engkau memberikan kehangatan dan keindahan dalam ruangan....
8. judul : rumah reyot engkau merupakan nasi yang merupakan hal wajib bagiku untuk menghindari panas menghindari hujan menghindari tidur diluar menjadi gelandangan kegiatanku separuh kuhabiskan denganmu yang merupakan bagian dari diriku....
9. judul : sikat gigi yang usang ku gosok gigiku tiap hari yang bau jigong maupun bau tai tetapi engkau tak menggubris dan selalu ada untukku tanpa protes maupun ngambek ohh sikat gigiku...
10. judul : gitar pertamaku tiap hari kupetik tiap hari ku genjreng tiap hari ku bawa tiap hari ku rawat bagaikan anakku sendiri karena itu gitar pertamaku...
Nama: Ahmad Sani Saefur Rohman NIM: A310200042 Kelas: 5A/PBSI Mata Kuliah: Menulis Kreatif Karya: Antologi puisi"kata" dan memoar
11. judul : sepeda dari ayah tercinta oh cinta oh ayah ku menuruti kemauanku untuk menunggangi sepeda baru dari pemberian ayah tercinta tanpa pamprih ayah bekerja untukku terima kasih ayah....
12. judul : Putus cinta sakit perih semua menjadi tabu menjadi sirna karena aku tak bisa mempertahankan dia
13. judul :terduakan disini aku sendiri karena dia sudah menjadi milik dia menjadi hak dia walaupun sementara tapi aku kalah dalam segala hal
14. memoar
masuk osis sma
waktu itu aku ikut pendaftaran osis karena iseng dan aku suka berorganisasi sehingga aku memutuskan ikut osis dengan masuk ke jalur ketua osis dikarenakan itu aku memiliki rencana agar lewat itu menjadi lebih sedikit pesaingnya dan menjadi lebih seru dan lebih baik dalam pensleksian.
sehingga ketika aku keterima aku sangat bahagia dan senang dengan diterimanya itu. dan aku sangat bahagia dan sangat gembira dikarenakan aku dapat menjelajah pengalaman pengalaman baru lagi dan aku dapat mengurangi dan menyirnakan ketakutanku di depan publik dan itu merupakan salah satu rencana ku dalam jangka yang panjang.
Nama: Kurniati Ayu Ningsih NIM: A310200044 Kelas: 5A Mata Kuliah: Menulis Kreatif Karya: Cerpen
BUNGKUSAN Luri dan Santi berjalan menyusuri gerbang sekolah, matanya tertuju pada bungkusan yang tengah tergeletak dipinggir jalan. Mereka tengok kanan kiri (Gak ada yang tahu). Lalu menghampiri bungkusan itu. Syutt!! Bungkusan itu bergerak dekat mereka, syutt!! Bungkusan itu bergerak lagi. Dengan penuh rasa penasaran, Santi mencoba menggapai-gapai bungkusan itu kembali (mirip orang nangkap kodok di sawah) Santi pasrah dan tiba-tiba Adi datang. Sambil berjalan kea rah Lurid an Santi. “Luri aku penasaran dengan isi bungkusan itu” sambil menunjuk bungkusan itu. “Jangan di buka, siapa tau itu berbahaya.” Kata Luri “Tidak akan berbahaya kalau kita membukanya” Santi masih memaksa. Mereka terus berdebat antara ingin atau tidak membuka bungkusan itu. Tiba-tiba Adi datang dari arah belakang. “Kalian sedang meributkan apa?” Luri dan Santi pun berbalik kea rah Adi. “Kita menemukan bungkusan yang sangat mencurigaka, aku ingin membukanya tapi, Luri terus melarangku!” Jelas Santi. Adi pun melihat kearah bungkusan itu. “Menurutku apa yang dikatan Luri benar, kalau isi bungksan itu berbahaya.” Luri dan Santi pun terkejut dan sedikit was-was. “Memangnya apa isi di dalam bungkusan itu?” Tanya Luri dan Santi, “Bisa saja isi dalam bungkusan itu adalah bom, karena baru saja aku membaca berita ada orang yang menemukan sebuah bungkusan dan ternyata isinya bom.” Luri dan Santi pun merasa takut jika dekat-dekat dengan bungkusan itu. Luri pun memberi saran bagaimana jika mereka memanggil Pak Parmo yaitu satpam di sekolahan itu “Bagaimana jika kita panggil Pak Parmo saja, agar dia saja yang membuka bungkusan itu” kata Luri. “Ide yang bagus” jawab Adi dan Santi “Baiklah akan aku panggilkan” Luri prig memanggil pak satpam. Tak lama Luri dan Pak Parmo datang. “Ada apa Bapak di ajak kemari?” Tanya Pak Parmo, “ini Pak kami menemukan bungkusan tapi tidak berani membukanya karena takut isinya bom” jelas Adi. Pak Parmu pun panik dan menyuruh mereka untuk membuka bungkusan itu. “Tidak Pak!” jawab mereka bersamaan “lebih baik Bapak saja kan Bapak lebih besar dari kami” kata Santi “iya Bapak saja kami takut membukanya” jawab Luri. “Baiklah Bapak saja yang buka” Akhirnya Pak Parmolah yang membuka bungkusan itu, mereka was-was saat Pak Parmo telah membuka bungkusan itu. Namun, setelah diihat mereka terkejut dan tertawa melihat isi dari bungkusan itu. Ternyata isi dari bungkusan itu adalah seekor kucing.
Nama: Kurniati Ayu Ningsih NIM: A310200044 Kelas: 5A Mata Kuliah: Menulis Kreatif Karya: Cerpen
TINGGAL KENANGAN Pagii itu sangatlah cerah, mentari pagi muncul memancarkan sinar cerah dengan semangat 67 eh semangat 45 maksudnya. Sama denganku, hari ini adalah hari ulang tahun orang yang sangat aku kagumi bahkan kucintai. Semua sudah aku persiapkan termasuk kue ulang tahun serta kadonya. Aku masuk ke kelas dengan hati gembira dan bibir tersenyum-senyum sendiri. Kakiku melangkah tepat di depan pintu masuk kelas dan disambut ceria oleh sahabat-sahabatku Sri dan Fitri. Yaps! Hamper lupa, aku Ayu kepanjangan dari Ayu Putri Rantika. Cewek manis berkumis tipis yang kini sedang dilanda asmara cinta. “Ciee yang senyum-senyum sendiri, kenapa? Sakit?” ucap fitri sambilmenekan tangannya ke jidatku. “apaan sih Fit, emang aku gila” ucapku (memanyunkan bibir 5 meter). Ya mungkin, ya gak Sri?” Ucap Fitri melirik Sri “Betul, kenapa kamu Yu?” ucap Sri. “Hari init uh hari sepecial banget buat aku, aku mau bikin surprise buat pangeran cecakku” ucapku panjang lebar sambil bayangin apa yang akan terjadi nantinya. Pangeran cecak? Ya, pangeran cecak adalah cowok yang aku kagumi selama ini. Aku juluki pangeran cecak karena dia super duper takut sama cecak, namanya Farid. Bel aktu istirahat pun tiba, siswa-siswi berbondong-bondong ingin memanjakan lidah dan juga perutnya yang dari tadi demo minta makan. “Hay guys, doain aku ya. Semoga rencana ini sukses berjalan mulus semulus jalan tol, amin” ucapku. “Oke, tuh ada Farid kebetulan banget deketin gih” ucap Fitri. “Sukses ya say” ucap mereka berdua serentak serta kepala dimiringkan ala-ala Rita Sugiarto penyanyi dangdut. Aku berjalan dengan pedenya sampai gak lihat ada batu di depanku, untungnya gak jatuh, kalau jatuh malu dong sama pangeran cecakku. Setelah melewati lorong-lorong kelas, aku melihat Farid lagi berduaan sama Billa cewek yang paling aku benci karena gayanya yang kecentilan, sok cantik, sombong pokoknya aku ilfeel banget deh sama dia. Tanpa sadar kue dan kadonya jatuh ke lantai, aku berlari cepat mungkin sambil nangis. Aku melihat ekspresi Sri dan Fitri kebingungan dengan tingkahku yang mula ceria berubah drastis menjadi duka membara. “Ayu, kamu kenapa?” ucap Sri sambil memelukku. “Farid sama Billa berduaan mereka mesra banget” ucapku terbata-bata. “Udahlah cari yang lain, masih banyak kok” ucap Fitri. Sepulang sekolah kurebahkan tubuhku di kasur empuk milikku. Kutatap langit biru kamarku. Pikiran itu selalu terngiang-ngiang dimemori otakku. Kubangkitkan tubuh ini menuju meja belajar. Pena menari-nari amat lambat di atas kertas polos putih. Kutulis kata puitis yang berisi sesuai isi hatiku. Tinggal kenangan. Kuukir namamu dalam hatiku Agar hati ini tak dalam kekosongan. Meskipun kau telah menodai hati ini, Akan kuhapus dengan sejuta air mata. Aku rela mentari membakar kulitku Aku rela kebahagiaanku kuberikan padamu Asal kau bahagia. Namun itu dulu Sekarang sudah terbalut oleh balutan kenangan. For Farid (pangeran cecakku) Pagi ini mendung, mentari enggan tuk memancarkan sinarnya, sama dengan hatiku. Mungkin mentari mngerti apa yang sedang aku rasakan. Aku berjalan sempoyongan dengan mata sembab gara-gara menangis semalaman menuju kelasku disambut oleh sahabat-sahabatku. “Ayu kamu jangan begitu dong, kita kan juga turut sedih jadinya. Strong bro move on bangkit dari keterpurukan ini” ucap Sri menenangkanku. “Dan kamu jangan kaget ya, kalau Farid sama Billa sudah jadian kemarin. Aku tahu berita ini dari Salsa teman sekelas kita” ucap Fitri. “Iya makasih ya sahabat-sahabatku. Kalian itu orang yang selalu support aku, aku sayang kalian. Aku akan move on dari farid dan selalu bersama kalian” ucapku menangis terharu. Kita bertiga saling berpelukan. Sahabat bukanlah selayaknya pacaran yang dapat putus atau nyambung. Namun, sahabat adalah persatuan yang abadi.
Nama: Kurniati Ayu Ningsih NIM: A310200044 Kelas: 5A Mata Kuliah: Menulis Kreatif Karya: Cerpen
DIET BERAKHIR GILA Adalah Alfy, yang hanya bisa mengejar tukang bakso dengan pandangannya yang pilu. Alfy merupakan mahasiswa yang bisa dikatakan maniak weight loss, yang mengatur diet sehat dan diet ketat. Hari-hari ia isi dengan konsumsi makanan penuh gizi dan kalori, plus dengan hati yang tidak menikmati. Alfy tidak menyadari bahwa ia tidak terlahir kurus, kedua orang tuanya gemuk, kecuali satu orang, yaitu Rasyid, si bucin yang humoris. Namun Alfy percaya dengan motivasi dari seminar bisnis multilevel yang pernah digelutinya 5 bulan lalu, “tidak ada yang tak mungkin, jika kalian ingin mencapai sps ysng kslisn inginkan, dan sukses diusia muda” Tentu saja sukses bagi Alfy tidak pernah berhasil adalah nafsu makan yang sama besar dengan badan, memang ia memakan sayur, dengan porsi yang sangat banyak. Suatu hari ia membaca sebuah artikel “Tertawa dapat membakar lemak” dan sangat serius menaggapi. Alfy sama dengan kedua orang tuanya, pemurung dengan muka berlemak sulit dibuat tertawa. Namun hari saat ia membaca artikel itu adalah hari dimana ia seolah terlahir kembali. Alfy menjadi pribadi yang gampang sekali tertawa, bahkan saat seseorang berbicara serius (pada saat itu Alfy menerima caci maki), sikap Alfy yang berubah tentu mengundang berbagai penafsiran dari masyarakat, dan didominasi oleh pandangan bahwa ia telah gila.
Nama: Kurniati Ayu Ningsih NIM: A310200044 Kelas: 5A Mata Kuliah: Menulis Kreatif Karya: Cerpen
BULAN Dia, duduk di samping jendela, dibawah sinar lampu yang temaram. Mencoba memandang langit yang gelap, hanya ada bintang yang memantulkan sebagian dari cahaya matahari. Tak ada bulan yang terlihat, semua bersembunyi di balik awan, barangkali malu untuk kulihat, katanya dalam hati seraya tersenyum. Angin malam berhembus sepoi-sepoi, seolah menghembuskan udara pada wajahnya yang lembut. Awan bergerak perlahan, memberikan seni tersendiri di kegelapan malam. Ahh, ternyata ada satu bintang di balik wan, senyumnya tersungging di balik bibirnya yang mungil. Ya Rabb, ternyata setitik cahaya pun bisa memberikan keindahan yang luar biasa diantara luasnya langit yang gelap di malam hari. Ah, seandainya keyika membuka jendela, memandang langit dan tak menemukan bintang kemudian dia tak mencoba menatap awan tapi menutup jendela kembali, dia tak akan menemukan bintang yang tersembunyi di balik awan. Seperti setitik bintang di kegelapan malam, terkadang kita tak menyadari ada cahaya kecil dalam malam yang gelap, yang kita berinama “bulan”. Betapa indahnya cahaya itu walaupun tak bisa menerangi malam. tapi, lain halnya ketika kita melihat ada setitik noda di atas kain putih yang membentang kita justru terfokus pada noda yang kecil, dan seolah lupa betapa bersihnya kain itu terlepas dari setitik noda yang ada, yang mungkin bisa hilang hanya dengan sedikit detergent pemutih. Itulah hidup, kadang-kadang kita lupa untuk memandang sesuatu dari sisi lain yang demikian.
Nama: Kurniati Ayu Ningsih NIM: A310200044 Kelas: 5A Mata Kuliah: Menulis Kreatif Karya: Cerpen
SURAT CINTA DAN SETANGKAI MAWAR Aku mengintip dari balik pohon beringin, agak jauh dari gadis itu. Ia masih duduk bersimpuh di sana. Wajahnya terlihat serius. Tangan indahnya terlihat sedang menggoreskan tinta ke selembar kertas yang ia bawa dari rumah. Kulihat sebutir air mata jatuh ke pelupuk matanya dan diikuti tetes-tetes air mata berikutnya. Ya, dia pasti menulis surat lagi. Beberapa menit berlalu, dia pun menyelesaikan suratnya dan memasukkannya kedalam sebuah amplop merah muda. Aku tetap pada posisiku. Gadis cantik itu pun berdiri, mletakkan amplop itu di tempat biasa, tersenyum, kemudian beranjak pergi. Ketika dia sudah tak terlihat lagi, dengan langkah hati-hati aku mendekati tempat dimana dia meletakkan suratnya tadi. Kuambil surat itu, kubuka perlahan dan mulai membacanya… Kepada: Arif Abi Ketika aku menulis surat ini, suasana di sekelilingku sangat sepi, Rif. Aku tak pernah berpikir sebelumnya, bahwa kesepian ini kamu rasakan setiap hari. Aku merasa menjadi perempuan tak berguna karena tak bisa selalu menemani kesendirianmu. Maafkan aku hanya bisa datang setiap sabtu pagi hanya sekedar melepas kerinduanku padamu. Aku benar-benar rindu, Rif… Hari ini, aku ingin menceritakan banyak hal ke kamu… Arif, kamu pasti ingat dulu kamu pernah berkata bahwa kamu ingin memiliki sebuah rumah yang letaknya jauh dari keramaian. Ketika itu kamu berkata, kamu ingin hidup di sana bersama orang yang kamu sayang dan kamu berkata orang itu adalah aku. Percaya atau tidak, sekarang rumah itu sudah ada, Rif. Aku bangun rumah itu dengan hasil keringat aku sendiri. Walaupun sepenuhnya aku sadr, kamu sudah damai hidup sendiri di sini, tapi setidaknya aku berhasil mewujudkan salah satu keinginan kamu. Semoga kamu terkesan, Rif… Oh iya, Rif, dua hari yang lalu aku menerima seikat bunga dari Kakak kamu, Kak Rendy. Awalnya aku kira itu hanya sebagai ucapan selamat dari Kak Rendy atas kelulusan aku. Tapi ternyata, Kak Rendy mengungkapkan perasaannya ke aku, Rif. Jangan marah dulu, beneran setelah itu, aku langsung mengembalikan bunganya. Aku berkata bahwa aku tidak bisa. Aku hanya menganggapnya sebagai seorang Kakak. Sebenarnya, ada alasan yang lebih dari itu dan dia pasti tau, Rif. Aku jadi teringat kamu, Arif. Ketika kamu mengungkapkan perasaan kamu ke aku, kamu kasih aku setangkai mawar karena kamu sangat tau aku tidak suka coklat. Pokonya kamu itu orang yang paling bisa ngerti aku dan selamanya kamu takkan pernah tergantikan… Rif, sebenarnya surat ini tidak sama seperti surat-suratku sebelumnya. Surat ini bukan hanya surat cinta, tetapi juga surat perpisahan. Arif, entah aku harus bahagia atau berduka ketika mengatakannya. Aku akan pergi, Rif. Aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S2 di Jepang. Aku akan mewujudnkan satu lagi keinginan kamu. Keinginan kamu untuk menulis nama kita berdua di puncak Gunung Guji. Di Jepang nanti, aku akan menghuni rumah impian kamu itu, Rif. Rumah impian kita berdua. Aku tidak sendirian disana. Aku percaya banyangan kamu selalu ada di samping aku… Arif, ini berarti aku harus meninggalkan kamu di sini sendirian. Selama beberapa tahun ke depan aku tidak bisa melakukan ritual Sabtu pagi mengunjungimu. Jujur, aku sedih, Rif. Tapi aku yakun jalan yang aku ambil ini akan bahagiakan kamu dan kedua orangtuaku. Doakan saja aku dari sini… Rif, kamu lihat, matahari di sini mulai tenggelam. Ini adalah waktu favorit kita, Rif. Senja. Mungkin saatnya aku pulang. Seperti biasanya, bersamaan dengan surat ini kusertakan setangkai mawar kesukaanmu. Kuletakkan dibawah nisan yang berukir indah namamu… Aku pamit, Sayang. Selamat tinggal. Doakan aku supaya tetap bahagia. I Love You More, Arif… Terdalam, Resyta Feronica J. (Reyta)
Tanpa sadar, aku berurai air mata usai membacanya. Aku baru menyadari sepenuhnya bahwa gadis itu masih belum bisa lepas dari Arif, adik lelakiku yang kini telah hidup damai di akhirat sana. Tiba-tiba aku menyesal pernah mengungkapkan perasaanku padanya karena aku sekarang yakin cinta mereka berdua abadi meskipun salah satu diantaranya sudah pergi dan tinggal sebuah nama. Aku melirik coklat yang tergeletak tepat di bawah nisan adikku. Kemudian kuusap air mataku, tersenyum, dan bertekad memendam seluruh perasaanku pada gadi itu. Resyta, aku berjalan mundur…
Nama: Nofiko Azalea Inzaghi NIM: A310200102 Kelas: 5. B Mata Kuliah: Menulis Kreatif Karya: Antologi Puisi I. UKEL
Pesona ukel lengger…
Jarinya bagaikan tiang monas
Kukunya bagai lentera dikegelapan
Gemulai indah geraknnya
Gerak jari bagaikan mendayung
Memutar bagaikan roda kereta kencana emas
Terpancar gerakannya bagaikan dewa
Memikat penikmat pelihat
II. LAKSAMANA CHENG HO
Penggembara laksamana cheng ho
Gedong batu simongan saksimu
SAM POO KONG klenteng bernama
Yang bertengger diSemarang
Sam Poo Tay Djien dan Sam Po Tao Lan
Nama lainmu yang terkemuka
Ekspedisi menjadi saksi perjalanmu
Dalam mengitari dunia
Wargamu tionghoa etnis
Musafir agama islam jalnmu
Islam pernah kau kibarkan
Namun dunia masih mepertanyakannya
III. SANG MATAH ATI Laskar Prajurit Wanita
Rubiyah sang prajuritnya
Menggempur VOC tujuannya
Bersama mas said melawannya
Olah prajurit wanitamu
Dianggap lebih mumpuni dari pariamu
Teliti dan luwes menjadi pesonamu
Mampu memikat sang RM said mencintaimu
TIJI TIBEH
Mati Siji Mati Kabeh
Mukti Siji Mukti Kabeh
Semboyan penggerak arah
IV. PESONA BUMI KAYANGAN
Tempatmu didataran kayangan
Negri elok menagjubkan
Bagai kahyangan
Bumi banjarnegara yang idamanan
Sungguhku bersyukur padamu
Atas citptaanmu duh tuhan…
Sembah sujudku padamu tuhan
Kami ucapkan teriamkasih
Disana terdapat situs tua bebatuan megah
Disana terdapat hamparan savana luas
Disana terdapat cerita legenda kawah
Disana menyimpan panorama rahasiamu tuhan
Dieng….
Pesonamu bagai nesgri kayangan
Yang terbentang didunia nyata
Terimakasih pencipta V. DAWET AYU
Hijau-hijau yang berrenang
Putih-putih yang menggenang
Coklat-coklat yang terbentang
Didalam kolam cengkir
Segar bagaikan udara pagi
Penghilang dahaga dikala siang
Pelipur rindu ketika teringat
Akan kampung halamanku
Pesona dawet ayu
Minuman negri banjarnegara
Yang penuh akan kenikmatan
Dalam setiap tegukan
Nama: Ananda Nur Aprilia Ika Widyaningsih NIM: A310200154 Kelas: B Mata Kuliah: Menulis Kreatif Karya: Antologi Puisi
1. Delusi Tidak perlu menghakimi Berkacalah Nyatanya kau bagai buruk rupa Menjelma bagai dipuja sosok dewa dewi Berlindung dibawah topeng ilusi Berdelusi tuk dipuja Dengan khayalan fantasi
2. Jalan-Mu Tuhan..... Apa arti hidupku ini Kurasa! Hidupku dalam lingkaran kelam Sampai detik ini aku bertahan karna-Mu
Tuhan... Tunjukan jalan terbaikmu Bagi kehidupan ku Rubah pandanganku akan kehidupan Bantu aku memahami makna kehidupan
3. Bimbang Bagai buih terombang ambing Di lautan lepas Mengikuti lajunya arus Tanpa bisa menentukan tujuan sebenarnya Bimbang dalam segala hal Tanpa sadar membelenggu hidupku dengan rasa kekhawatiran
4. Dusta Rintihan rindu berbalut sendu Dipenuhi derai air mata, Menggerai koyak nya hati Memaparkan dusta akan mahligai cinta
Jeratan tipu muslihat Bersemayam dalam relung hasrat Meninggalkan seberkas raga Yang bertahta tanpa daya Di penghujung nestapa
5. Kawula Muda Kalian para kawula muda Yang sukanya hura-hura Harusnya lebih banyak karya Jangan menghabiskan harta
Kalian para kawula muda Cobalah buka mata Pandanglah dunia dengan seksama Hidupmu ini tidak bergantung pada orang tua
6. Manusia Tercela Seonggok manusia yang banyak maunya Berharap semua tercapai tanpa usaha Inilah contoh manusia tercela
Hai manusia Seharusnya kau ini berusaha Jangan hanya leha-leha Tidak ada yang instan di dunia Maka pilihlah kerja atau sengsara
7. Mulut Manis Mulut manismu memang menggoda Tapi nyatanya penuh tipu muslihat Manis akan janji-janji Namun nihil akan aksi
Lalu mau bagaimana lagi Semua yang terucap tak ada arti Kini hanya berakhir menyakiti Dasar lidah tak bertulang
8. Sebuah Peringatan! Hai manusia… Apa yang engkau kau harapkan?
Sebelum kau menjawab, Lebih baik aku peringatkan! Jangan terlalu berharap dengan manusia Jika kau tidak siap untuk kecewa Maka jangan percaya akan manusia Sebab manusia pasti mengecewakan tanpa dia sadari
9. Yuwana Yuwana Kau pikir, kau ini siapa Nyalinya tak seberapa Tapi lagaknya bak jawara
10. Pemimpin Pemimpin Tak perlu jadi pemimpin agar disegani
21. Menghina Sepertinya ada hal yang perlu diluruskan! Kamu kira aku menghinamu ya? Aku bukannya mau menghinamu Aku ini hanya mendeskripsikanmu Pakai cara yang lebih baik
22. Salah Sangka Aku kira, kau ini baik Ternyata jauh dari ekspektasi Dasar manusia ini
Oh iya, aku baru ingat Namanya juga teman Ada yang baik Ada pula yang munafik
23. Riuh Penghuninya tak seberapa Namun, terdengar riuh Hingga ingin menulikan pendengaran Rasa-rasanya ingin ku bungkam Mulut manismu itu
Tahukah kamu? Suaramu itu terdengar lebih merdu Kalau mulutmu sedang tertutup rapat
24. Kebohongan Lihat dua sejoli itu Yang sedang duduk manis di bawah pohon rindang Serta asik menceritakan kebohongan Kebohongan yang terus menerus diceritakan Memberikan kesan seperti kebenaran
25. Lelaki Berdasi Lelaki berdasi dengan jabatan tinggi Sungguh patut dikagumi Namun, ada hal yang harus kau ketahui
Lelaki berdasi itu sering umbar janji Omongannya mirip balon warna-warni Isinya bak angin tanpa bukti
26. Pilihan Hidup itu pilihan Namun, hidup itu juga singkat Jika hidupmu habis untuk menggunjing orang Mengomentari kehidupan orang Lalu kapan waktumu berbenah diri? Menata kehidupanmu dengan pasti
27. Recehan Uang recehan Kepingan yang identik dengan logam Punya nilai tukar tak seberapa Teman pun seperti itu Tak ada bedanya dengan uang recehan Berwajah dua Lalu nilainya pun tak seberapa
28. Adu Mulut Bergulat lewat cakap Debat dengan manusia yang tak tanggap Sungguh sangat berat
Kamu akan salah Kamu akan kalah Ketika kau nantinya benar Kau akan tetap kalah
29. Tingkah Laku Hitam atau putih Benar atau salah Baik atau buruk Bak pilihan yang ada dampaknya Seperti perbuatan yang kau lakukan Pasti akan ada balasan Waktunya pun tak pasti Bisa jadi besok, Lusa, Atau entah kapan datangnya Tanpa kau duga-duga
30. Karma Laku mu itu… Karma yang menghasilkan karmaphala Sebab karma tak pernah jalan sendiri Dia pasti berjalan di belakangmu Mengintai tanpa kau sadari Serta menunggu di waktu yang tepat Tuk menunjukan keberadaannya Di saat yang tepat
31. Teman Kamu punya temen gak? Aku sih punya banyak Bahkan dengan berbagai macam watak Salah satunya suka sesumbar Kalau berucap sangat melambung tinggi Tapi maklumi saja Mungkin sedang merasa mabuk Mabuk dengan kenyataan
32. Aku Paham Aku paham Setiap manusia memiliki kelebihan
Aku paham Karena manusia lahir dengan kelebihan dan kekurangan
Tapi aku tak paham Kenapa kelebihan itu perlu disombongkan
33. Sang Pengendali Kamu kenapa? Tiba-tiba ikut campur Mengendalikan kehidupan saya
Ini hidup saya Kendali ada disaya Karena saya sutradaranya
Lalu teruntuk kamu Tak perlu ikut masuk Karena tak ada tempat Serta tak ada pula posisi yang tepat
34. Parfum Lagi-lagi aku harus membandingkan parfum dan omongan Kalian tau kenapa? Sebab omonganmu bak parfum isi ulang Beraroma wangi namun palsu
35. Langit Langit yang cantik Yang kupandangi setiap hari Memiliki jarak yang sulit diraih Dia tahu letak dirinya Sebab langit tak pernah menunjukkan dirinya tinggi Tapi memperlihatkannya sendiri
36. Bodoh Mau di dunia maya Ataupun di dunia nyata Banyak dijumpai orang yang sok Terlalu lihai dalam menilai orang lain Padahal dia bodoh Bodoh dalam menilai diri sendiri
37. Tak Selalu Bersama Aku dan kamu Tidak harus selalu bersama Tapi yang ku harap Kau paham kapan seharusnya ada
38. Jalan Kehidupan Perjalanan kehidupan itu sulit Terkadang harus melewati kerikil Bahkan menemui tanjakan yang tak terpikir Tapi kita perlu berterima kasih kepada saat-saat sulit Sebab di situlah Kita paham dan mengerti Siapa yang teman dan yang bukan
39. Hening Ku Hening, Senyap, Seperti kehidupan ku Namun jangan salah sangka Keheninganku bukan berarti aku selalu setuju dengan mu Hanya saja Tingkat ketaktahuanmu itu Sungguh membuatku tak mampu berucap
40. Kosong Kalian pernah dengar peribahasa ini? Tong kosong nyaring bunyinya Pasti pernah dengar bukan! Kalian perlu tahu Itu seperti seseorang yang fasih dalam berbicara Namun yang keluar hanya omong kosong
“You are a professional doer.” Gumam Gala masih dengan kepala di bahu Odelia. “That compliments come because I'm an actress or because I'm your ex?” “It's very complicated to make amends for the past.” Gala mengganti posisinya jadi membelakangi kamera, namun kepalanya mengarah kepada Odelia. “Don't apologize, nothing wrong there.” Perempuan itu meletakkan tangannya pada lengan Gala. “Oke.” Kepada semua hal yang terjadi hari ini, benar-benar semuanya, Odelia hanya berharap agar berlalulah dengan segera agar ia bisa meratap dalam kamarnya. Ia ingin segera menghapus damba yang kembali hidup, seolah dihujani pupuk dari pertemuannya dengan Gala. Untuk hari yang akan datang, jika memang takdir ingin bermain-main lagi, Odelia harap ia siap untuk segala rupa atmosfer yang memayungi keadaan. Panggung hari ini adalah yang paling merana dan ulasan dari Odelia lebih banyak mengarah ke tidak suka. Berada di dekat Manggala lagi adalah suatu hal yang bahkan tidak mau Odelia terka. Pun ia tidak menepis fakta bahwa kenangan yang hanya dua tahun dengan Gala tidak bisa dilupakan untuk waktu yang bisa digunakan untuk menyekolahkan anak sampai kelas satu SMA karena sembilan puluh sembilan persen adalah kenangan euforia.
Pertama kali ia datang ke sekolah ini, karena waktu pendaftaran ia tidak bisa ikut serta. Jadi asing masih mendera si paras ayu saat melangkah menuju ruang guru berbekal petunjuk satpam di depan gerbang tadi. Ia harus lurus setelah itu berbelok ke kanan, dari lobi. Suasana sudah jelas sepi karena jam pelajaran sudah mulai sejak lima puluh menit yang lalu. Tidak disengaja telat datang karena wali kelasnya sendiri yang bilang, lebih baik datang di jam ketiga karena jam pertama hingga kedua adalah jam pelajaran olahraga dan Ode belum harus melakukannya. Sepatu putih dengan ornamen hitam ia tatap sekali sebelum masuk ke ruang yang sejak tadi ia cari, memeriksa penampilan. Kemeja batik lengkap dengan tanda pengenal yang terjahit di dada kanan bertuliskan Odelia Sophie, rok abu-abu selutut, kaus kaki semata kaki, semua aman. Ia menghembuskan nafas, membuang takut. Belum sempat langkahnya berlanjut, presensi orang lain yang baru saja keluar ruangan membuat kejutnya tumbuh. Lawannya juga sama saja, itu disebabkan karena ia tidak fokus pada jalan. Yang perempuan mundur dua langkah, sedang yang baru muncul dari ruangan menahan tubuh sampai mengangkat tangannya ke atas. “Sorry, sorry.” Ucapnya sambil menurunkan tangan. Ode mengangguk sopan, bingung harus bereaksi bagaimana sebab dirinya sendiri sedang melawan rasa asing sebagai siswi baru. Kemudian yang ia lakukan adalah bergerak masuk ke ruang guru, menemui nama yang diberi tahu ibunya sebelum ia turun dari mobil. “Halo, Odelia Sophie!” Panggil seseorang dari sisi ruangan saat Ode baru masuk. Ia adalah yang Ode cari. Langkah si paras ayu mendekat pada meja dengan papan nama terpajang di meja bertuliskan Elizah Mayana, guru wali kelasnya. “Langsung ke kelas aja, yuk! Tapi maaf untuk perkenalan dengan kawan baru secara proper baru bisa setelah jam olahraga, ya? Di waktu itu nanti Bu Maya ngajar di kelas. Untuk sekarang ini, kelas 11 IPA 3 sudah keluar kelas untuk ikut mata pelajaran, jadi kelasnya kosong.” Ode mengangguk tanda paham. “Kalo gitu, saya ke kelas sendiri saja tidak apa, Bu.” Mendengar penuturan dari siswi barunya, mata yang lebih tua membola. “Gitu, nggak papa?” Ode mengangguk sekali lagi. “Ibu lanjutkan saja kegiatannya, saya cari kelas sembari keliling sekolah.” Bu Maya tersenyum hangat. “Baik kalo mau kamu seperti itu silakan, Odelia. Nanti langsung duduk di kursi yang kosong aja, ya?”
Setelah pamit secara baik dan menyapa beberapa guru yang ada di ruangan, Ode melangkah menuju pintu. Kejutnya tumbuh lagi, karena dari arah kiri ada sosok yang bangkit menyambut. Orang yang sama dengan yang mengangkat tangan untuk menahan tubuh agar tidak menabrak Ode sepuluh menit yang lalu. “Adelia atau Odelia?” Tanya si pembuat kejut. Yang ditanya melirik ke arah dalam ruangan, mengira-ngira apakah bisa suara Bu Maya saat memanggil namanya sampai depan pintu. Jawabannya, bisa saja. “Odelia.” “Oh, Odelia. Dipanggil Ode aja ya?” “Iya, emang panggilannya Ode dari dulu.” Jawab Ode sembari netranya menaruh fokus pada individu di hadapannya yang sekarang sedang berucap “Oooo...” tanpa suara. “Gue Gala. Panggilan dari dulu juga Gala.” Ode rasa kata aneh diciptakan untuk reaksi terhadap tingkah laku laki-laki yang baru saja memperkenalkan dirinya. Menurut Ode ada sekitar tiga ratus siswa di sekolah ini, mungkin juga lebih dari tiga ratus, tapi mengapa satu yang ia temui pertama kali adalah Manggala Braga Wardhana? “Oh, oke Galla.” Ia memberi jawaban seadanya. “Gue temen sekelas lo, btw.” Sekuat hati setelah kalimat itu meluncur halus dari bibir Gala, Ode tidak bereaksi yang bisa membuat tersinggung. Seperti membuka mulut lebar-lebar sampai harus menutupnya dengan telapak tangan atau mengangkat alisnya tinggi sambil mata yang membelalak. Perempuan itu hanya menatap mata Gala lebih lekat dari sebelumnya. “Ayo kita ke kelas bareng!” Padahal tidak gatal, tapi tangan Ode tergerak untuk menggaruk tengkuk. Matanya bergerak melihat koridor yang kosong, hanya ada ia dan Gala. “Ayo.” Jawabnya pasrah. Jujur ingin keliling sekolah hanya alibi karena Ode sendiri lelah, ia baru tidur di kasur pukul dua setelah melakukan perjalanan selama dua jam dari Bandung.
Makin ke sini, makin tiada sesal yang dirasakan oleh Ode untuk pindah ke Jakarta. Padahal sehari sebelum hari pertamanya masuk sekolah waktu itu, ia masih di Bandung untuk menghabiskan waktu ke sana-sini dengan teman-temannya dengan kata hati enggan berpisah. Tapi nyatanya Jakarta tidak buruk, sama sekali, bagi Ode. Hampir tiga bulan di sini, ia merasakan banyak euforia yang tidak jauh beda dengan Bandung. Selain punya Vivi, Kazya, dan Arum, ia juga punya Gala. Gala yang sekarang sedang menggiring bola basket, membawanya hingga ke daerah lawan, mengincar ring yang warnanya dominan biru.
Bibir Ode tersenyum lebar sekali saat melihat poin baru pada papan besar di sisi kanan lapangan basket indoor milik sekolahnya tercetak angka baru. Di bawah sana ada yang sedang berbangga diri sambil berlari ke sisi lapangan yang merupakan daerah kuasa ia dan tim, mata mereka bertemu. “Buat kamu.” Telunjuk Gala menunjuk ring basket lawan saat berkata demikian tanpa suara. Ode menangkap semua itu dari tribun. Menangkap mata Gala yang berbinar, menangkap sabit senyumnya yang cerah, pun menangkap bagaimana laki-laki itu memeluk teman satu timnya yang paling dekat untuk menyebar perasaan bahagianya. Tiga teman Ode yang melihat interaksi itu ikut meledek dengan mengguncang tubuhnya bersama-sama. Letupan bahagia kisah cinta remaja menengah atas tidak bisa Ode pungkiri, ia rasakan hal itu sekarang. She has fallen in love.
Tanya siswi satu sekolah, siapa yang tidak jengkel dengan bagaimana kelakuan Gala? Bahkan guru juga akan geleng-geleng takjub. Gala ajaib karena nakal dan pintarnya seimbang, maka ia banyak mendapat wajar. Bukan kapten basket, namun pesonanya setara dengan yang memimpin tim. Bukan yang peringkat satu paralel, tapi tiga. Bukan yang jago di bidang bahasa, tapi menghitung. Gala sering melakukan hal aneh seperti tidak masuk sekolah tiga hari karena penasaran bagaimana rasanya absen, ia belum pernah sama sekali sejak TK. Tidak tahu juga mengapa ia setiap sakit selalu di hari libur, tidak tahu juga mengapa ia tidak pernah punya acara keluarga yang membuatnya sampai harus absen. Paling maksimal yang pernah ia lakukan adalah dispen karena basket. Pernah ikut Olimpiade Siswa Nasional, mendapatkan medali perunggu, setelah itu tidak lagi. Ia cuma ingin cari pengalaman sekali habis itu tidak berniat untuk mengulang. Pernah sekolah dengan seragam yang tidak sesuai jadwal karena seragam aslinya bolong, ia nekat menyetrika sendiri. Pernah bolos pramuka dengan teman-teman satu lingkarannya hingga dibariskan di tengah lapangan saat apel penutupan. Absennya tiga hari tanpa keterangan membuatnya jadi dipanggil Bu Maya hari itu. Ada baiknya juga, karena hal tersebut ada jalan baru yang terbuka untuknya dan Ode. Gala belum pernah lagi merasa jatuh pada binar netra yang atraktifnya buat lupa dunia, hingga ia bertemu Odelia. Setelah yang laki-laki menang sparring di kandang sendiri dengan skor 78-53, dua muda-mudi itu keliling kota sebelum yang perempuan diantar pulang. Dengan Honda CBR250RR, latar langit hampir gelap, dan lampu jalan yang mulai benderang, Gala bercerita tentang ayahnya yang suka mengobrol dengan anjing mereka yang bernama Broto. Ode
tertawa sambil mendengar cerita bahwa untuk memasukkan Gala ke sekolahnya saat ini, ayahnya meminta saran dari Broto yang saat itu mengangguk. “Kalo Broto nggak ngangguk, aku jadi nggak kenal kamu.” Tubuh Gala menghangat karena dekap Ode semakin erat.
Bulan selanjutnya mereka sudah kemana-mana dengan judul baru karena resmi sebagai sepasang kekasih. Ke pantai sore-sore, kehujanan hingga harus menepi di pinggir toko yang tutup, ke acara pameran yang diadakan universitas dan dibuka untuk umum, merayakan ulang tahun Ode di rumahnya, ke Kebun Raya Bogor, juga ke McD di jam 11 malam setelah Ode melakukan lomba monolog. Setelah menelan cheese burger miliknya, Ode hendak membuka mulut untuk bicara. Namun sebelum itu, tangan Gala memanjang untuk menyeka ujung bibir kekasihnya dengan tisu. “Kamu nggak harus selalu nonton aku pentas tau, Gal. Misal kamu ada acara apa gitu, datengin aja acaramu.” “Enggak kok, pentas teater kamu nggak pernah ganggu acara aku. Tenang aja.” Setelah meletakkan tisu bekas bibir Ode pada nampan cokelat di hadapannya, Gala melanjutkan acaranya makan ayamnya. “Kamu tampil di acara di gedung teater mana aja bakal aku datengin.” Lanjutnya sebelum melahap. “Terus kalo misal nggak bisa nganter aku ke sana atau jemput aku di situ, juga bilang, ya? Kamu jarang banget absen anter-jemput, makanya aku suka ngerasa takut ngerepotin.” Telapak tangan kiri Gala yang tidak kotor sama sekali bergerak di udar. “Nggak lah, Sayang. Aku mah disuruh anter-jemput kamu sampe muterin Jakarta juga nggak merasa direpotin.” Gala serius saat ia ingin sesuatu, maka ia akan bergerak. So he got the great love from Ode as much as he gave. Both of them were captivated.
Malam itu hujan mengguyur kota yang kalau boleh jujur baru Ode pijak pertama kali ini. Diperhatikannya lamat-lamat mulai dari aroma kota, suasana ramai, dan lampu jalan. Dimasukkan dalam kenangan baik untuk diceritakan sebagai pengalaman kelak. Kalau kalian mau tahu ada orang yang tidak tahu diri, maka orang itu adalah Ode. Ia berada dalam mobil yang disewakan oleh manajer Gala untuk berpergian di Anaheim dengan Gala yang berada di belakang kemudi,mereka habis pergi berdua. Ini sudah 30 jam mereka di kota orang karena acara merek fesyen yang menjadikan mereka duta dari Indonesia. Terlibat beberapa obrolan kecil karena harus ke sana-sini berdua di acara pagi ini, mereka seperti “akrab” kembali. Kalau tidak begitu, mana mungkin Ode bisa ada dalam mobil dengan Gala malam-malam hanya untuk cari pizza? Mana mungkin Ode setuju pada ajakan Gala satu jam yang lalu? “Mau makan apa lagi?” Gala memecah hening sembari melirik pada Ode yang melihat ke luar kaca sebelah kanannya. “Atau mau ke mana dulu?” Ode menoleh, kemudian menggeleng. “Udah aja deh.” Hening lagi. Suara siaran pada radio yang diputar asal tidak dapat menyembuhkan apa-apa. Pun banyak objek di sepanjang jalan yang mereka lalui juga tidak ada yang menimbulkan topik baru baik oleh yang mengemudi ataupun yang menumpang. Obrolan yang tercipta di restoran pizza tadi pun hanya obrolan ringan yang biasa dilakukan teman lama. Sebenarnya sebagai selebriti, susah untuk menutup-nutupi bahwa mereka pernah punya hubungan. Namun dengan kesepakatan yang mereka buat sejak pemotretan kala itu, bila setelahnya akan berita tentang mereka berdua, maka keduanya akan sepakat untuk tidak menyangkal bahwa mereka saling kenal. Di sisi lain, keduanya akan menyangkal bila disebut pernah memiliki hubungan selain teman dekat. Publik tidak perlu tahu kebenaran tentang itu. Hingga akhirnya mobil berhenti karena sukses terparkir kembali di rubanah hotel. “Is that rumor is true?” Tembak Gala tiba-tiba. Tangannya tidak berusaha mematikan mesin mobil agar AC tetap menyala saat mereka butuh bicara. “Jangan pake kata rumor buat nanya kebenaran, Gal.” Senyum Ode terbit bersamaan dengan tangannya yang bergerak untuk melepas seat belt.
NAMA : YULIA NURLAYLY ASLAMIYAH NIM : A310200144 KELAS : 5B Mata Kuliah: Menulis Kreatif Karya: Kumpulan Cerpen
Timbal Balik Antara Sahabat
Pagi ini hujan turun dengan sangat deras saat Saka hendak pergi ke sekolah. Saka pun merasa bingung bagaimana caranya untuk berangkat ke sekolah tanpa kehujanan. Ketika sedang keluar untuk mengecek kondisi hujan di luar, terdengar suara HP Saka yang berdering di sakunya, ternyata itu dari Demas. “Saka kebetulan ini yang mengantar ayahku dengan mobil, mau bareng tidak?” tanya Demas dalam teleponnya. “Iya boleh Demas, kalau tidak merepotkan” jawab Saka. “Tidak merepotkan kok Saka, kan kamu sahabatku” Tak selang berapa lama, Mobil Demas sudah sampai di depan rumah Saka dengan ayahnya yang menyetir. Saka pun bergegas masuk ke rumah untuk mengambil tas dan berpamitan pada ibunya, karena ayahnya sudah berangkat sedari tadi. Setelah sampai di sekolah, Saka dan Demas berpamitan pada ayah Demas. “Sekali lagi terima kasih ya Om” ugkap Saka pada Ayah Demas. “Iya Saka sama-sama, jangan sungkan” Saka dan Demas pun pergi masuk ke kelas mereka. Saka yang lebih dulu duduk di bangku bertanya pada Demas “ Sudah sarapan Demas?” tanyanya. “Belum Saka, tadi Ibu tidak sempat masak” Jawab Demas lesu. “Ya sudah ayo kutraktir di kantin, itung-itung terima kasihku karena sudah mau memberi tumpangan ke sekolah tadi.” Ajak Saka “Wahh, terima kasih Saka, sebenarnya aku menolong dengan sukarela, tapi kalau ditraktir siapa sih yang nolak? Hahaha” Jawab Demas yang juga diikuti tawa oleh Saka.
Selepas pembagian rapot di sekolah, akhirnya aku bisa menikmati liburan yang panjang. Meskipun aku tidak mendapat rangking satu, tapi aku tetap mendapat nilai yang lumayan baik, masih masuk tiga besar di kelas. Aku pun tambah bahagia karena membayangkan keluargaku mengajak aku pergi liburan. Ayah dan ibuku mengajakku pergi liburan ke suatu tempat wisata yang menyenangkan dan belum pernah aku kunjungi. Aku sangat tidak sabar untuk pergi menikmati liburan itu. Bahkan aku bingung untuk memilih pakaian mana yang akan kupakai. “Aku pakai baju yang mana ya?” Tanyaku dalam hati. “Bawa baju apa saja ya?, Ah baju dari nenek ini sepertinya bagus, tapi yang merah hadiah dari tante juga bagus!” Aku pun pergi menemui ayah dan ibu yang sedang asyik mengobrol di ruang keluarga. Lalu aku bertanya pada mereka, “Ayah, Ibu, Kita jadi berangkat hari apa?”. Ayah dan ibu tibatiba hanya saling pandang, lalu Ibu berkata “Sayang, liburan kali ini ditunda dulu ya, karena ayah harus pergi ke Bandung selama 2 minggu, untuk mengurus pekerjaan yang tertunda.” Mendengarnya bagaikan gledek di siang bolong, aku terkejut dan dengan lesu pergi ke kamar. Aku sangat kecewa mendengar Ibu tadi, tapi aku harus bagaimana selain menerima keputusannya. Hari-hari telah berlalu dan aku hanya menikmati libur sekolahku di rumah saja. Ya terkadang aku pergi bermain di luar dengan teman-teman lingkungan tempat tinggalku. Meskipun begitu aku tetap merasa ada yang kurang. “Masak liburan begini-begini aja” Batinku. Terkadang aku juga membantu ibu melakukan pekerjaan rumah, dan belajar untuk persiapan masuk sekolah. Hingga tiba-tiba pada suatu sore ibu mengetuk pintu kamarku dan bilang kepadaku “kamu segera mandi ya, Ibu tunggu di luar.” Aku menjawabnya dengan heran “loh kita mau kemana Bu?” Lalu ibu menjawab “Ibu mau mengajak kamu ke Mall, ayah tadi transfer uang. Kemarin ibu bilang ke ayah kalau kamu di rumah tidak bersemangat, lalu ayah mentranfer uang untuk mengajakmu pergi ke Mall.” Sontak aku merasa senang “Asikk, oke kalau begitu aku mandi dulu.” Setelah itu aku pergi ke Mall dengan Ibu, kita melihat film bersama, membeli baju baru yang berwarna senada juga makan makanan yang belum pernah dicoba. Aku sangat senang hari itu. Meskipun hanya pergi ke Mall dan tidak jadi liburan bersama-sama pergi dengan Ibu ke Mall mengembalikkan kegembiraanku. Terima kasih Ayah dan Ibu, aku sayang kalian.
Pagi itu seperti biasa Pak Jamal berdagang bubur ayam di kos dekat perumahanku, sudah beberapa hari ini sebenarnya Pak Jamal tidak berjualan karena harus merawat istrinya yang sakit karena terjatuh di tangga. Jadi sudah beberapa hari juga aku rindu bubur ayam buatan Pak Jamal. “Sudah seminggu pak ngga jualan, kangen buburnya aku.” Setibanya aku di kios Pak Jamal. “Iya neng, rawat Ibu dulu kemaren.” “Memang anak-anak kemana Pak?” tanyaku. “Yang besar kan sudah berumah tangga jadi ikut suaminya. Yang kecil sekarang tinggal di Sukabumi dengan neneknya.” Jawab Pak Jamal menjelaskan. “Oalah, berarti bapak hanya berdua dengan Ibu ya?” “Iya neng, buburnya berapa neng” “3 Pak.” “Biasanya hanya 2, tumben yang satu untuk siapa neng?” tanya pak Jamal. “ Nenek pak, ini sedang nginep di rumah jadi mau coba bubur Pak Jamal yang paling enak sekomplek.” “Hehehe, eneng bisa aja.” Selang beberapa lama ada Ibu-Ibu tua yang meminta-minta ke kios Pak Jamal, aku yang iba pun memberikan uang dan dijawab ibu itu “Semoga rejekinya lancar ya nduk.” “Amiin” kataku. Pak Jamal yang juga melihat ibu tua itu bertanya padanya “Sudah makan bu?” “Belum pak” jawab ibu itu. “Sini bu duduk, sarapan dulu. “ Setelah itu bubur pesananku pun jadi Aku pun membayar dan mengatakan pada Pak Jamal “Pak sekalian ini untuk bubur ibu itu ya.” “Tidak usah neng, biar ibu itu bapak gratiskan saja, itung-itung jadi barokah pagi ini.” Kata Pak Jamal. “Oooh iya pak, kalau begitu saya permisi pak.” “Iya neng.” Pak Jamal memang orang yang baik, selain memiliki kasih sayang yang tinggi pada keluarga, Pak Jamal juga suka menolong sesama. Semoga Usaha bubur Pak Jamal tambah maju dan barokah.
Kamis sore dengan nuansa cuaca yang gerimis kecil-kecil memang enaknya sambil menyantap soto hangat di depan kampusku. Aku dan Diana teman satu jurusanku berencana pulang bersama sambil mampir ke toko buku untuk membeli novel incaran kami sejak minggu lalu. Namun, karena cuaca yang tiba-tiba gerimis membuat kami mampir ke warung soto untuk berteduh dan makan sore. “Net, cari novelnya besok saja ya.” Kata Diana ditengah-tengah kami menyantap soto yang nikmat. “Memang kenapa Di? Aku udah nunggu beli novel dari minggu lalu tau.” Kataku sedikit kesal. “Kak Rian mau jemput, dia ngajak nonton.” Kata Diana sambil nyengir. “Balikan kamau sama mantanmu itu?” tanyaku heran. Diana hanya menjawab dengan cengiran mautnya. “Ya sudah nanti aku ke sana sendiri saja, takut kehabisan.” “Maaf ya Net, maaf banget.” “Iya” jawabku sedikit kesal. Meskipun sedikit kesal karena Diana tidak jadi menemaniku untuk membeli novel incaranku akhirnya aku pun pergi ke toko buku sendirian. Sesampainya di toko buku aku pun langsung mencari novel incaranku. “Ketemu.” Batinku senang. Namun, saat aku hendak mengambilnya ada tang yang mejulur untuk meraihnya juga. “Maaf aku duluan yang mengambilnya.” Kataku agak takut. Karena si empunya tangan adalah sesosok laki-laki yang berbadan tinggi dan tangannya pun juga besar aku pun mengatakannya dengan nada rendah. Nyaliku menciut. “Untukku ya? Adikku mencari novel ini dari kemaren.” Katanya dengan nada halus tapi dengan suaranya yang besar. “Tapi aku duluan yang menemukannya.” Jawabku dengan memelas. Dia pun yang melihatnya juga sepertinya ragu untuk tetap bersikukuh dengan keinginannya. “Ya sudah. Ini “ kataku sambil mengulurkannya. Melihatnya yang seperti putus asa membuatku iba, apalagi novel ini hendak ia berikan untuk adikkanya. Entah itu benar atau tidak, aku pun hanya ingin berbuat baik. “Di toko lain, atau online saja deh aku belinya.” Batinku menyemangati. Aku kemudian mengulurkan novel itu dan pergi meninggalkan lakilaki itu. Sepulangnya aku dari toko buku, sampai di kamar aku kembali mengingat momen tadi. Laki-laki berbadan tinggi dan bertangan besar tadi mengingatkanku akan seseorang di masa lalu. Sepert fitur wajahnya aku menenalnya. Siapa ya tapi? Pagi harinya seperti biasa aku pergi ke kampus dijemput Diana. “Kemaren jadi nyari novel itu Net?” tanya Diana sambil mengulurkan susu kotak kepadaku. “Ada apa ni?” tanyaku heran. “Permintaan maaf ku kemaren karena tidak jadi menemani mencari novel incaranmu.” “Alah sogokan.” Kataku sambil tetap mengambil susu kotak di tangan Diana. Kami pun pergi ke kampus bersama dengan mobil Diana. “Di, kemaren aku ketemu orang di toko buku yang sepertinya teman kita dulu deh.” Kataku pada Diana. “Siapa?” “Sepertinya tetangga kita di komplek dulu.” Jelasku pada Diana. “Anak komplek kan banyak Netaaa. Banyak yang pindah juga.” Timpal Diana agak kesal. Setelah kuingat-ingat lagi, iya juga ya. Sebagian temanku di komplek saat kecil memang banyak yang pindah pindah rumah dan tidak bertemu lagi. Sehingga wajar kalau Diana agak kesal. “Eh..” “Kenapa Net?’ tanya Diana yang melihatku tiba-tiba berhenti. “Itu Di, laki-laki yang kemaren.” “Ah, mana?” “Itu yang baru turun dari motor pakai jaket hijau.” Kataku menunjuk laki-laki di parkiran. Diana pun menoleh mencari laki-laki yang kumaksud. “Alah, itu mah Kak Setyo, anak Teknik Sipil angkatan atas kita.” Terang Diana. “Kok kamu tahu?” tanyaku heran pada Diana. “Ya iyalah, dia anak Teknik yang sering masuk instagram kampus. Pinter dia.” Kata Diana. “Memangnya kita pernah tetanggan dengan Kak Setyo?” tanya Diana heran. “Entah.” Jawabku sambil mengajak Diana pergi menuju kelas. Di kelas aku tidak bisa berhenti memikirkan laki-laki yang kutemui kemarin di toko buku juga yanga ada di parkiran tadi. Fitur wajahnya mengingatkanku akan sosok teman ku saat kecil dulu di komplek. “Setyo..” batinku mengingat-ingat. “Siapa ya Setyo ini?, apa benar ya teman komplek ku dulu?”
Nama : Junita Arliniwaty NIM : A310200067 Kelas : A Karya : Puisi
Rindu Desah rindu peluh dalam dada. Lirih waktu berputar tak berasa. Kalbu merah menusuk rongga rasa. Perih melihatmu tersenyum bersama sang penggoda. Hitam pekat membasuh wajah. Wahai sang pemberi rasa. Aku menangis parah dalam hari yang kian membelenggu jiwa.
Pahlawan Pandemi Duduk lemas meratapi kelelahan Dari pagi hingga ke pagi engkau berjuang Berpakaian putih lengkap yang pengap Bercucuran keringat serta air mata Menahan rindu bersua dengan sanak keluarga Namun engkau berusaha tegar demi kesembuhan pasien Putih suci pakaian mu, sesuci niat mu Tak ada keraguan serta ketakutan Kau rawat pasien mu dengan kasih sayang Sungguh mulia tugas mu Insyaallah surga tempat mu
Luka dibalik Pandemi Kubuka mata dengan perlahan Terlihat dibalik jendela, langit yang murung Matahari yang tak begitu bersemangat menyinari bumi Kulihat kakek tua yang berjalan membawa dagangan nya yang masih penuh Anak-anak yang tak bisa bermain bebas Tuntutan kehidupan yang semakin membelenggu diri Penuh derita, penuh luka dan tangisan Sampai kapan kah kesedihan ini berakhir Sampai kapan kah bumi ini pulih
2. TAMU DARI MARS Aku sedang membeli sebuah nachos di pinggir jalan milik paman Nick, saat tiba-tiba seorang menghampiriku dan meminta sebuah nachos kepadaku. Aku tidak punya uang lebih saat itu. Uangku hanya cukup untuk membeli satu porsi nachos. Jadi aku menawarkan untuk berbagi satu nachos milikku kepadanya. Dia hanya menganggukan kepalanya setuju. Rambutnya pirang hampir putih, tinggi semampai dengan kulit pucat bak porselen. Ia banyak bertanya hal tentang manusia dan bumi seakan-akan dia turis di bumi. Ah, dia mengenalkan dirinya sebagai J401. Aku memanggilnya dengan pelafalan huruf depannya saja, Jey, karena, yeah, siapa yang memanggil orang lain dengan julukan sepanjang itu apalagi dengan kombinasi angka. Bukankah itu terlihat aneh? Seperti, ‘Halo, Jey empat ratus satu, bagaimana kabarmu?’. Aku tidak tahu, orang tua mana yang memberi namanya dengan paduan huruf dan angka seperti itu. Saat aku bertanya mengapa, ia menjawab jika yang memberi nya nama adalah pimpinannya bukan orang tua nya. Pimpinan seperti apa maksudnya, apakah semacam presiden? Karena rasa penasaranku semakin membuncah, aku bertanya kepadanya dari negara mana ia berasal. Setelahnya ia hanya terdiam dan aku bukan tipe yang pemaksa. Kami duduk di pinggir sungai seraya memakan satu porsi nachos milikku. Wajahnya selalu menampakan seperti sedang berpikir keras. Bahkan saat ia menyuap nachos milikku pun ia selalu menampakan wajah bertanya-tanya. Mungkin ia bertanya-tanya, mengapa ada makanan seenak ini? atau apakah bahan yang dipakai ada campuran dari debu pixie dan ayunan tongkat sihir dumbledore? Aku tidak berbohong, walau murah, nachos di pinggir jalan milik paman Nick adalah yang terenak di bumi ini. “Bagaimana pendapatmu mengenai manusia bumi?” Tiba-tiba ia bertanya. “Satu dari sepuluh nilainya nol bahkan minus.” Sahutku. “Seburuk itu?”
Aku hanya menganggukkan kepalaku seraya melahap nachos ku yang tinggal seujung jari.
“Padahal kau juga manusia bumi.”
“Aku tidak menyangkal nilaiku juga buruk kok. Bicaramu aneh, memangnya kau bukan manusia bumi juga?” Ia kemudian menggeleng, “Bukan”.
Aku tertawa. Ah, mungkin ia terjangkit suatu penyakit mental. Yah, di zaman sekarang hal seperti itu sudah lumrah bukan? Semakin hari, semakin banyak manusia aneh yang memadati isi bumi. Oh, bumiku malang sekali.
“Aku serius. Pimpinanku mengirimku ke sini untuk mengamati manusia bumi. Jika memang nilainya seburuk itu, maka kami tidak akan menerima kalian di rumah kami?” Oh, aku sudah tidak sanggup lagi. Ini semakin gila. Perutku sakit karena tertawa begitu kencang. Wajah seriusnya makin mendukungku untuk tidak bisa berhenti tertawa. Rasanya aku akan mati karena tertawa detik itu juga. Ugh, itu adalah hal paling konyol dibanding perkataan si pirang ini. “Hei, kau orang yang lucu. Aku suka kau. Akhir-akhir ini manusia sepertimu sangat jarang terlihat. Yah, kau tahu, bumi makin dipenuhi oleh manusia-manusia yang melawan arus demi mengincar kenikmatan mereka masing-masing. Terima kasih ya sudah bertemu dan menghiburku.” Ujarku kemudian seraya masih tertawa kecil “Aku setuju. Selama aku di bumi manusia yang kutemui aneh semua, termasuk kau. Aku tidak yakin kalian akan diterima di rumah kami. Aku harus pulang, waktu ku tidak banyak. Terimakasih untuk turnya. Aku akan mengingatmu. Manusia di bumi aneh-aneh. Namun, kau orang baik. Suatu saat, bumi sedang tidak baik-baik saja, aku akan memberikanmu tiket gratis ke rumahku.” Aku hanya tertawa kecil mendengarnya dan hanya menganggap perkataannya sebagai guyonan semata . Karena, yeah siapa yang percaya perkataan anak kecil yang terlalu banyak menonton film luar angkasa? Namun, sedetik kemudian aku merasa aku harus percaya ucapannya ketika aku melihat dengan kedua mataku sendiri, Jey pergi dengan piring terbang yang melintas di atas kepalaku.
“Haha, okay, memangnya rumahmu di bagian bumi sebelah mana? Apakah sejauh itu? Karena ibuku tidak akan mengizinkanku bermain terlalu jauh.”
Jey hanya tersenyum. Kemudian air sungai di depan kami beriak. Angin-angin di sekitar kami berhembus dengan kencang membuat helaian rambutku terbang ke sana ke mari. Ku tengok ke atas langit dan betapa kagetnya aku. Piring besar terbang tepat di atas kepalaku. Mulutku menganga sampai mau jatuh rasanya. Aku tidak dapat berpikir apa-apa, otakku rasanya membeku hingga aku sadar Jey sudah masuk ke piring besar itu dengan cahaya bak laser yang menariknya. Ia melambaikan tangan padaku. Setelahnya piring terbang itu menghilang dengan sekejap dari mataku. Apakah aku ikut gila?
Surat undangan kunjungan ke Mars.
Hai. Mungkin kamu sudah melupakanku. Tapi aku akan selalu mengingatmu. Terima kasih untuk nachos dan tur singkat kala itu. Aku sangat menyukainya. Pimpinanku berkata bumi akan hancur 20 tahun lagi jika manusia-manusia di sana masih berperilaku aneh. Kuharap kau dapat membawa perubahan yang lebih baik pada planetmu. Karena jika bumi hancur, Mars tidak akan menerima kalian. Laporan ku kemarin atas kunjungan ke bumi sudah cukup untuk memutuskan bahwa makhluk di Mars tidak akan pernah menerima manusia-manusia berperilaku aneh. Namun, aku diperbolehkan untuk mengundangmu kemari. Jadi jangan khawatir, kau dapat ke sini jika planetmu itu hancur. Oh, ya aku juga akan mengundang paman Nick. Kupikir, mahluk-makhluk di Mars akan menyukai nachos buatannya. Dari, teman Mars-mu,
3. PERMINTAAN MAAF SEORANG IBU Katanya nyawa makhluk hidup bergantung pada uang. Nak, maaf karena ibu telah menjadi manusia miskin yang memilihmu. Aku bukan manusia yang memilihmu karena ibu ingin. Bukan yang rela mengeluarkan uang satu dua koper untuk menjadikanmu milik ibu. Jutaan bintang di galaksi terangkum dia kedua manik bulat mu adalah hal yang menggetarkan hati ibu dan mendorong perasaan kasih sayang begitu besar kali pertama bertemu. Nak, maaf telah ibu menjadi manusia miskin yang memilihmu. Ibu memilihmu, bukan karena tampilanmu, tapi karena hati ibu. Mungkin bagi yang lain, kamu kalah gemas dengan mahluk berbulu lainnya di dunia ini. Namun, jika pun ibu menjadi si kaya, ibu akan tetap memilihmu karena kamu tiada banding. Nak, maaf karena ibu menjadi manusia miskin yang memilihmu. Rasa sayang sebesar semesta pun sepertinya tidak akan menjanjikan untuk bernapas lebih lama. Maaf karena ibu menjadi manusia miskin yang memilihmu. Maaf, jika nanti ibu hanya berdiam diri. Membeku. Melihatmu dengan nafas terakhir yang kau punya meninggalkan buana. Ibu tidak punya kuasa. Apalagi uang. Nak, maaf karena ibu menjadi manusia miskin yang memilihmu. Ibu berterima kasih pada Tuhan yang telah mempertemukan kita pada asmaraloka ini. Namun, jika ibu bisa meminta lebih, ibu ingin kau dipilih oleh manusia kaya yang mencintaimu agar kau tetap sehat dan bahagia. Karena surga tidak akan ada untukmu. Jadi, setidaknya kau harus bahagia di semesta ini. Jika nanti aku lahir kembali, aku berharap pada-Nya untuk menjadikan ibu ikan yang dijual di pasar. Agar kamu bisa mencuri ibu untuk perutmu. Agar kau bisa mendapat protein yang layak. Agar kau bahagia. Karena jika ibu menjadi manusia, ibu akanmati karena perasaan. Ibu akan terpuruh jatuh, mati, melihatmu yang kurawat. Maafkan ibu karena aku terlalu pengecut untuk jadi ibumu. Ibu terlalu takut untuk merasakan sakit. Pedih yang memenuhi dada hingga rasanya sesak. Ingin sekali rasanya melarikan diri, tapi rasa sakit terlanjur mengakar dalam tubuh ibu. Dalam hati ibu. Nak, maaf karena ibu menjadi manusia miskin yang memilihmu.
Yang Maha Tahu isi hatiku, aku hanya ingin anakku menjadi mahkluk mu paling bahagia di dunia. Jadikan aku di kehidupan selanjutnya sebagai ikan-ikan di laut yang ditangkap nelayan dan berakhir di pasar. Buatlah daging yang besar untuk tubuhku. Yang kelak akan dimakan anakku. Tak pernah kulewatkan sedetikpun untuk mensyukuri kelahiran anakku yang diberikan padamu. Anak laki-laki pemberani dan baik kepada semua orang. Ia akan selalu jadi anakku di tiap kehidupanku, benar begitu? Jika memang kau tak bisa memberi surga padanya, maka buatlah ia bahagia dengan atau tanpaku. Dari, Ibu yang miskin
Rin, saat pohon akasia itu menyuruhku untuk menunggu, hatiku berbisik ini salah. Namun, aku tetap berusaha mempercayainya. Hingga kemarin ia berkata jika kamu seperti biasa di pukul empat di sudut rumahmu membaca Duka-Mu Abadi dengan cokelat panas yang tidak pernah absen. Kemudian aku pergi ke sudut rumahmu dan melihatmu di pukul empat, membaca serius Petualangan Tintin dengan soda kaleng. Apakah pohon akasia itu berbohong, Rin? Jadi, diriku yang lain membawa ragaku ke ayahmu dan membujuknya untuk menebang pohon akasia. Ibuku pernah berkata, seseorang yang nakal harus dihukum. Yah, lagi pula log akan selalu tumbuh juga kan?
6. SESI MENANGIS UNTUK DIA YANG PILIH DI SEMESTA Ada manusia paling serakah sedunia yang tiap detiknya selalu muncul di kepala bahkan di waktu aku ingin melupakannya. Katanya yang paling baik itu merelakan. Namun, kenapa kau tidak lelah, berlarian di kepala tanpa punya rasa ingin pulang. Apa kau tidak tahu letak pintunya? Atau kau lupa jalan pulang? Hari ini aku mendatangi seseorang yang senasib denganku. Namanya Bulan. Perpisahan itu harus dirayakan. Ditangisi itu klise. Begitu katanya. Aku mengiyakan saja, karena sudah terlalu muak dan frustasi mencari cara melupakanmu. Mungkin benar katanya, ini harus dirayakan. Maka, aku pergi ke tempat ia ada di sana. Tempat yang dekat dengan kamu, katanya. Aneh bukan? Dia bilang ini bisa melupakanmu tapi mengapa memilih tempat yang dekat denganmu? Karena aku sudah sangat menyerah, maka aku menurutinya. ”Mengapa hanya ada soda kaleng? Kukira akan ada banyak makanan dan musik.” Ujarku sesampainya di tempat yang Bulan janjikan. ”Mengapa kau berpikir demikian?” ”Kau bilang kita harus merayakan?” ”Memang merayakan harus ada pesta?” Aku terdiam. Terasa lelah jika perdebatan ini dilanjutkan. Tempat ini ada di puncak gedung tinggi berisi budak-budak yang tertekan dengan atasannya. Miris, tetapi mungkin itu satu-satunya cara untuk bisa makan. Yah, aku tidak terlalu peduli sih. Aku bahkan sudah tidak ada keinginan untuk makan. Karena yang ada di kepalaku sekarang hanya bagaimana caranya aku bisa bertemu denganmu. Namun, sepertinya itu tidak akan terjadi hari ini, karena Bulan menawarkan solusi untuk ini. Aku tidak begitu mempercayainya sih. Lihat saja, jauh-jauh datang ke sini hanya disuguhi soda, bagian mana yang pantas untuk merayakan. Tapi, daripada sama sekali tak dicoba, kan? ”Hei, lihat ke atas. Ini terasa dekat sekali dengan orang yang pergi ke langit.” Bulan berteriak. Aku memandang langit malan yang tidak ada bintangnya karena tertutup polusi. Menatap nanar langit, apakah kau merasakannya juga? Apakah sudah sedekat itu? Aku hanya perlu meloncat sedikit saja kan untuk memelukmu?
”Hei, bodoh! Kau ingin menjadikanku tersangka pembunuhan?” Teriak Bulan padaku seraya mengenggam erat tanganku. Aku tersadar, kakiku sudah diujung darat, ”Kenapa ya, kehilangan itu harus ada?” ”Makin banyak kehilangan, makin buat kita sakit jiwa. Sebesar itu yang dampak orang yang dipilih semesta?” “Aku menatap sedih Bulan, “Kamu tahu kan kalau kehilangan itu eksisnya bukan hanya di kepala?” Bulan berdiam. Kemudian ia membuka tutup kaleng soda dan menyerahkannya padaku, ”Hidup manusia itu berakhir dengan cara yang berbeda. Jika orangmu itu pergi karena dipilih semesta bukan berarti hidupmu juga berakhir sama sepertinya. Kau tahu kenapa caramu untuk menyusulnya selalu gagal? Karena semseta tidak memilihmu. Dan mungkin orangmu juga meminta pada semesta untuk membiarkanmu lebih lama di dalamnya.” Aku menyesap cola yang diberikan Bulan kepadaku. Seperti ada ratusan semut berjalan di lidahku hingga kerongkongan.Aku memikirkan ucapan Bulan barusan. Mungkin benar nyatanya. Mungkin semesta memang tidak memilihku. Mungkin, kamu memintaku untuk lebih lama di sini, ”Jika memang ia memintaku untuk lebih lama di sini, mengapa ia tak pernah pergi dari kepalaku? Membuatku ingin bersamanya selalu.” ”Bukan ia yang tak pernah pergi dari kepalamu. Tapi kamu yang menyimpannya terus di kepalamu.” ”Berarti aku yang egois? Bukan dia?” “Entahlah.” Mungkin benar. Perihal aku yang menjadi sumber kesedihan yang tak pernah berakhir kini. Yang membuatku menderita. Mungkin benar, itu aku. Aku yang egois. Yang tidak pernah rela melepasmu pada semesta dan ingin terus menahanmu di buana. Mungkin benar. Kamu yang tidak selalu resah, tidak tenang di langit karena ikhlasku belum sampai pada kepergianku. Hatiku sesak. Aku tersengal. Kepalaku runyam. Sedihku seperti ada puncaknya dan meledak sekarang. Bulan mengelus bahuku lembut seraya berkata, “Tidak apa, perayaan kali ini adalah sesi menangis untuk dia yang dipilih semesta.”
Untuk yang ada di langit Aku sudah membuat pintu keluar di kelapaku. Jadi, kamu sudah bisa keluar mulai detik ini. Maafakan aku yang berpikir kamu egois padahal aku yang egois. Maaf aku terlalu lama mendekapmu saat kamu seharusnya sudah bisa tenang di langit. Apakah semesta mau memaafkanku? Apakah semesta masih mau aku tinggal lebih lama? Kuharap jawabnnya iya. Aku sadar, barangkali aku terlalu takut untuk lari dari kenangan soal kamu. Kupikir, kehilangan itu sudah biasa. Sudah berapa banyak kali kehampaan yang kurasakan sebelum hampa karenamu. Tapi aku salah, terbiasa belum tentu bisa. Bulan bilang, ikhlasku harus sampai padamu agar kamu bisa bahagia. Mungkin itu benar. Jadi mulai hari ini aku mencoba ikhlas melepasmu ke langit. Dari, Aku si manusia egois.
Surat untuk peri Perihal omongan temanku itu, jangan dimasukan ke hati, ya. Aku percaya padamu surgamu. Hanya kamu yang bisa memberikanku kebahagiaan di saat dunia tidak bisa memberikannya padaku. Sebenarnya, menyenagkan bisa tidur dan bermimpi dengan bahagia sepanjang hari bersamamu. Jika memang aku tidak bisa terbangun, kupikir itu tidak masalah jika imbalannya pergi ke neverland bersamamu. Kau bisa berjanji kan? Aku mempercayaimu. Ah, iya. Aku tadi bertemu denganmu di depan pintu rumah temanku. Kau benar-benar cantik secara nyata. Untuk, Peri Gyu di neverland.
8. TITIK PANDANG PERTAMA Athaya membawa kedua tungkainya menuju kelas XII IPA-1 yang berada di lantai tiga paling ujung sebelah kanan. Jujur saja, langkahnya berat. Dengan pikiran-pikiran buruk yang kapan saja dapat terjadi di masa depan, rasa takutnya untuk bertemu primadona sekolah semakin besar hingga dapat meledak kapan saja. Namun, perkataan Luna terus terngiang memberi tumpuan pada dirinya untuk menyelesaikan masalah ini dengan penuh rasa tanggung jawab. Langkah menuju kelas yang ia tuju hanya tinggal menghitung jari, tetapi kakinya seperti direkatkan sangat kuat pada tempat ia berpijak. Dari tempatnya berdiri, Hestama Rahagi Lesmana tertangkap di kedua netranya, bergumul bersama dua tiga orang yang mengelilinginya. Satu hal yang terpikiran di otaknya; ia ingin muntah. Perutnya mual, rasanya seperti ditekan oleh atmosfer orang-orang pintar yang ada di dalam kubus IPA-1. Otak bodohnya seperti berteriak malu. Hal itu membuatnya terdiam lima langkah dari XII IPA-1, bergumul dengan pikiran absurdnya, hingga suara nyaring yang mengelukan namanya tertangkap oleh indera pendengarannya. “Athaya ya??” Laki-laki berperawakan tinggi dengan wajah bak dewa Eros menyapanya. Athaya terlonjak, “Eh, iya kak…” “Mau nyari Tama kan?? Sebentar ya, aku panggilin dulu.” Athaya hanya mengangguk pelan membalasnya. “Tama! ini ada si Athaya yang ngabisin bekel kamu!” Si dewa Eros berteriak yang menghasilkan raut wajah berwarna merah seperti kepiting rebus pada wajah Athaya. Sialan, batinnya. Tak perlu waktu lama, orang yang dipanggil kini berdiri di hadapannya. “Kutinggal dulu ya, baik-baik jangan bertengkar.” Ucap Si Eros seraya melenggang pergi menyisakan Athaya dan Hestama. Tak ingin membuang waktu, Athaya langsung menyampaikan maksud dan tujuannya. Dengan menyerahkan sari roti isi selai srikaya yang ia beli sebelumnya, seraya menundukkan kepalanya, enggan menatap iris yang diajak bicara, ia berkata kepada Hestama, “Kak, maaf banget sebelumnya, tapi bekal nya udah aku habisin. Sebagai gantinya aku belikan ini dan tempat makan kakak aku bawa pulang mau dicuci dulu. Gimana kak?”
Hestama menghembuskan napas panjang yang sontak membuat Athaya menatap wajahnya. Kemudian Hestama tersenyum simpul dan berkata, “Gak apa-apa, Athaya. Yaudah kalau kamu mau bawa pulang dulu. Rotinya aku ambil ya.” “Eh? Iya kak…” “Oh iya, bekel kamu gimana? Mau kamu ambil juga?” “Gak usah kak, buat kakak aja.” “Serius? Kali aja kamu masih laper?” Balas Hestama dengan tawa yang merdu. Athaya terpana, “Gak kak. Buat kakak aja. Mmm, kalo gitu, gue balik dulu ya kak. Besok gue balikin tupperwarenya.” Hestama tersenyum lembut, “Iya, Athaya, Makasih ya.” “Makasih juga kak.” Athaya membalikkan tubuhnya dan beranjak pergi ke kelasnya. Satu yang Athaya tahu saat pertama kali titik pandang mereka bertemu. Palsu.
Nama: Meisyifa Triandiva NIM: A310200064 Mata Kuliah: Menulis Kreatif Karya: Cerpen
Judul "Titik Temu"
Perkenalkan, nama saya Aleta. Tepatnya di tahun 2017 adalah tahun dimana saya memasuki bangku Sekolah Menengah Atas, di tahun ini dimana semuanya dimulai, segala suka dan cita bermulai di tahun ini, dan di tahun ini dimana saya bertemu dengan seseorang yang mengubah hidup saya. Ya, dia salah satu manusia yang mengajarkan banyak hal kepada saya, dan saya beruntung bertemu dan bisa kenal dengannya.
Bulan agustus di tahun 2017 adalah awalan dari semuanya, di bulan itu awal mula saya bertemu dengannya.
Saya menjalani kegiatan MPLS di sekolah baru saya, namun pada saat itu saya belum mengenalnya. Setelah segala kegiatan sudah rampung saya mendapatkan kelas. Saya mendapatkan kelas yang berada di lantai 3 sebelah kanan dari tangga. Saya memilih jurusan IPA yang padahal jurusan itu bertolak belakang dengan apa yang saya pilih di perkuliahan, namun saya tidak menyesal pernah memilih pilihan itu, saya bisa berada disini sekarang karena keputusan-keputusan yang saya buat di masa lampau.
Pada jam istirahat sholat duha saya sedang menghadap belakang dan berbicara dengan dua teman saya. Bangku paling depan baris kedua dari kiri, ya, itu tempat saya. Saya ingat jelas posisi saya pada saat itu, karna itu pertama kali saya bertemu dengan jelas dengannya. Tiba-tiba dia duduk di samping bangku saya, kebetulan saya memang duduk sendiri. Kami tidak berbincang satu katapun, kami hanya saling lihat satu sama lain, lalu pergi. Dia kembali ke kelasnya, sayapun kembali berbicara dengan teman saya.
Setelah pertemuan singkat itu, saya menanyakan kembali ke dia, kurang lebih pertanyaan saya “itu kamu yang tadi”. Dia menjawab kalau itu dirinya. Oh, ya saya lupa cerita. Kami memang sudah saling tukar pesan, namun ya hanya sebatas anak SMA yang sedang mencari teman baru saja, tidak lebih dari itu.
10. DARI BERANDA KOTA ”Mengapa orang banyak yang ingin mati? Padahal belum tentu setalah mati masalah mereka bisa hilang.” ”Lalu masalah mereka akan dibawa sampai ke alam sana?” ”Ya, itu mungkin saja terjadi bukan?” Malam ini, aku dan Juna melewatkan makan malam di warung makan langganan kami di jam istirahat. Kami lebih memilih ke restoran cepat saji dan memesan burger keju dengan kentang dan soda. Kali ini Juna yang bayar. Katanya penghargaan diri atas waktu lemburnya seminggu penuh ini. Jadi perutnya harus diisi makanan enak yang mahal. Padahal burger keju dengan kentang dan soda menjadi makanan sampah bagi orang berduit. Yah, problematika masyarakat dengan kelas sosialnya. Kalau aku sih tidak begitu mempermasalahkan, yang penting makan enak dan uangku aman. Itu sudah menjadi anugerah tersendiri bagiku. ”Ternyata jadi orang dewasa itu sulit.” Ujar Juna dengan mulutnya yang penuh dengan kentang goreng. “Siapa bilang mudah?” “Harus banting tulang demi bisa hidup.” “Sebenarnya mudah kalau terlahir punya hak istimewa.” ”Kenapa kita dilahirkan jadi orang biasa saja ya?” ”Mana kutahu.” Aku memasukkan beberapa kentang goreng ke mulutku. Aku Jadi berpikir perkataan Juna. Mengapa ya? Padahal aku cukup kompeten untuk punya hak istimewa. Aku sangat yakin bisa memanfaatkan hak istimewa itu. ”Ah ingin sekali rasanya mengeluarkan uang yang banyak tanpa harus bersusah payah.” Keluhku pada Juna. ”Memang orang kaya tidak bersusah payah?” Tanyanya kemudian. “Tidak tahu, aku kan bukan orang kaya.” Kemudian kami tenggelam dengan pikiran kami masing-masing. Seraya menatap ke luar jendela restoran, di mana banyak kendaraan berlalu Lalang dengan gedung-gedung pencakar langit sebagai latarnya. Kota ini sangat sibuk. Rasanya sangat bersalah aku duduk dan menikmati
makanan ku sementara di luar sana orang-orang sangat sibuk. Istirahat seakan-akan haram dalam hidupku. Bekerja dan bekerja untuk menghasilkan uang banyak, sehingga aku bisa tetap hidup. ”Mungkin, aku paham mengapa orang ingin mati.” Ucapku. ”Mengapa?” ”Karena mereka tidak punya uang.” ”Kata ibuku uang bukan segalanya.” ”Kalau begitu, kenapa kau masih bekerja lembur sampai sekarang?” Juna cemberut mendengar perkataanku, ”Lalu kalau yang ingin mati itu orang kaya bagaimana?” Aku berpikir sejenak. ”Mungkin kurang kebahagiaan.” ”Berarti hidup bukan perkara uang.” Aku terdiam. Benar kata Juna. Tapi aku tidak setuju.
Surat untuk diriku di masa lalu Aku tidak akan basa basi, jadi catat ini baik-baik. Jika memang kamu dilahirkan dengan tidak membawa hak istimewa ataupun sendok emas di mulutmu, maka yang harus kau lakukan adalah belajar dengan giat dan mencapai tempat di atas rata-rata. Karena begitulah cara kerja manusia, kamu akan dipandang jika di atas rata-rata. Entah dari aspek apapun itu. Dan begitulah kau akan hidup dengan seidikit kesulitan. Menjadi orang baik memang penting. Tapi hidup nyaman bukanlah impian segala orang? Jangan ada penyesalan di masa depan.
Nama : Tifani Puspa Kristalliana NIM : A310200014 Kelas : 5A Mata Kuliah : Menulis Kreatif Karya : Antologi Puisi
Cerpen 1 Judul : 3 Metode Cinta
Shania siswa kelas XII IPS 2 pada tahun pertamanya di SMA jatuh cinta pada temannya yang bernama Rian. Rian merupakan ketua kelas XII IPA 7 yang terkenal sangat ramah dan tampan, ia juga merupakan anggota OSIS dan pandai bermain sepak bola. Oleh karena itu, dia juga populer dan disukai banyak siswi disekolah itu. Sudah hampir 3 tahun Shania memendam perasaan kepada Rian. Pada suatu hari Shania bersama temannya Dea dan Shinta pergi kekantin untuk membeli makanan, disana dia melihat Rian dan teman-temannya sedang makan sambil memainkan gitar. Seekor kucing yang lapar datang kepada Rian dan kemudian ia memberi kucing itu makan. Shania melihat momen itu dan ia tersenyum melihat Rian yang baik hati itu. Sepanjang hari Shania hanya memikirkan Rian saja, saat hari itulah ia mulai menyukai Rian. Keesokan harinya saat berangkat sekolah Shania bertemu Rian yang sedang menggandeng seorang pria tua yang sedang menyebrang menggunakan alat bantu tongkat untuk berjalan. Hati Shania sangat luluh dan mulutnya tersenyum lebar melihat itu. “Aaah aku tahu penyebabnya” kata Dea. “Ada apa?” tanya Shinta penasaran. Sambil mengedipkan matanya Dea memberi kode kepada Shinta untuk melihat Shania yang sedang terhipnotis oleh Rian. Mulutnya tersenyum lebar dan matanya tidak bisa beralih dari Rian. “Kamu menyukainya Shan?” teriak Shinta mengejutkan Shania. Shania terkaget dan langsung jalan terburu-buru “Enggak lah, dia kan cowok populer disekolah kita mana mungkin aku menyukainya”. Dea dan Shinta hanya tersenyum dan saling menatap, mereka tahu jika Shania mencintai Rian. Pada saat jam istirahat tiba Shania, Dea dan Shinta melihat seorang siswi memberikan kue kepada Rian. “Waah kurang gercep nih Shin” kata Dea kepada Shinta untuk menggoda Shania. Shania yang memasang wajah sedih dan putus asa hanya terdiam melihat Rian dengan membawa kue pemberian siswi itu “Lihatlah siswi cantik itu, bagaimana aku bisa mendapatkan hati Rian jika seperti ini”. Tiba-tiba Shinta dan Dea menarik tangan Shania membawanya ke kelas. Saat di kelas Shinta memberikan buku yang berjudul “5 Metode Cinta” kepada Shania. Shania bingung apa yang ada dipikiran teman-temannya, mengapa mereka percaya dengan buku aneh seperti ini. “Kalian pernah mencobanya?” tanya Shania dengan heran. Dea dan Shinta hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Disini tertulis kamu harus memberikan coklat kepada orang yang kamu cintai, coklat itu adalah simbol cinta” kata Dea membacakan metode pertama pada buku itu. Dengan ragu Shania membeli coklat dan menaruhnya di motor Rian. Saat pulang sekolah Rian mengambil coklat itu akan tetapi coklat itu meleleh karena terkena panas. Shania, Dea, dan Shinta terkejut melihat itu. “Aku lupa kita berada dinegara tropis” kata Shinta. Metode kedua adalah hipnotis. “Tatap matanya dan dia akan melihat kamu secara spontan” tulis buku itu. Ketika jam istirahat Shania, Dea, dan Shinta melihat pertandingan sepak bola antar kelas, Rian pun mengikuti pertandingan itu. Saat Rian bertanding tanpa sepengetahuan teman-temannya Shania mengikuti metode kedua itu dia menatap mata Rian dengan lama dan tiba-tiba Rian melihat kearah Shania. Shania terkejut “Waah berhasil”. Teriakan Shania mengejutkan Dea dan Shinta, mereka tersenyum dan berkata “kamu tetap mengikuti metode itu?”. Karena merasa metode kedua itu berhasil Shania mengikuti metode ketiga. Dalam buku itu menuliskan bahwa seorang harus bisa merubah penampilan menjadi menarik.
Dea dan Shinta langsung melakukan make over kepada Shania. Tubuh Shania yang dulunya hitam sekarang menjadi putih, Shania juga belajar tidak memakai kacamata agar tidak terlihat culun. Teman sekolah Shania pun terkejut melihat perubahan Shania yang drastis, ia mendapat julukan bebek menjadi angsa karena itu. Akan tetapi Shania, Dea, dan Shinta merasa Rian masih tidak melirik Shania yang sudah berubah drastis, mereka merasa bahwa buku itu sangat gagal. Maka dengan itu, Shania bertekat memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya kepada Rian secara langsung. Hari kelulusan pun tiba, Shinta mengikuti Rian yang berjalan menuju taman sekolah untuk memotret taman karena hari itu adalah hari terakhir Rian disekolah itu. “Hai Shania mengapa kamu kemari?” tanya Rian. Dengan gugup Shania berkata “Sebenarnya ini adalah hal yang konyol, aku tertarik padamu sudah hampir 3 tahun berlalu. Semua cara sudah aku lakukan agar kamu bisa menerimaku dan hari ini aku merasa senang karena aku bisa mengungkapkannya” akan tetapi Shania berhenti bicara saat membaca tulisan di atas saku Rian yang bertuliskan Rian cinta Dian. “Dian? Kalian berpacaran?” kata Shania sambil menahan nangis. Rian hanya menganggukkan kepalanya. “Sudah berapa lama?” tanya Shania karena penasaran. “Hampir 1 bulan” kata Rian dengan sedih. Karena malu Shania langsung pergi meninggalkan Rian. Shania menangis sampai rumah karena hari bahagia itu ternyata berubah menjadi hari yang paling meyedihkan bagi Shania.Karena Shania mendapatkan peringkat pertama, ia akan menyusul ayahnya yang bekerja di USA sebagai koki. Shania akan melanjutkan pendidikan di USA. Sudah hampir 5 tahun Shania tidak bertemu ayahnya. Hal itu dapat melupakan kesedihannya selama di SMA. Satu bulan setelah hari kelulusan Shania berangkat ke USA untuk beremu ayahnya, ia merasa bahagia. Rian dan Shania pun melanjutkan kehidupan masing-masing. 7 tahun berlalu Shania menjadi designer terkenal di USA dan diundang oleh salah satu talk show, dalam talk show tersebut Shania menceritakan bagaimana perjalanannya ketika menjadi designer. Dea dan Shinta pun juga hadir dalam acara itu. Mereka merasa bangga dengan Shania. Tanpa sepengetahuan Shania dan orang-orang dalam acara tersebut, Shania dipertemukan kembali dengan Rian yang berhasil dalam Indonesia Glass dan menjadi fotografer. Shania terkejut dan merasa malu kepada Rian. Rian tersenyum dan memberikan buket bunga kepada Shania. “Shania, apakah ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan kepada Rian?” tanya pembawa acara talk show tersebut. Dengan terbata-bata dan takut Shania berkata “Rian, kamu sudah menikah?. Dengan raut wajah yang sedih dan tidak menatap Shania, ia menjawab “Aku sedang menunggu seseorang designer dari USA” jawab Rian langsung terseyum dan menatap Shania. Mendengar hal itu Shania menangis dan para penonton pun bertepuk tangan dengan meriah.
Cerpen 3 Judul: Perundungan di Sekolah “Dasar gendut, hitam, jelek,” ejek anak-anak. Neina sudah biasa dengan ejekan semacam ini dari kecil. Saat usianya menginjak 2 tahun, tetangga di sekitar rumahnya kerap tersenyum sinis melihat Neina. Sang ibu bercerita kalau dulu bobot tubuh Neina justru lebih besar. Dokter pun sempat memperingatkan ibu Neina bahaya obesitas yang mungkin dialami sang anak. Memasuki usia 3 tahun, ibu Neina mencoba mengatur pola makan sang putri. Apa mau dikata? Neina memang harus menjaga bobot tubuhnya agar tak membahayakan kesehatan. Bertahun-tahun memiliki bobot tubuh diatas rata-rata, Neina sebenarnya tak ambil pusing. Sejak di bangku SD pun, ia kenyang dijadikan bahan bully-an. Sama seperti sekarang, Neina masih jadi bahan candaan sekaligus ejekan teman-teman sekolahnya. Ia kira teman di SMP jauh lebih terbuka dan menyenangkan, ternyata tidak. Efek perundungan yang dialaminya pun kian menjadi setelah naik ke kelas 9. Tekanan menghadapi ujian nasional ditambah ejekan teman-temannya membuat Neina uring-uringan. Ia hanya bisa melampiaskan rasa sedihnya kepada sang ibu. Tak ada teman yang mau dekat dengannya. Setiap kali ia mencoba menyapa dan ikut mengobrol, teman-temannya langsung bubar. Neina sadar diri, ia tak pernah diharapkan dalam lingkup pertemanan manapun. Tanpa disadari, mental Neina drop akibat perlakuan teman-temannya. Hal ini rupanya mengundang rasa curiga bu Indre, wali kelas Neina. Usai upacara, bu Indre memanggil Neina ke ruangannya. Ia menanyakan penyebab turunnya nilai Neina di semua mata pelajaran. Awalnya Neina enggan menceritakan semua yang dialami. Bahkan ia hanya diam mendengarkan kata-kata sang guru. Bu Indre tak kehabisan akal. Ia mencoba mengulik perlahan-lahan. Neina menyerah dan menceritakan keluh-kesahnya. Keesokan harinya, bu Indre masuk ke kelas seperti biasa. Namun, ada hal menarik yang diceritakannya kepada anak-anak. “Ibu ingin bercerita hari ini. Kalian mau mendengarkan?” tanyanya. Semua murid hanya mengangguk, tanda setuju. Mulailah bu Indre bercerita tentang kasus perundungan. Awalnya anak-anak merasa risih, namun tetap mendengarkan. Di akhir cerita, bu Indre menekankan betapa buruknya merundung orang lain. Anak-anak terpaku dan mulai melihat ke arah Neina. Neina hanya tertunduk tak berani menatap. Saat waktu istirahat tiba, satu per satu teman sekelas Neina mendekatinya. Mereka meminta maaf karena sudah mengejek Neina selama ini. Mereka tak sadar kalau ejekan itu membuat Neina sedih dan mengalami gangguan belajar
Nama: Ath Thaariq Rahma Syahrita NIM: A310200045 Kelas: 5A Mata Kuliah: Menulis Kreatif Karya: Puisi
1. Judul: Tangkuban Perahu Suara merdu ayam berkokok di pagi hari Langit putig tenunan karya dayang Sumbi Gunung Putri nan cantik dipandang mata Perasaan ketenangan menciptakan rasa Bagaikan bunga bertaburan di udara Hati kian menggebu-gebu Rasa cinta akan keindahan ini Begitu takjub akan ciptaannya
2. Judul: Hujan Dikala Sore Duduk sejenak menikmati suara gemericik air hujan di pelataran Terdengar air mengalir deras menuju tanah Sore ini matahari dipersilakan untuk beristirahat diganti dinginnya malam Daun bergerak kesana kemari tertimpa rintiknya hujan Bau tanah yang menyejukkan hati dan merilekskan pikiran Datang kemudian pergi membawa suasana kenyamanan
3. Judul: Pelajaran Teringat lagu “Sampai jadi Debu” Akankah perjalanan ini akan berlanjut sampai jadi debu? Akankah perjalanan ini akan berhenti di tengah jalan? Akankah semua perjalanan itu berakhir seperti harapan Nyatanya suatu perjalanan akan berbeda dengan harapan Ketika kenyataan berbeda dengan keinginan Lantas apakah kita bisa mengubahnya?
4. Judul: Kerinduan Terhadap Seseorang Pergi untuk meraih masa depan Meninggalkan segala kenangan masa kecil Peluk hangatnya yang kian memudar Tangis yang tak terbendung Dimanakah aku akan merasa aman Apakah seperti lirik lagu “Ku aman ada bersamamu” Jika benar akan ku bawa selalu kalimat itu
5. Judul: Secarik Kertas Terlihat biasa jika dilihat Terasa ringan jika diangkat Bergitu banyak makna yang tidak bisa diungkapkan Melihat hanya secarik kertas bertuliskan “Semangat!” Membawa perubahan bagi pembacanya Mungkin biasa jika dibaca Namun akan sangat berarti bagi orang yang tepat Teruslah melangkah demi keyakinanmu
Nama: Indra Ardhana NIM: A310200174 Kelas: 5B Mata Kuliah: Menulis Kreatif Karya: Antologi Puisi
Judul: Riak Air
Lambaian dahan sang ilalang Menjadi saksi rasa yang tak pernah hilang Sungai cinta telah bermuara Bertemu samudera indah sang empunya
Tetes demi tetes cinta yang kau suguhkan Menjadi riak air di permukaan Meluas dengan perlahan Pusatnya ialah dirimu sang idaman
Merdu seruan kasihmu Indah belai cintamu Menjadi alunan syahdu Melepas segala ragu
Judul: Artefak
Nyatanya kini era kita telah purna Kita bukan lagi tokoh utama Jika semula kita saling menyema, perkara dan semua yang serba bertautan, Kini tak lagi kita tabur benih badai yang kelak tumbuh perlahan
Kita kekalkan prasasti yang tak lagi menorehkan aksara cemburu Kita bukan lagi nenek moyang yang berburu dan meramu Maka marilah kita mencecap setiap jengkal jejak
Langkah yang abadi dalam pikatmu Setangkup kekal yang kita pertanyakan, seberapa besa ria hingga sampai menuju keabadian? Apapun itu mari kita abadikan
Judul: Bermuka Dua
Berlagak seperti muka manis Ketika menggores kapur di papan tulis Terkadang pula Kau harus bersikap munafik Demi mereka yang periang
Walaupun susah, sebenarnya melanda. Diriku tak punya apa-apa, sayang. Cuma sedikit ilmu dan buku usang. Jangan takut anakku Saat nanti libur tiba Datang, mainlah ke rumahku.
Bangku yang reot itu Toples, blong yang kosong itu Sendok yang tak berdenting dengan piring itu Dan gelas yang tak berisi air
Mereka bersaksi tentang diriku Tentang cerita hidupku, sebagai guru Sungguh, diriku berharap Kau tetap mencintai aku anak-anakku
Judul: Ah Kamu
Debur yang beda, debar yang sama Cinta tak hanya cahaya, melainkan waktu Seperti kamu yang lebih memilih bulan baru daripada purnama, Tapi kenapa kamu selalu hadirkan ronanya, di kedua pipimu?
Petang yang berlainan, rasa yang terindukan Sayang yang dibuat-buat itu berbeda dengan dibuat sayang Sama dengan kamu yang alergi pemanis buatan, Tapi mengapa kamu buat manis setiap pertemuan?
Kota yang beda, Bali yang sama Kita yang berbeda selalu ingin bersama Seperti jika aku menjadi kepiting, Tetap saja kamu sodorkan pipi, untuk kucapit? Walalu aku menjelma ikan sapu-sapu, Tetap saja kau dekatkan bibir, untuk ku...
Ah, Kamu.
Judul: Neptunus
Temui aku di Neptunus Tempat deru ragu jadi rindu Metana, hydrogen, dan helium Cahaya merah dibuatnya biru.
Temui aku di Neptunus Dengan gaun indah menyapu lantai Dengan sepatu Cinderella Juga senyum yang bercahaya
Temui aku di Neptunus Tempat mantra-mantra suci bermuara Tempat asap doa mengepul Lalu terbang menembus langit
Bawa pena dan bukumu Mari menulis bersama Tentang langit, tentang bintang Tentang triton, proteus, juga Thalassa
Selama kita saling percaya Takdir akan selalu menang
Judul: Legenda Sangkuriang, Asal Usul Gunung Tangkuban Perahu
Danau mu telah mengering Perahumu hanyut tanpa dayung ke dalam kabut Dan kau, Sangkurian, berhentilah menulis puisi Dayang Sumbi kini telah menjelma dingin yang diam
O Sangkuriang Mencintai tak pernah salah, Tapi kadang hidup punya banyak cerita yang perlu kau baca Perlu kau tata hidup yang juga punya cerita, yang kau sendiri lakunya
O Dayang Sumbi Bohong adalah Ibu dari dusta yang lain Siapa ayah siapa ibu siapa kau dan siapa sangkuriang Kabut menjelaskan semua, dingin mengabadikan semua. Legenda membenarkan semua, mencintai tak pernah salah.
Judul: Hari Itu
Semalam, seperti biasa Aku duduk di ujung dermaga Mengamati bintang, mengamati diri
Satu-satu aku melihat lebamku menghilang dari tubuh Kini mereka aku temukan si sudut-sudut ingatan Barangkali, ingatanku sudah menjadi tumbuhan laut yang rimbunnya melindungi ikan
Sebab, bukan hanhya satu dua Yang aku hanyutkan di dermaga itu Bisa jadi rubuan
Apakah pilu bisa menumbuhkan kehidupan? Karena yang aku tau, berkali-kali aku mati Berkali-kalo pula aku hidup karenananya.
Nama: Zulfa Mabila Herman NIM: A310200077 Kelas: 5A Mata Kuliah: Menulis Kreatif Karya: Antologi Puisi
1. Puisi Judul “AKU” Aku tau diriku terlalu berharap lebih Aku tau semua akan menjadi angin lalu Aku tau bayanganku perlahan menjadi benalu Aku tau semakin hari dia menjauh
Tapi apakah kau pernah berpikir dengan hati teduh Bagaimana diriku berusaha menggapaimu Sampai diriku tak tau dimana akan berlabuh Dari sekian umat kenapa aku memilihmu?
Hati dan pikiran selalu mengeluh Seolah ingin mengungkapkan sikapmu Apa kesempatan memang tidak datang untukku?
Judul “Bangku Kosong” Bukankah ini keinginanmu, memilih siapa yang harus dikorbankan Diriku menjadi lemah. Bahkan meninggalkanku sendiri didalam kegelapan Siapakah dirimu sebenarnya?
Haruskah aku yang sengsara? Tidak ada satupun yang menemaniku. Kondisiku telah using, memangnya siapa yang akan datang menolong
Tak satupun sudi menyentuhku, bahkan mereka memandangku tak berguna Aku tidak ingin berharap, karena fakta membenarkan pikiran mereka. Aku menjadi tempat rapuh yang lemah Aku, si bangku kosong.
Judul “An” Aneh, dia berucap seolah membutuhkan Tapi tak satu kata keluar memberitahukan Bagaimana ini, jika keduanya saling diam Tidak ada yang bisa diungkapkan Omong kosong mengelabui pikiran Sampai lupa kesempatan menunggu di depan
Nama : Dias Azizah NIM : A310200120 Kelas : 5B Mata Kuliah : Menulis Kreatif Karya : Antologi Puisi “Langit air basah”
1. Judul : Langit air langit basah
Dalam genggaman awan Tersimpang gelombang Dilukis cahaya warna warni Tergambar masa dibelakang kian menggoda Lalu lintasan pelangi adalah rona Indahnya....oh alangkah indahnya
Lalu................................! Lukisan berbagi posemu Diantara buih buih dan gelembung air Sukmaku mengaca dan mengambang Berakhirkan?
Nafasku masih diam diarus deras Tak satupun bebatuan dapat kupegang Bair masa mengasuhku Biar sekian lama kupendam dalam Bayang bayang kolam Tak bisa beranjak dari kerinduanku Dalam segenapmu Hai terpuja dalam diam
2. Judul : Tamu tamu memasang pasung dihatimu
Lihatlah geriap dedaunan hijau Ditingkap jendela teduh Memang terasa ada lika liku Terkadang menyampir sembilu Tiupan bayu Cahya mentari dan kicau burung burung Kenapa binar matamu tajam? Menggantung di setiap langkahku Dunia penuh bintang bintang Kutatap hanya satu, kamu
Diantara riak ombak dan gemuruh sopan kerucut Kusimpan farasmu diantaran rusukku Meski tamu tamu datang memasang pasung pada lengan dan kakimu Aku sering rengkuh kecintaanku di atas asa Persaingan kasihmu menabuh genderang perang
Sauh telah kutambatkan di dermaga Berjuta anak panah telah kucurahkan keangkasa Menggeleparlah hati yang terkena Jika memang ini titahnya Ditulangku yang hilang Tak akan kubuang cinta Meski aku hanya serpihan malam malam mimpimu Hanya sebatangkara Hanya seorang pengelana
Ini batangan puisi Requiem disudut waktu berlalu
3. Judul : Sebenarnyalah
Kau sebenarnya paham. Tatapanku adalah ribuan puisi. Bunga bunga mekar harum dan berbekas Angan angan melukis langit langit kamarku. Mendekap erat jatungku. Meluruhkan nafsu nafsu dan pecah pada ombak. Menyuburkan putik putik. Memerahkan bibit rona cinta
Kau genggam bendera. Lambang pada gairah malam kita. Begitu dukanya rindu di jemari waktu. Wahai kekasih. Bagaikan aroma semerbak gemerlap, terlelap. Angin dari gunung gunung Celoteh anak perawan riang di pucuk pucuk cemara. Berlari dan bernyanyi bersedekap, kala hujan mengguyur bumi.
Sesungguhnya sengatmu meracuni jalan darahku. Kegilaan hentakan kaki dan jatungku. Seperti menerjang kesana kemari Berdendang seorang diri. Gerak langkahku tanpamu, bagai langit tanpa bintang. Hidup ingin denganmu , maka jika sirna juga denganmu. Sebenarnyalah....................!
Nama: Fachrunnisa Asshidiq NIM: A310200046 Kelas: 5A Mata Kuliah: Menulis Kreatif Karya: Cerpen
PRIA ITU MISTERIUS “hari yang cerah, kuharap perjalanan ku hari ini juga sama cerahnya.” Ucap wanita itu dengan senyuman di bibirnya Pagi buta itu ia beranjak dari tempat tidurnya untuk segera berbenah diri. Duduk didepan cermin rias setelah ia membersihkan diri. Bersiap berdandan seperti akan menemui seorang kekasih, namun siapa sangka ia hanya akan bertemu pelanggan tokonya. Melangkah menuruni tangga, ya kalian bisa tebak tokonya berada dibawah ruang kamarnya. Ruko biasanya mereka menamainya yaitu singkatan dari rumah dan toko. “kring…” bunyi bel toko itu ketika pintu itu terbuka. “Erika…?” panggil wanita paruh baya itu “selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” “tidak usah terlalu semangat dipagi buta ini Erika, Hahaha…” “Ah… ibu saya kira siapa, Bukan terlalu semangat, ada pepatah berkata kalau bangun terlalu siang nanti rezekinya dipatok ayam” sahut perempuang itu dengan senyuman lembutnya. “iya…iya, apa kamu sudah sarapan, ini ibu ada sedikit makanan untuk mengganjal perutmu” ucap wanita paruh baya itu sembari menaruh kotak sarapan di meja kasir. “terima kasih ibu…,ini sudah lebih dari cukup untuk sekedar ganjal perut” “yasudah lanjutkan berbenah tokomu, aku permisi dulu” “hati-hati bu lastri…” ucapnya sambil melabaikan tangannya. 30 menit berlalu Erika menghabiskan waktunya untuk membersihkan toko bunganya. Ia pun tak lupa menghampiri kota makan yang diletakkan di meja kasir. Tak disangka isi kotak makan yang dibukanya ternyata sangat banyak makanan didalamnya. Ia pun dengan rasa senang melahap makanan tersebut sembari menunggu pelanggan datang. “kring…permisi” ucap seseorang memasuki toko
Bagian 2: CERPEN "PRIA ITU MISTERIUS" “Silakan masuk…” ucap Erika sembari melihat pemuda itu melangkah mendekat “Ada yang bisa saya bantu?” “Selamat pagi kak, saya mau pesan sebuket bunga” ucap pemuda itu dengan wajahnya yang agak gugup. “buket bunga untuk acara apa kak kalau boleh tau?” “Ee… buket untuk wisuda” “oh.. silahkan dipilih sampelnya disebelah sana” dengan menunjukkan contoh2 buket bunga yang ditempel didinding ruangan. Pemuda itupun melihat sampel-sampel buket yang terpampang didepannya, ia pun semakin bingung dengan pilihan yang sudah tersedia. “hah…yang mana yang harus kupilih untuknya?” gumamnya sembari menggaruk kepala kebingungan. Erika pun mendekat kearah pemuda yang tampaknya kebingungan memilih model buket mana yang tepat. “apakah untuk seorang perempuan?” ucap Erika yang berdiri tak jauh di belakang pria itu. Pemuda itu terperanjat dan mengiyakan dengan hanya bisa mengangguk malu kepada Erika. “tidak usah malu-malu saya sudah biasa mendapat konsul pelanggan untuk memilih bunga yang tepat pada kekasihnya” ucap Erika dengan senyuman manisnya. “tolong buatkan buket bunga yang bagus ya kak untuk seseorang perempuan yang saya suka” “Siap, untuk kapan buket ini akan diambil?” “besok apakah bisa?” “tentu, mohon ditunggu ya kak, saya akan buatkan bill pemesanannya” dengan rasa senang Erika pun melangkah ke meja kasir membuatkan bill pemesanan buketnya. “ini bill nya kak, besok dibawa untuk mengambil buketnya” “terima kasih kak, saya percayakan pada kakak untuk buket bunganya” ucap pria itu dan setelahnya keluar dari tokonya dengan perasaan senang.
Bagian 3 : CERPEN "PRIA ITU MISTERIUS" Hari semakin siang beberapa pelanggan setiap jamnya datang, tak banyak namun juga tidak sedikit juga pelanggan yang datang. Ada yang pesan ada yang langsung membeli bunga membuat Erika senang dan tak memiliki rasa lelah untuk melayani klien-kliennya yang meminta tolong untuk dipilihkan bunga yang bermakna bagus dan tepat untuk diberikan pada seorang. Waktu menunjukkan pukul 12 siang, sembari menyicil membuat buket pesanan Erika pun akhirnya mengambil waktu istirahat sejanak dengan menikmati jajanan-jajanan yang dibelinya 10 menit yang lalu. Ia pun mendekat kearah pintu dan membalik sebuah tulisan open menjadi close untuk sementara waktu. Ia pun keluar dari tokonya tersebut dan tidak lupa mengunci pintunya. Berjalan-jalan menyusuri trotoar yang disampingnya terdapat berderet-deret toko selain ruko bunganya. Dengan memegang snack yang ia gengam ditangan semabari berjalan ia juga memakan snack itu. “Erika…” sapa ibu Lastri yang pagi ini mengunjungi tokonya “kemarilah…” “iyaa…” ucap Erika dan melangkah menuju toko roti ibu Lastri “nah… sini duduklah disini, kau mau apa akan ibu hidangkan segera” “tidak usah repot-repot bu…” “ah.. tidakpapa, yasudah ibu kebelakang sebentar ya” Toko roti yang didesain seperti café itu cukup aestetik dipandang suasana yang tenang membuat Erika dapat menghilangkan rasa penatnya sejenak. “kriet…blam, permisi” ucap seorang pria yang masuk dalam toko itu dan melangkah menuju dapur toko. Pandanganku tak lepas dari pintu dapur, mengingat-ngingat perawakan pria itu yang tadi begitu jelas, tinggi, gagah dan berkulit putih. “siapa? Karyawan? Tidak mungkin?” gumam Erika Tak lama kemudian pintu dapurpun terbuka dan keluarlah ibu Lastri yang membawakan pizza buatannya dan secangkir minuman coklat dingin. “makanlah yang banyak, masih lama waktumu untuk membuka toko bukan?” “hah… ibu tidak usah repot-repot” “ah…, tidakpapa makanlah, ibu lebih senenag kalau melihat mu makan masakan ibu dengan lahap”
Bagian 4 : CERPEN "PRIA ITU MISTERIUS" “iyaa…iya, selamat makan..” pandangan Erika yang masih belum lepas pada pintu dapur dan seperti bertanya-tanya siapa pria tadi. “kenapa?” Tanya ibu lastri membuyarkan lamunan Erika “ah… tidakpapa bu, masakan ibu enak sekali kejunya aku suka” 30 menit Erika setelah meninggalkan toko untuk berkujung ke toko roti bu Lastri. Ia pun membuka kembali tokonya. Kembali ke kesibukannya membuat buket pesanannya. Keesokan harinya seperti biasa Erika membuka tokonya lebih awal karena ada beberapa pelanggan yang akan mengambil pesanan buket bunga. Ketika membuka pintu toko tak sengaja ia melihat seorang pria yang taka sing baginya. Ya, laki-laki yang dilihatnya ketika di toko roti bu Lastri tersebut sedang berjalan kaki di sekitar trotoar di sebrang toko bunganya. “Dingin sekali” batin Erika, dengan masih terpana pada laki-laki yang sedang berjalan santai menyusuri trotoar yang masih sepi sembari mengenakan earphone warna putih. “permisi kak?” ucap seseorang membuat buyar lamunan Erika “eh… iya selamat pagi, mau ambil bunga pesanan ya” “iya kak, apa sudah jadi?” “sudah kok mari masuk saya siapkan packingnya” “iya kak” Tak disadari disebrang trotoar ada yang balik memperhatikannya dengan senyum gemas ketika melihat Erika berbicara dengan pelanggannya. “pantas Ibu menyukainya” gumam pria itu. “Riko…” Panggil wanita paruh baya pemilik toko roti “yaa… aku kesana” ucap pria itu sembari berlari kecil mengghampiri bu Lastri yang memanggilnya. Sedangkan di dalam toko bunga tersebut ada yang sibuk mengagumi karya buket bunga yang indah diluar ekspektasinya. “wah… bagus sekali kak” “eh…tunggu dulu masih ada yang kurang” diambilnya pewangi dan disemprotkan kearah buket bunga yang ia buat. “wah…wangi sekali, pasti dia suka, terima kasih ya kak”
Bagian 5 : CERPEN "PRIA ITU MISTERIUS" “sama-sama semoga berhasil ya” ucap Erika diiringi senyum bahagia karena buket yang ia buat memuaskan pelanggannya. Erika pun membukakan pintu keluar untuk pelanggannya tersebut, namun tak disadari bu Lastri sudah berada di depan pintu tersebut dan membuat Erika terkejut. “Astaga…Bu Lastri” “kak saya permisi dulu ya sekali lagi terima kasih” “eh.. iya sama-sama” “hmmm… anak muda zaman sekarang mudah sekali mengenal cinta ya” ucap bu Lastri “hehehe… bukan hanya sekarang bu dulu juga begitu bukan” sahut Erika dengan kikikan kecil. “hahaha… kamu bisa saja” “ada yang perlu dibantu ibu?” “em…Erika datanglah ke toko kun anti siang saat waktu makan, aku ada menu baru yang mau ku rilis tapi harus kamu dulu yang mencoba ya?” “siap ibu, saya selalu siap khusus untuk bu Lastri” “yaaa… aku tunggu nanti jangan terlambat ya” “siap” Waktupun tak terasa berlalu sangat cepat hingga tak disadari sudah menunjukan waktu istirahat. Erika pun segera bergegas membereskan tokonya untuk tutup sementara waktu dan menuju menjadi tamu undangan café and cake milik bu Lastri. “kriet…”bunyi pintu toko roti itu ketika terbuka menandakan Erika yang sudah masuk di dalam toko. Ia hanya terdiam ketika yang dilihatnya pertama kali bukan orang yang mengundangnya melainkan pria yang ia temui dipagi hari tadi sedang menunggu dimeja kasir yang fokus pada minuman coklat dingin yang ia buat. “ada yang bisa dibantu” ucap laki-laki itu yang perlahan memandang Erika yang mematung gugup. “ee…bu Lastri?” “duduk saja dulu, disebelah sana” ucap laki-laki itu tanpa ragu dengan melemparkan senyuman hangat pada Erika.
Bagian 6 : CERPEN "PRIA ITU MISTERIUS" Erika pun melangkah pada tempat duduk yang ditunjukkan oleh lelaki tersebut dengan perasaan aneh, malu, dan gugup. “Erika?” panggil wanita paruh baya itu, disusul oleh pria tinggi yang berdiri dibelakangnya “bu Lastri” “oh ya Erika kenalkan ini putra ibu yang bernama Riko, dia baru pulang dari studinya di Belanda, yang dulu sudah pernah ibu ceritakan” “Riko” sembari mengulurkan tanggannya untuk berjabatan tangan “Erika” Erika pun membalas uluran tangan itu dengan perasaan campur aduk ‘tampan’ batinya. “senang bertemu dengan mu” Erika hanya bisa tersenyum, ia kira awalnya pria itu sangat dingin dan tidak mungkin dapat diajak bicara namun ternyata baik dan bisa lemah lembut juga. Senang bisa berkenalan dengannya. TAMAT
Nama : Atika Puspita Dewi NIM : A310200182 Kelas : 5B
1. Senja Yang Indah Keemasan cahaya di cakrawala Di ufuk barat saat hari mulai senja Terbelalak mata saat memandangnya Keindahan dari sang maha pencipta
Sang surya bersiap untuk tenggelam Menjemput mesra ketenangan malam Meneguk cahaya dalam-dalam Menyempurnakan keindahan malam
Lembayung indah tampak kekuningan Gradasi warna bagaikan lukisan Di sudut langit yang tipis berawan Hiasan terbesar sepanjang zaman
2. Senja, Keindahan Yang Tidak Terganti Siang mulai berganti Warna langit pun berubah menjadi jingga Burung-burung silih berganti terbang di tengah warna jingga yang kian melebur di langit sana Siapa saja yang melihatnya, akan takjub dibuatnya Waktu terus berlari Warna jingga pun terkikis secara perlahan
3. Awan Bertebaran di angkasa Putih, kelabu, dan hitam Warna -warna menawan Bergelombang mengombak-ombak
Tebal dan sangat indah Bahkan sang bagaskara tak terlihat Pelangi terlihat tak penuh Karena sang selimut menutupinya
Jauh disana Menyelimuti jagat raya Tebal tipis Beredar dimana-mana
Indah bukan buatan Ingin rasanya memeluknya Lembut dan menawan Indah tak terperikan
4. Sawah Sawah di bawah emas padu Padi melambai, melalai terlukai Naik suara salung serunai Sejuk di dengar, mendamaikan kalbu
Sungai bersinar, menyilaukan mata Menyamburkan buih warna pelangi Anak mandi bersuka hati Berkejar-kejaran berseru gempita
Langit lazuardi bersih sungguh Burung elang melayang-layang Sebatang kara dalam udara Desik berdesik daun buluh Di buai angin dengan sayang Ayam berkokok sayup udara
5. Keindahan Alam Indonesia Saat aku membuka mataku Ku tak percaya bahwa itu nyata Aku masih berpikir bahwa aku masih bermimpi Tetapi aku sadar bahwa keindahan itu benar-benar ada di depanku Sungguh indah kepulauan ini Ribuan pulau-pulau berjajar Membentuk gugusan pulau yang indah Gunung-gunung berbaris dari ujung barat ke ujung timur Samudra luas membentang dengan air yang biru Dan berisi keindahan di bawahnya Aku bangga menjadi anak Indonesia Aku berjanji aku akan menjagamu 6. Sekolah kehidupan
Disini Dimana saja Sekarang dan kapan pula Aku belajar di sekolah kehidupan
Dari alam semesta dan peristiwa Guru sejati membimbingku Kulihat wacana membuka pengetahuanku Kudengar kisah petualangan dalam perjuangan
Kulalui lorong pengalaman bersama dengan teman-temanku Kutandai setiap kejadian Kucatat semua hikmah dari peristiwa Sebagai bekalku merajut masa depan Melancarkan jalanku mencapai tujuan 7. Buku Susah payah memikul buku Tiap hari bertemu dengan guru Demi mendapatkan yang namanya ilmu Lalu ada ujian negara
Orang bilang lebih susah Daripada ujian biasa Kita belajar susah payah Kalau buntu, menyontek pun menjadi pilihan
Jikalau gagal Nilai sempurnapun tak ada artinya
Tapi apalah daya Pendidikan memang kita butuhkan Kita harus melewatinya dengan baik
8. Sekolahku Tempatku menuntut ilmu Tempatku membekali diriku Dengan keterampilan dan ilmu
Sekolahku Bersama guru aku belajar Semua ilmu pengetahuanUntuk bekalku di masa depan
Sekolahku Disanalah aku belajar Bergaul bersama dengan teman Juga mentaati segala aturan
Terimakasih sekolahku Kau telah menjadi tempat belajar Bagiku dan teman-temanku
9. Pejuang Pendidikan Di sebuah rumah pendidikan Kita belajar dengan tulisan Mengerti dengan bacaan Bergelut dengan hitungan
Siapa yang ikhlas memberi Ilmu dan sebuah perjuangan Tentang hidup dan masa depan Mengejar ribuan impian
Figur yang tak terkalahkan Ditiru dan dibanggakan Bukan digugar untuk disalahkan Bahkan sampai dijatuhkan
10. Meraih Mimpi Bilamana mentari bangun pagi Kusiap mengawali hari Dengan sejuta harapan dan mimpi Kan kuwujudkan demi bangsa ini Meski adanya pandemi seperti ini Namun yak menyerah diri ini Tak kan ada kata putus asa dan malas diri Kini saatnya berusaha dan meraih mimpi Janganlah terlena dengan dunia ini Kita harus mengerti dan tahu diri Betapa kerasnya hidup ini Untuk mewujudkan sebuah mimpi
Nama : Anggun Oktavia NIM : A310200192 Kelas : 5B/PBSI Mata Kuliah : Menulis Kreatif Karya : Antalogi puisi
1. Setetes Kenangan Hujan Dulu Saat semburat merah jingga nan elok Saat gumpalan kapas gelap bersanding bersama cakrawala Tetes kehidupan jatuh serentak Membombardir ribuan kilometer lahan Impresi menguap di atas tanah Larut bersama wewangian hujan Di bawah rintik-rintik nikmat Tuhan Tersemat manis indahnya janji masa depan Penuai kebahagiaan semu berselimut basah
Kini Harus beradu dengan nestapa Menatap seruan hina yang menyayat jiwa Menusuk hingga rindu menyeruak keluar Dengan satu tarikan napas gusar.
2. Lukisan Khayalan Sewaktu kugoreskan pensil diatas kertas putih, kulukiskan eloknya parasmu, sembari kuputar lagu bertajuk cinta , membikin keadaan romantis terwujud,
Kamarku yang sempit berserakan, seakan jadi restaurant berkualitas, sinar lampu yang terperinci , berubah jadi 1 lilin ditengah-tengah meja makan,
Lukisan parasmu kubayangkan ialah diri kamu, seperti kita lagi duduk berhadap-hadapan pada 1 meja, aku memandang eloknya parasmu, dan kamu menatap ke bawah alasannya tersipu aib,
Aku dan kamu takut buat mulai pembicaraan, maka kondisi jadi membisu tanpa ada nada, hanya ada alunan musik yang merdu, berikut ini fantasi waktu saya melukis eloknya parasmu
3. Bahagia di Alam Raya Setiap kali menatap langit-Mu, Yang membentang indah membiru, Disertai sapuan awan gemawan, Lapang pulalah rasa dadaku.
Tiba-tiba berlaksa bahagia, Memenuhi telaga dalam hatiku, Karena aku tahu Tuhanku Maha Indah.
Hari ini, Aku merindukan pertemuan dengan-Mu, Dan esok aku mengharapkan perjumpaan.
Aku tahu, dunia ini begitu indah, Tapi keindahan abadi hanya di surga. Maka ke sanalah jiwaku menuju Melepaskan diri dari hiruk pikuk dunia.
4. Berjiwa Bagaikan Alam Aku ingin setenang gunung, Selapang langit, Setekun sungai, Seteduh pepohanan.
Karena jiwaku menyukai mereka, Begitu pula jiwa-jiwa lainnya. Karena mereka Memberikan ketenangan, Menghadirkan kelapangan, Keteduhan dan pengajaran.
Biarlah kunikmati hari ini Berada di tengah-tengah Bentangan alam.
5. Sahabatku, Keluargaku Sahabatku adalah keluargaku Sahabatku adalah bagian hidupku Engkau menemaniku Engkau melindungiku
Hujatan berceceran kepadaku Masalah berdatangan kepadaku Tetapi engkau sahabatku Tak pernah mengeluh untuk menyemangatiku
Kau seperti keluargaku Ada dikala sedih Ada dikala senang Kau adalah manusia sabar dengan segala kebaikanmu
6. Tak Lekang Oleh Waktu Diawali dari perkenalan Tersusun menjadi keakraban Mengisi hari-hari penuh makna Terjalin persahabatan antara kita
Hari-hari kian berlalu Walaupun aku dan kamu hanya sebatas waktu Kita telah ukir sebuah persahabatan Melangkah dalam satu rasa, suka maupun duka Telah berlembar-lembar cerita kita torehkan Berbaur dalam persahabatan yang indah Kamu begitu mengerti apa mau dan maksudku Sahabat… kaulah teman dalam hidupku Tak pernah membenci menyakiti Tak pernah pula berhenti memberi motivasi
Sahabat… Waktu telah bergulir Tali persahabatan telah kita rajut Bersama kita semaikan bunga-bunga di hati Dalam hasrat ini, dan dalam angan ini dan dalam asa mimpi ini Hanya satu kuingin, hati kita sama Di dalam satu kalimat, bahwa aku dan kamu
7. Bingkai Kehidupan Masa demi masa berlalu sudah Kemana kaki jalan melangkah Liku-liku kehidupan mengukir sejarah Kini saatnya berpotret diri Berbenah dari segala keburukan Meningkatkan semua kebaikan
Ramadhan sebentar kan tiba Kini saatnya tuk membuka pintu hati Memaafkan semua kehilafan
Mari kita sambut dengan gembira Dengan memperbanyak ibadah Tuk menggapai tingkatan taqwa Derajat tertinggi disisi khalik Semoga Allah selalu membimbing kita Dan nanti memasukkan kita dalam surga-Nya
8. Aku Bisa Aku tak lelah Aku hanya butuh dorongan Aku tak menyerah Aku yakin Aku bisa
Ini bukan sebuah beban Tapi tantangan Pengalaman membuatku berani Berani hadapi tantangan Tak boleh takut gagal Karena setelah kegagalan akan ada kesuksesan Kegagalan adalah pembelajaran menuju sukses Aku yakin Aku pasti Bisa
9. Langit biru Langit biru yang berlalu padanya awan awan putih Sebagian awan membentuk imajinasi Sebagian lagi membentuk perasaan Saat ku basuh air ke mukaku Kudapati perasaan yang berbeda Jernih ku pandang air itu Seolah berkata pergilah, hadapilah Ketika kita membaca sebuah buku Kita akan terbawa ke langit fikiran Dan termenung di dasar emosi Jangan takut, jangan tertipu Waktu tak akan membalik lembaran Sebelum berkehendaknya hati
10. Jingga di langit senja Kala rona jingga menghias langit senja Kutitipkan sekeping hati pada cakrawala Diantara mega-mega, dalam balutan penuh rindu yang memerah diufuk jiwa
Senja perlahan memeluk malam dengan warna gelap yang meliputi menanti penuh harap pada jemari kasih, yang kan menyibak tirai gulita pada hamparan padang sunyi
Saat purnama menyapa ditepian malam kan kutuangkan goresan rasa kedalam cawan jiwamu Agar kau tau Disetiap detak nadiku Hanya ada namamu Yang terukir indah dalam relung sukmaku
Kasih Ejalah dengan nurani setiap bai-bait yang mewakili perasaan hati Dan kau akan tau betapa beningnya tulus ini Tanpa beban mimpi yang tak bertepi
11. Hargai Prosesmu Ada yang sedang bahagia Juga menderita Ada yang berbunga Juga merana Ada yang mencinta Juga kecewa Ada yang tertawa Juga terluka berbagai warna di hidupmu adalah cerminan dari tingkah lakumu bersiap diri dalam setiap kesempatan untuk merubah menjadi keberuntungan
Nama : Yoga riyanda nim : a310200084 kelas : 5B karya : puisi
Bidadari Dalam Hujan
Kulihat awan-awan yang mendung Seolah memberi syarat kepadaku Tentang kedatangan kebahagiaan yang tiada batas dan tiada hingga...
Hembusan angin yang menyentuh seolah mengambil rasa penasaranku kepada suasana ini suasana yang membuatku bertanya-tanya kepada tanda-tanda keagunganNYA...
sekejap kilatan petir yang turun ke bumi menandakan jatuhnya bidadari didepanku dengan kecantikan seperti permata putih suci dan berkilauan cahaya surga yang menyilaukan saksi saksi bisu dan menghentikan sepersekian detik waktu dalam diriku...
Hujan yang hanya seorang berubah menjadi tentara air yang siap mengepung diriku dan memutuskan semangatku
genderang perang tiba-tiba berbunyi dalam diri ku siapkan panah untuk memenangkan ini jika hujan ini tercipta untukku aku akan ikhlas dengan dingin, basah dan lelahnya tubuh ini demi dirimu, lukisan indah Tuhanku...
Lukisan Sore
Terbenamnya malam.... Mengukis orensnya atsmosfer yang gelap dan kelam aku melihat seolah mataku tertancam dalam lukisan Sang Pencipta yang sangat indah suara burung yang menggema di telingaku seakan menuntunku kedalam kedamain kedamaian antara dunia dan akhirat hitam putihnya hti ini akan terenyuh oleh ketenangan... suasana matahari tenggelam diantara pegunungan yang tinggi menjulang... betapa hebatnya Tuhan menciptakan alam semesta beserta isinya...
GRAVITASIKU Dalam gelap kau berikan sinar Dalam dingin kau berikan kehangatan Kau mampu datang secepat jantungku Yang berdetak di setiap mata ini melihatmu
Kau membuat api yang dapat merangkul tubuh ini Menumpulkan tajamnya jarum malam Mengikiskan setiap batu yang keras Dan menemaniku di setiap berjalannya jarum merah Jarum merah jantungku , jarum merah hatiku
Tak akan menjadi indah kata-kata yang ku buat Jika matahari tak lagi bisa bersinar dan mengorbit Di sisiku selamanya Karena hanya kamu gravitasiku....
kalo yang dibawah ini sebenernya tugas sekolah ane dulu..... aku posting sekalian aja buat ramadhan bulan juli besok biar tambah mantab ramadhannya :v
Hadiah dari Tuhan
Ketika masalah menghampiri Ketika jiwa tak terobati Tapi jika membacamu Jiwa ini terasa hidup kembali
Kau adalah wahyu yang terwariskan Untuk mengobati jiwa-jiwa yang tersesatkan Untuk kembali ke jalan yang benar Hingga tiba pada saatnya nanti pada saat akhir zaman
Terimakasih TUHAN Karna telah memberikan hadiah terindah Bagi hambamu ini Yang sangat lemah tanpamu
Terimakasih TUHAN Karna dengan petunjuk-petunjukmu Semua masalah terselesaikan Lewat kitab suci ini, kitab suci Al Qur’an
Gemricik air mulai terdengar Pohon - pohon mulai menari Kulihat pemandangan yang indah
Sang Penciptalah Yang membuat itu semua Membuat kita sadar Atas nikmat Tuhan Yang tiada batas
2. Kitab Penerang
Kubuka setiap malam Lembaran demi lembaran Kitab penerang
Kumulai membaca Ayat demi ayat Dengan lantunan merdu Yang meneduhkan hati
Mencari benang merah kehidupan Yang sudah kusut Dengan meluruskannya
Memberikan petunjuk yang benar Menyadarkan bagi yang lalai Memberikan hak kepada yang berhak
3. Sampah
Kunikmati setiap langkah Menuju ke suatu tempat Yang tak terduga olehku
Di depan mataku Terdapat gunung sampah Yang siap meledak Dan memunculkan asap yang tak sedap
Banyak lalat yang terbang silih berganti Banyak belatung yang berjalan Dan banyak hewan yang mencari sumber penghidupan
Kenapa orang tak sadar diri Untuk membuang sampah Pada tempatnya
Padahal.... Kebersihan itu Sebagian dari iman
4. Air
Jika kau menghargai air Air akan menghargaimu Dengan memberikanmu penghidupan Penghidupan setiap yang ada di bumi
Memiliki banyak manfaat Untuk kelangsungan hidup Manusia hewan tumbuhan
Dan untuk keperluan umat manusia Dari hal yang kecil dan besar
Jangan pernah mengotori air Air merupakan Kelangsungan hidup dibumi
5. Nikmat Illahi
Menikmati setiap keindahan Yang engkau Anugerahkan kepada kita
Kita sepatutnya bersyukur Atas nikmat Yang engkau berikan
Begitu banyak nikmat Yang diberikannya Kepada kita
Kita tidak boleh mengecewakannya Dengan cara merusaknya
Kita harus.... Slalu menjaga Agar tuhan Slalu mencintai kita
6. Awan Hitam
Betapa hancurnya hati ini Ketika mendengar awan hitam Yang berlalu
Dari mulut ke mulut Awan hitam telah datang Begitu cepat
Tidak kuat hati ini Hancur berkeping - keping Menjadi partikel debu tak terlihat
Tidak tahan raga ini Untuk menopang Kehidupan yang pelik
Begitu menyesak di dada Begitu sakit seluruh tubuh
7. Jejak
Derap langkah tak berarti Mengikuti arus kehidupan Yang begitu fana
Mengerti arti sebenarnya Melangkah dengan hati Melakukan dengan jiwa
Terus maju tanpa henti Mengikuti hasrat tanpa batas Menembus garis takdir
Mewarnai jalan kehidupan Dengan beribu makna Tiada tara
Menjalani kerasnya dunia Terus melangkah Tiada henti
Demi mewarnai kehidupan Dengan langkah sebenarnya Seperti air mengalir dengan tenang
Tanpa takut suatu hal Terus berjalan Menuju lautan kebahagiaan
8. Bola Sinar
Bola sinar..... Mulai menyirami bumi Dengan cahayanya Menghiasi langit Dengan membawa keceriaan Menenggelamkan petang di ufuk Membangunkan pagi yang terlelap Yang timbul di sela - sela dedaunan
Menembus embun Yang mulai menetes Seiring bola sinar muncul
Memanggil setiap makhluk Yang tertidur di kegelapan malam Untuk bangkit dan berjalan Demi menyukseskan dunia ini
Nama : Dina Putri Kinasih NIM : A310200111 Kelas : 5B Karya : Antologi Puisi
1. Pergi Kuliah Sinar mentari pagi tadi Begitu cerah menerangi Au segera mandi Demi kuliah kelas pagi
Sebenarnya begitu malas Apalagi jika cuaca panas Di jalan tetap patuhi lalu lintas Jangan sampai menerabas
Ya begitulah kenyataannya Demi kuliah aku rela
2. Mahasiswa Aku seorang mahasiswa Mahasiswa yang membawa perubahan Namun apakah aku bisa Aku masih sangat biasa
Perubahan dibawa oleh mahasiswa istimewa Bagaimana tidak istimewa Mereka rela kuliah rapat tak terkira Berjuang dengan sukarela Ya itulah sebenarnya mahasiswa
3. Cinta Semester Pendek Terduduk sendiri menikmati ramainya suasana kantin didalam kehampaan Kala itu aku menunggu pergantian kelas semester pendek Riuh ricuhnya suara kehebohan para remaja yang beranjak dewasa memenuhi telingaku Tapi tak ada satupun dari gelak tawa itu yang mampu memecah kesunyianku
Detik demi detik terlampaui Menitpun berubah menjadi jam Aku masih termenung menikmati heningnya jiwa Namun semua kesunyian yang telah lama kunikmati terganggu Kedua mata tak mampu memalingkan pandangan
Hei.. Siapakah itu yang datang seorang diri Tinggi bersih dan terhias pakaian rapi Itulah cerminannya Aku tak pernah melihat sosok hasil karya Tuhan yang satu ini sebelumnya
Dia yang beraninya tiba tiba datang memporak-porandakan hampaku yang tersusun rapi sejak lama Hei… Bolehkah aku memberi julukan cinta padamu.. Cinta yang kutemui melalui perantara ruang dan waktu dismester pendek
4. Tempat Bernaung Dalam Peluh Perjuangan Meraih Impian Ditempat ini Ratusan hari kuhabiskan waktu Tak terhitung lagi berapa jam dalam sehari Tempat yang terkadang terlihat menjenuhkan Ruang-ruang kelas yang terkadang membuat penat
Lengkingan suara bergeseknya deretan kursi yang terasa menusuk telinga Alunan suara para pengajar yang terkadang menjelma menjadi dongeng pengantar tidur Semua keluh kesah itu terasa tiada arti Ketika janji akan harapan meraih impian merayu didalam benak dan jiwaku
Secercah cahaya kehidupan menjadi alasan bertahan Senyum hangat dan renyahnya tawa para kawan Rangkulan diantara kesulitan Rumah ku yang lain Keluarga ku yang tak sedarah
Semua dipertemukan oleh semesta didalam ruang yang sama Terimakasihku untukmu Wahai tempat bernaungku dalam peluh perjuangan meraih impian Sang pelindung yang yang dikenal dengan julukan kampus
5. Terpaku di dalam kegundahan hati Terasa tak mampu ku lawan dengan jari-jari Tiada kembali area hari yang mulai ada Hanya lelah Lelah yang ku rasa……………
Andaikan kala itu tak terjadi Mungkin hatiku takan remuk seperti ini Langkahku terhenti di dalam kelamnya malam Mataku terkendala jurang yang dalam Pendengaranku sayup-sayup tak menentu Hatiku terombang ambing di dalam ombak kemarahan Ragaku tak berkuasa untuk berfungsi Mungkin ga ada kembali yang mampu terjadi kala ini Semangatku lemah hatiku susah Teringat malam itu yang menyakitkan Inikah kehidupan?
Kurasa seluruh bukan seperti ini Mungkin masih ada titik terang Yang bakal menyinari kegelapan hati Memberi pujian untuk diri sendiri Meredamkan seluruh yang ada kala ini Hingga aku mampu kembali ke kehidupan yang indah ini
Nama: 'Abidah Ulul 'Azmi
BalasHapusNIM: A310200094
Kelas: 5B/PBSI
Mata Kuliah: Menulis Kreatif
Karya: Antologi Puisi "Kata"
1. Judul: Aku
Semesta berbisik di benakku,
bahwa aku harus menulis,
Mengelana bersama jutaan huruf yang
tercecer tanpa cerita.
Semesta berbisik di benakku,
bahwa aku harus menunjukkan diri,
Bersama pena yang tak pernah surut
mengeluarkan tinta perbuatan.
Semesta membawa ku pergi berkunjung ke
neptunus, mars, dan saturnus.
Dalam potongan mimpi-mimpi yang
berserakan di malam-malam sunyi.
Aku, hanyalah aku.
Biarkan semua kertas ini terisi dengan banyak
kisah.
Aku di masa lalu, adalah aku.
Aku yang sekarang, adalah aku.
Aku di masa depan, tetaplah aku.
Aku tidak terlahir kembali.
Aku hanya kembali membuka mata.
2. Judul: Buram
Aku membiarkanmu semakin buram dari pandangan
Sebab diri tak lagi mengarahkan pandangan di tempat mu berdiri
Terperangkap untuk semakin menyalahkan keadaan
Sementara diri dipenuhi banyak beban
Cukuplah kau isi omong kosong
Cerita cinta yang romantis itu nyatanya tidak
Apa lagi, tuan?
Aku kini terlatih untuk terluka
3. Judul: Sandiwara
Waktu menghabisiku tanpa pendewasaan
Tak muda untuk mengerti bagaimana hebatnya terjatuh
Segalanya berkerumun dalam pikiran
Tapi tubuh tak peduli
Tergagap, sungguh mengagumkan sandiwara ini
Melankolis untuk sebuah pertunjukan drama
Sebab tampaknya, pemeran pendukung lebih bersinar daripada pemeran utama
4. Judul: Bertanya-tanya
Aku mencari tahu
Dari warna hitam dan putih
Dalam banyak detik dan berjam-jam
Beberapa waktu
Bagaimana itu terjadi?
Apakah salah atau benar?
Aku terjebak diantara keheningan dan suara
Tak lagi menggenggam dengan erat
Bertengkar dengan diri sendiri
Aku mencari tahu ...
Melihat seperti apa siang dan malam
Tanpa perlu manipulasi
Tanpa perlu beramai-ramai
Di sana
Akan selalu ada kebisingan
Mereka menatap cahaya dengan sudut pandang lain
Tak sama dengan tempat ku berdiri Bahkan jika itu seorang diri,
aku merasa tidak perlu mencoba seperti mereka
Berjalan, ikuti, dan buat cerita sendiri, aku lah pemeran utamanya
Meskipun aku, seorang diri.
Nama: 'Abidah Ulul 'Azmi
BalasHapusNIM: A310200094
Kelas: 5B/PBSI
Mata Kuliah: Menulis Kreatif
Karya: Antologi Puisi "Kata"
5. Judul: Siapa?
Ini rasa sakit
Menjadi takut dengan mata orang sekitar ku
Begitu pandai kau mengelabuhi
Banyak manusia bersyair bahagia jika jatuh cinta
Sebenarnya siapa yang mengatakannya?
Siapa?
Disini..
Aku masih begitu terbelakang
Jika kau menjadi aku, bagaimana kau akan menghadapinya?
Jika hari-hari yang gila dan menyesakkan ini menjadi milik mu? Apa kau tahu keadaan ku yang sekarang ?
Tak ada lagi tidur nyenyak
Menjadi semakin hancur
Hingga mati rasa
Kendati pun tak ada cara untuk mu kembali
Aku masih di sini
6. Judul: Luka
Namaku adalah luka
Aku membersamai di setiap langkah
Aku menyakiti di setiap perjalanan
Bukan karena aku ingin membuatmu berhenti
Tapi karena aku ingin membuatmu tetap bertahan
Aku adalah luka
Aku adalah rasa sakit
Aku adalah kepedihan
Aku adalah rasa yang tidak diinginkan
Sebuah luka yang menggendong pelajaran
Rasa sakit menumbuhkan kekuatan
Kepedihan yang mengundang sabar
Nyata adanya
Hidup ini tidak selalu tentang keinginan
Akan selalu dipenuhi dengan diriku
Jangan berusaha melarikan diri
Karena pelarian itu justru akan membuat semakin terluka
7. Judul: Usai
Malam ini aku memutar judul lagu yang sama.
Terus begitu, seperti di malam-malam yang lalu.
Aku ingin berhenti.
Tapi setiap aku mencoba untuk tidak melakukannya, rasanya itu sangat menyalahi aturan.
Malam ini aku mengingat kembali cara kita belajar dari kesalahan.
Bagaimana denganmu?
Dulu
Setiap pandangan kita bertemu adalah seperti sebuah pertunjukan yang sangat mengagumkan.
Seolah tidak ada lagi hal menarik di dunia ini selain dirimu.
Sekarang aku bertanya-tanya apa yang terjadi pada kita hingga kita menjadi asing satu sama lain.
Aku sangat terkejut dengan seberapa banyak kau membuatku mengeluarkan air mata.
Dan kenyataan bahwa kau pergi tanpa meninggalkan satupun luka justru membuatku semakin terluka.
Ini terlalu berlebihan.
Melewati saat-saat dimana aku tetap begitu jelas melihatmu, bahkan di saat mataku tertutup.
Melewati saat-saat dimana aku berjuang menutup kedua telingaku dengan telapak tangan, karena suaramu yang terdengar begitu nyaring.
Padahal kau bahkan tidak mengatakan apapun.
Rasanya bukan. Ini bukan aku.
Aku tidak bisa lagi mengenali diriku sendiri.
Bagaimana kamu masih mengisi hari-hariku sementara kita tidak lagi saling berbicara?
Seperti orang bodoh yang tetap berulang kali mencoba untuk mendatangimu, meski benar-benar tahu jika aku akan kembali tersakiti.
Malam ini aku menyadari kembali, bahwa aku belum benar-benar belajar dari kesalahan.
Bagaimana denganmu?
Malam ini aku membaca catatan yang sama. Terus begitu, seperti di malam-malam yang sebelumya.
Aku ingin berhenti.
Tapi setiap aku mencoba untuk tidak melakukannya, rasanya itu sangat menyalahi aturan.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusNama : Fani Devikasari
BalasHapusNIM : A310200004
Kelas : 5A
Mata Kuliah : Menulis Kreatif
Karya : Antologi Puisi “Kata” dan Cerpen
1.Judul : Pelangi
Terlalu singkat hadirmu
Namun berhasil mengukir senyum di bibirku
Dirimu yang tak pernah gagal membuatku takjub akan keindahanmu
Warna warni di langit kelabu
2.Judul : Baru Klinting
Kemarahan hati seseorang
Menciptakan air deras yang menggenang
Suara gemuruh tak karuan
Penduduk desa berlarian
Malam itu penuh dengan ketakutan
Ketakutan yang menciptakan kegaduhan
Hidup mereka tak terselamatkan
Air yang akhirnya menenggelamkan
Air yang menggenang
Menjadi rawa yang bening
Mereka menyebutnya Rawa Pening
Tercipta karena kemarahan baru klinting
3.Judul : Kehidupan
Kehidupan
Hidup punya banyak cobaan
Agar kita tahu bagaimana cara bertahan
Hidup tak selalu tentang keindahan
Kadang terbalut akan kesedihan
Kehidupan memang melelahkan
Tapi itulah kehidupan
Nama : Fani Devikasari
HapusNIM : A310200004
Kelas : 5A
Mata Kuliah : Menulis Kreatif
Karya : Antologi Puisi “Kata” dan Cerpen
4.Judul : Hilang Arah
Aku hanya bisa berserah
Berserah pada langkah yang hilang arah
Menjalani hidup dengan tabah
Berjuang mengubah lelah menjadi lillah
Rasa sakit yang kian parah
Membuatku ingin menyerah
5.Judul : Pintaku
Tuhan
Aku tidak meminta bebanku diringankan
Hanya berharap dadaku dilapangkan
Agar kuat menghadapi cobaan
Untuk menjalani kehidupan
Mengejar impian untuk masa depan
6.Judul : Tanya
Hujan rintik di awan kelabu
Rawan rindu berakhir sendu
Rindu yang terus menggebu-gebu
Ingin bertemu melepas pilu
Bagaimana kabarmu?
Bagaimana dengan hatimu?
Akankah kita akan bertemu?
Tanya yang memenuhi isi hatiku
Nama : Fani Devikasari
HapusNIM : A310200004
Kelas : 5A
Mata Kuliah : Menulis Kreatif
Karya : Antologi Puisi “Kata” dan Cerpen
10.Judul : Doa
Aku berusaha mengubah takdirku
Mengubah takdir dengan lantunan doaku
Memanggil nama-Nya di setiap sujudku
Berharap ridho-Nya di setiap hariku
11.Judul : Hujan
Dia bisa menjadi berkah
Namun juga bisa menjadi musibah
Dia selalu jatuh ke dunia
Namun tak pernah ada rasa trauma
Kemarin dia datang lagi
Hujan di sore hari
12.Judul : Andai
Andai waktu bisa diputar
Kan kuperbaiki kesalahanku
Andai aku tahu akan seperti ini
Aku tak kan melangkah sejauh ini
Nama : Fani Devikasari
HapusNIM : A310200004
Kelas : 5A
Mata Kuliah : Menulis Kreatif
Karya : Antologi Puisi “Kata” dan Cerpen
13.Cerpen : Ruli si Berang-berang
Pada suatu hari,seekor berang-berang bernama Ruli sedang menyusuri sungai.Ia melihat ada anak kelinci yang berteriak ketakutan karena hanyut terbawa arus.Ruli pun membantu anak kelinci itu dengan membawanya ke tepian.Di tepian sungai terlihat ibu kelinci yang mencari anaknya.Ruli pun menghampiri ibu kelinci tersebut dan mengembalikan anaknya dan menjelaskan apa yang terjadi ke ibu kelinci.Ibu kelinci tersebut bernama Tina.
Tina sangat berterima kasih kepada Ruli.Tina pun berjanji suatu saat akan membalas kebaikan Ruli.Ruli membalasnya dengan senyuman dan berkata bahwa ia tulus membantunya tanpa mengharapkan suatu imbalan.Tina pun terharu.Hari sudah mulai gelap,Tina pamit kepada Ruli untuk pulang ke rumah karena anak-anaknya yang lain pasti menunggunya.
Di keesokan harinya hujan begitu lebat.Hujan yang tidak kunjung reda menyebabkan air sungai meluap dan banjir.Hal itu membuat rumah Ruli terbawa arus banjir.Namun Ruli tak dapat berbuat apa-apa,ia hanya bisa menunggu hujan reda.Setelah hujan reda,Ruli terlihat sedih karena rumahnya sangat hancur berantakan.
Banyak potongan kayu yang hanyut terbawa arus banjir.Di lain sisi,Tina yang mendengar bahwa rumah Ruli hanyut terbawa arus pun tidak tinggal diam.Tina mengumpulkan saudara-saudara dan teman-temannya kelinci untuk meminta bantuan dengan mencarikan potongan kayu.Setelah potongan kayu dirasa sudah banyak.Tina dan yang lainnya membawanya ke tepi sungai.Tina memanggil Ruli.Ruli yang tampak sedih pun datang karena panggilan Tina.
Tina berkata “Ruli,aku dan teman-temanku mengumpulkan potongan kayu untuk kamu.Kami mendengar bahwa rumahmu hanyut terbawa arus banjir kemarin.”Ruli dengan mata berkaca-kaca pun terharu mendengar penjelasan Tina.Ia sangat berterima kasih kepada semuanya telah membantu mengumpulkan potongan kayu yang dapat digunakan untuk memperbaiki rumahnya.
Nama : ERNAWATI
BalasHapusNIM : A310200105
Kelas : 5B
Mata Kuliah : Menulis Kreatif
Karya : Puisi
1. Judul: Bersama Dirinya
Diantara berjuta manusia yang ada
Diriku hanya tertuju padanya
Dengan rasa yang tak terucap oleh kata
Deru hati yang tak terdengar oleh telinga
Siapa sangka jadi begini adanya
Bersamamu menghadapi dunia
Berdua merajut asa
Sebagai satu kesatuan jiwa
Langkahku menyatu dengan langkahnya
Jariku bertaut dengan jarinya
Kerasnya hidup tak terasa
Jikalau selalu bersamanya
2. Judul: Isi Kepala
Memikirkan hal yang tak berguna
Menduga-duga keadaan kedepannya
Merasa lelah setiap harinya
Mengkhawatirkan dugaan yang belum tentu benar adanya
Ingin pecah rasanya
Mungkin ini tahap dari usia
Syukuri saja apa adanya
Jalani semua dengan tawa
3. Judul: Bagaimana?
Bagaimana?
Jika kau menginginkan bintang
Tetapi yang kau dapat adalah bulan
Bagaimana?
Jika kau memiliki harapan yang terbentang
Tetapi Tuhan tak jua mewujudkan
Bagaimana?
Jika jiwamu tak kunjung tenang
Tetapi dipaksa tuk merelakan
Upaya apa yang dapat diri lakukan tuk mempersenang
Selain berpasrah pada keadaan
4. Judul: Syukur
Cahaya matahari menyambut pagi ini
Kulihat wanita tua pengais sampah bergegas menjemput rezeki
Aku tersenyum hangat sebagai tanda sapa
Agar diri tak dinilai jumawa
Satu karung yang sudah ia dapat
Terlihat begitu berat
Baju lusuh yang begitu kusut
Pertanda diri kurang terurus
Mengingatkanku tentang rasa syukur kepada Nya
Tentang semua nikmat kehidupan yang tak ada batasnya
5. Judul: Ceroboh
Kamar gelap temaram tersorot cahaya dari luar ruangan
Merebahkan badan untuk mengurai kelelahan
Bersiap untuk segera lelap ke alam bawah sadar
Kumainkan gawai hingga waktuku habis terbuang
Cerobohnya diriku sampai-sampai bangunku kesiangan
6. Judul: Rindu
Air mataku mengalir
Menggambarkan rasa rindu yang terukir
Menjalani ketentuan takdir
Risiko yang telah terpikir
Kali pertama kurasa
Berada jauh dari ibu bapa
Mencari ilmu alasannya
Sebagai bekal dimasa tua
7. Judul: Tobat
Bukan lagi dosa katanya
Karena semua orang melakukannya
Bukan lagi dosa katanya
Karena semua orang memakluminya
Dikasih peringatan tak mau
Ditunjukkan yang benar tak sadar
Mengikuti tren zaman yang tak ada habisnya
Melakukan semua semaunya
Bersyukur pada sang pencipta
Maha pengampun segala dosa
Yang memaafkan kesalahan kita
Sebagai makhluk yang jumawa
8. Judul: Memohon Belas Kasihan-Nya
Saat semua terasa berat
Tak henti tanganku terangkat
Mengucap runtutan doa
Kepa-Nya tempatku meminta
Saat semua berjalan begitu lambat
Tak henti diriku bertaubat
Agar Tuhan senantiasa iba
Sehingga dipermudah jalannya
Saat semua begitu mengikat
Tak henti imanku pertingkat
Berusaha berbaik sangka
Pada setiap ketetapannya
9. Judul: Susah Percaya
Siapa percaya adanya cinta
Saat semua ucapannya dusta
Perasaannya terbagi dua
Hadirnya tak selalu ada
Siapa percaya adanya kasih
Setiap ucapannya terasa perih
Membuatku semakin tertatih
Memahimi sikap yang begitu risih
Siapa percaya adanya sayang
Jika janji yang diucapnya melayang
Kebebasan selalu dikekang
Hingga perasaan menjadi bimbang
10. Judul: Kehidupan Kos Mahasiswa
Diam tak saling sapa
“Kurang begitu kenal” katanya
Tidak pernah terjadi interaksi
Saling sibuk dengan urusan sendiri
Berteduh di satu atap yang sama
Berusaha mencapai tujuannya
Berlatih mandiri alibinya
Berada jauh dari keluarga
Tidak ada rasa saling menjaga
Karena itu bukan urusannya
Terlalu ikut campur takutnya
Pura-pura tidak tahu saja
Nama : ERNAWATI
BalasHapusNIM : A310200105
Kelas : 5B
Mata Kuliah : Menulis Kreatif
Karya : Cerpen
Judul : Bangun
Secangkir the dan roti panggang yang wanginya memenuhi ruangan menjadi pilihan Haha untuk menu sarapannya pagi ini. Gadis cantik berambut panjang itu terlihat sudah berdandan rapi, karena hari ini dirinya ada janji dengan sahabatnya Lulu untuk pergi ke pusat perbelanjaan bersama. “Selamat pagi Mimi, selamat pagi Pipi.” Sapa Haha kepada Ayah dan Ibunya yang turut duduk di ruang makan untuk menyantap sarapan bersama.
Raut wajah Lulu terlihat begitu sumringah ketika melihat mobil yang dikendarai oleh Haha tiba di depan rumahnya. Lulu sontak berlari dan segera masuk kedalam mobil Haha, dirinya sudah tak sabar untuk pergi ke pusat perbelanjaan bersama dengan Haha.
Pemandanagn yang begitu memukau mampu membuat mata keduanya terbelalak. Deretan baju-baju mahal yang tersusun rapi, tas-tas yang tersusun di etalase kaca tembus pandang, dan sepatu-sepatu cantik terpampang di dinding toko. Tanpa menunggu aba-aba Haha dan Lulu langsung memilih dan mengambil barang-barang yang mereka inginkan.
Tak sampai disitu, setelah keduanya merasa puas berbelanja Haha dan Lulu bergegas menuju salon kecantikan untuk mempercantik diri mereka. Mengubah warna rambut, mewarnai kuku, dan melakukan perawatan kulit merupakan kegiatan rutin yang sering mereka lakukan. Apalagi mengingat besok Imagination, pacar Haha, akan datang menemuidirinya sehingga penampilannya harus mempesona dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Setelah lelah melakukan aktivitas hari ini, Haha segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang kamar mewahnya. Dirinya merasa sangat bahagia dan tidak sabar untuk segera bertemu dengan kekasihnya imagination besok pagi.
Baru sekejap ia memejamkan mata, tiba-tiba terdengar teriakan yang begitu keras dari luar kamar “Haha bangun!, waktunya pergi bekerja atau nanti kau akan terlambat.” Masih dengan mata terpejam Haha masih berusaha memahami kata-kata yang baru saja ia dengar. Timbul pertanyaan dalam benak Haha, mengapa dirinya harus bekerja? Bukankah selama ini Mimi dan Pipinya sudah mencukupi kebutuhannya tanpa dirinya harus bekerja.
Kemudian Haha membuka matanya, terlihat langit-langit kamarnya yang tadinya dilapisis oleh emas berubah warna menjadi putih kekuningan akibat kebocoran air hujan. Seperti tersambar petir disiang bolong Haha kaget dan langsung melompat turun dari tempat tidur, dirinya terlihat jebingungan. Dimana rumah mewah yang tadi ditempatinya? Baju, tas, dan sepatu yang baru saja ia beli bersama Lulu tadi hilang kemana?.
“Ada apa Haha?” tanya ibu Haha yang bingung melihat tingkah laku Haha, “Cepat segera mandi! Kau harus segera pergi bekerja.” Perintah ibu Haha.“Ternyata aku hanya bermimpi” ucap haha sambil mencubit pipinya sendiri.
Setelah selesai bersiap-siap Haha segera menuju dapur untuk sarapan bersama bapak dan ibunya. Tidak ada roti bakar dan secangkir the hangat yang dihidangkan dengan peralatan makan mewah. Hanya ada nasi, telur balado, dan tumis kangkung yang dimasak oleh ibunya pagi ini sebagai menu sarapan. Inilah kehidupan Haha yang sebenarnya, Haha adalah seorang gadis biasa yang bekerja di minimarket, ibunya hanyalah seorang ibu rumahtangga biasa, dan ayahnya bekerja dikantor kelurahan dengan gaji yang hanya pas-pasan.
Tidak ada mobil mewah seperti kehidupan dimimpinya, orang tuanya hanya memiliki satu motor dan satu sepeda. Setiap hari Haha naik sepeda saat pergi bekerja. Meskipun kehidupan mewahnya tadi hanyalah mimpi belaka, sejujurnya Haha sangat senang dan menikmati hidupnya yang sederhana. Bagi Haha apapun tantangan kehidupan yang dihadapinya tidak akan jadi masalah besar jika ayah dan ibunya selalu ada di sampingnya dan mendukungnya. Karena Haha sangat menyayangi kedua orang tuanya lebih dari apapun di dunia ini.
SELESAI
Nama: Ari Diah Nur Ayuni
BalasHapusNIM: A310200041
Kelas: 5A
Mata Kuliah: Menulis Kreatif
Karya: cerpen
"Proteksi di tengah pandemi"
Pada awal bulan Maret, aku banyak mendengar berita mengenai pandemi virus yang mewabah di seantero negeri dunia. Bukan kepalang main, virus yang bernama Covid-19 ini telah banyak merenggut jiwa berjatuhan bahkan hingga hari ini. Semenjak pandemi sekarang setiap orang dimanapun ia berada haruslah menjaga jarak satu sama lain demi menjaga diri masing-masing dari penyebaran virus ini.
Sudah berbulan-bulan juga ribuan sekolah ditutup dan merumahkan banyak siswa yang sejatinya masih harus menempuh kewajibannya untuk belajar di sekolah namun apa daya penyebaran virus yang sangat cepat mengancam siswa apalagi seperti aku dan mungkin kebanyakan siswa lainnya yang aktif kesana kemari sehingga tidak ada pilihan lain selain harus belajar secara online di rumah.
Setiap harinya pemerintah negaraku selalu mengingatkan akan proteksi diri yang harus dilakukan selama di tengah situasi pandemi saat ini seperti menerapkan protokol kesehatan di berbagai fasilitas publik, mengeluarkan kebijakan mengenai pembatasan sosial berskala besar, menggunakan masker, dan masih banyak lagi langkah pemerintah yang dianjurkan untuk dipatuhi oleh masyarakat.
Aku sendiri pun harus mematuhi protokol kesehatan dari pemerintah negaraku dengan menerapkan cuci tangan setiap memegang benda yang banyak disentuh orang ataupun setiap melakukan aktivitas di luar rumah, lalu aku menggunakan masker dan membawa hand sanitizer kemanapun aku akan pergi karena aku tahu banyak ancaman penyebaran virus di luar sana.
Namun, satu hal yang sangat kusayangkan adalah masih banyak orang di luar sana belum sadar betapa pentingnya untuk menjaga kebersihan dan kesehatan di tengah pandemi saat ini.
Aku banyak melihat ketika aku harus pergi ke pasar dan menemukan banyak orang masih tidak menggunakan masker serta tidak menjaga jarak sebagaimana mestinya. Aku memahami bahwa menyadarkan setiap orang itu tidaklah mudah tetapi aku bisa memulainya dengan menyadarkan dari diri sendiri sehingga ketika orang sudah melihat kesadaran kita betapa pentingnya menjaga kesehatan demi proteksi diri di tengah pandemi maka akan banyak yang juga ikutan sadar seperti aku. Seperti itulah sepenggal ceritaku dan tetap selalu menjaga kesehatan bagi siapapun yang membaca cerita ini.
Nama: Ari Diah Nur Ayuni
BalasHapusNIM: A310200041
Kelas: 5A
Mata Kuliah: Menulis Kreatif
Karya: Antologi Puisi
Yang Berharga Bagi Kita
Tahukah kamu …
Apa yang paling termurah?
Apa yang sangat murah hingga tidak berharga?
Apa yang mudah dipertahankan tetapi suka diabaikan?
Tentu saja …
Sehat jawabannya, hanya sehat
Harta dan waktu sebanyak apa pun
Akan sirna karena sakit
Betapa menyenangkannya hidup sehat
Dapat beraktivitas dengan riang
Jadi, jangan biarkan sakit menghampiri
Karena sehat itu sangat murah
Nama: Ari Diah Nur Ayuni
BalasHapusNIM: A310200041
Kelas: 5A
Mata Kuliah: Menulis Kreatif
Karya: Antologi Puisi
Ayo Hidup Sehat
Mulailah dari sekarang
Makan makanan yang bergizi
Memakan sayur
Memakan buah
Jangan kau malas, ayo makan makanan yang bergizi
Untuk tubuh yang sehat
Berikan yang terbaik untuk kesehatanmu
karena pada tubuh yang sehat, ada jiwa kuat
Aku tidak mau sakit
Rasanya pahit
Tubuhku tak berdaya
Lemas dan bertenaga
Aku berjanji pada ibu
Akan makan makanan yang bergizi
Banyak minum air putih
Tidur yang cukup
Tak akan jajan sembarangan lagi
Untuk semuanya
Ayo jaga kesehatan dari sekarang
Cintai tubuhmu, sayangi kesehatanmu
Karena sehat itu mahal
Nama : ERNAWATI
BalasHapusNIM : A310200105
Kelas : 5B
Mata kuliah : Menulis Kreatif
Karya : Naskah Lakon
Naskan Lakon Cerpen “Alkisah Sal Mencari Kang Mad” Karya Ahmad Tohari
Babak I (Rumah Nenek Nyami)
Kang Mad, Santoyib, dan Kantun duduk mengelilingi meja dalam kegelapan malam. Mereka berbicara dengan berbisik agar suara mereka tidak menembus keluar dinding.
Adegan 1
Santoyib: (hendak menggulung tembakau dengan kulit jagung) Kantun tolong nyalakan pelitanya!.
Kantun: (mengangguk)
Adegan 2
Terdengar suara burung bence mencecet terbang melintas di atas rumah. Kang Mad cepat meniup pelita dan segera melompat keluar melalui pintu belakang.
Santoyib dan Kantun roboh terkena tembakan tentara Belanda dengan tubuh saling tindih di tanah.
Babak II (Rumah Sal)
Adegan 3
Sal: (gemetar ketakutan sambil menangis) Tuhan semoga kau selalu melindungi Kang Mad suamiku.
Babak III (Rumah Nenek Nyami)
Adegan 4
Terdengar rintihan orang dari rumah Nenek Nyami. Itu suara Kantun. Dia terus mengerang. Nenek Nyami keluar dari persembunyian di kolong balai-balai, lalu memangil-manggil siapa pun yang bisa mendengar.
Lampu dinyalakan. Dua tubuh lelaki bertindihan di tanah.
Sal: (segera memburu) Kantun dan Santoyib. Kang Mad di mana? Dibawa tentara Belanda? (Sal menangis dengan suara tertahan-tahan sambil mendekap bayinya).
Seorang tetangga datang membawa kain sarung berlumur darah.
Sal: (menjerit dan bayinya ikut menangis) Haaaaaaa!
Tetangga: Sarung kutemukan di belakang rumah ini. Jangan menangis. Tadi saya mendengar suara orang berlari ke arah sawah. Itu pasti Kang Mad.
Sal: Kang… Kang Mad lari? Dan sarungnya berdarah-darah?
Tak seorang pun menjawab pertanyaan Sal. Semua sibuk mengurus mayat Santoyib, dan Kantun terus mengerang-erang.
Sal: (menarik tangan Limun, adiknya) Temani aku mencari Kang Mad. Ayo cepat!
Mendengar suara Sal, semua orang menoleh, lalu menegakkan punggung. Tampaknya tak ada yang menyetujui niat Sal.
Juned: Jangan, biar saya yang mencari Kang Mad.
Nenek Nyami: Eh iya! Kamu, Sal, jangan ke mana-mana. Kamu perempuan dan punya bayi yang baru lahir. Wanti-wanti jangan.
Juned: Benar, meski kena tembak ternyata Kang Mad masih bisa lari. Dia orang kuat. Di Dukuh Kidul ini dia jadi jagabaya. Kang Mad juga pesilat tangguh. Percayalah, Kang Mad bisa menyelamatkan diri.
Adegan 5
Mayat Santoyib dimandikan, disalati, dan dikubur dengan sederhana di pekarangan. Semua dilakukan dengan tergesa karena takut tentara Belanda datang lagi. Kantun dibawa Juned, katanya akan dicarikan obat.
Babak IV (Rumah Sal)
Adegan 6
Sal gelisah sambil menggendong bayinya. Tekadnya sudah bulat untuk pergi mencari kang Kang Mad.
Sal: (membangunkan Limun yang sedang tidur) Limun ayo bergegas kau harus ikut denganku untuk mencari Kang Mad.
Babak V (tepi sungai)
Adegan 7
Sal masih berdiri termangu memandang aliran sungai yang deras.
Mbok Makri: Hai, kamu Sal istri Mad kan? Sepagi ini kamu mau ke mana? Jangan menyeberang, bahaya.
Sal: Tolong bantu saya menyebrang sungai mbok. Saya ingin mencari Kang Mad
Mbok Makri: Kamu sungguh ingin menyeberang untuk mencari Kang Mad?
Sal: (mengangguk)
Mbok Makri: Baik. Sekarang serahkan bayimu kepada Limun dulu. Kamu akan saya bawa berenang ke seberang. Ayo!
Babak VI (Rumah Mbok Makri)
Adegan 8
Mbok Makri: Saya akan menemukan suamimu. Saya tahu tempat-tempat rahasia para pejuang di hutan jati.
Sal: (mengangguk)
Mbok Makri: Sekarang urus dulu bayimu dengan baik di sini. Lihat bayimu sudah amat kurus dan kudis memenuhi kulit sampai ke pelupuk mata. Kamu berhari-hari tidak memandikannya. Kamu tega? Bagaimana kalau bayimu mati karena terus kamu bawa-bawa sambil mencari suami? Ah, saya tidak tega. Maka dengar ini. Karena merasa amat kasihan, hari ini saya jadikan bayimu sebagai anak akuanku.
Sal: (menangis tersedu)
Adegan 9
Terdengar ada suara garukan di dinding bambu di luar bilik.
Mbok makri dan Sal terbangun dari tidur.
Kang Mad masuk merangkul Sal dan mengelus kepala Sal.
SELESAI
Nama: Aulia Nisatul Arifah
BalasHapusNIM: A310200024
Kelas: 5A
Mata Kuliah: Menulis Kreatif
Karya: Antologi Puisi
Tema: Semangat Meraih Mimpi
Banyak kerikil-kerikil tajam yang ku lalui
Banyak udara dingin pagi yang menusuk tulang ini
Walau banyak rintangan yang telah aku jalani
Hingga hujan deras membasahi tubuh ini
Semua rintangan tidak membuatku untuk menyerah
Semakin semangat aku berlari menuju sekolah
Semakin dekat gapaian
Untuk masa depan yang aku impikan
Tema: Puisi Semangat Anak Pemuda
Kini kitalah yang menjadi penerus bangsa
Penerus para pahlawan bangsa kita untuk merdeka
Mengutamakan pendidikan dengan mengukir prestasi
Dengan mengharumkan negeri kita ini
Ayo bergerak untuk maju!
Kuatkan tekat menjadi satu!
Jangan menyerah sebelum mencoba!
Tunjukan bahwa kita pemuda Indonesia
Tema: Puisi Cinta
Katakanlah cinta dalam bentuk apapun
Bawalah aku pergi kemanapun
Dengan memberikan sebuah kepastian
Rasa cinta dan kasih sayang yang aku himpun
Berikan semua rasamu kepadaku
Aku ingin hilangkan rasa lelahku
Denganmu aku merasa bahagia
Jika tidak denganmu aku merasa hampa
Nama : Anisyah Febiola
BalasHapusNIM : A310200147
Kelas : 5B
Mata Kuliah : Menulis Kreatif
Karya : Antologi Puisi
1. Judul : Cinta Bertepuk Sebelah Tangan
Cinta ini, adalah rasa yang tak direstui
Semesta menganggapnya pura pura, padahal wujudnya bisa dilihat oleh mata
Katanya, aku terlalu berani.
Berani menaruh hati pada wanita jelmaan bidadari ini.
Maaf ya jika bagimu aku tak tahu diri.
Begitu berambisi untuk mengisi ruang hati yang padahal sudah ada yang memiliki
Meski berulang kali diingatkan untuk berhenti, Masih saja berharap pada cinta yang tak tahu ke arah mana akan bermuara
Dan masih saja percaya bisa bersama selama janur kuning belum melengkung katanya
Apakah memang aku akan beruntung atau alam menyuruhku menikung?
2. Judul : Tidak Sengaja Jatuh Cinta
Tentang hari itu,,
Kala itu aku sedang duduk tersudut di ujung ruangan
Yang hanya berdiam meratapi genangan
Sembari sesekali memikirkan kenangan
Tapi kemudian kamu tiba tiba masuk ke dalam ruangan itu dengan begitu sopan
Langkahmu yang nyaris tak terdengar hampir saja membuatku mati penasaran
Dengan baiknya kamu menyalakan lilin di tiap celah
Dan kemudian memancarkan cahaya yang amat cerah
Pesonamu yang menyilaukan pandangan membuat manusia yang lemah sepertiku menjadi tak berdaya
Bahkan bayanganmu saja sudah mampu membuat duniaku kembali utuh seperti sedia kala
Suaramu yang begitu menggoda makin membuatku larut dalam fatamorgana
Sampai akhirnya aku tersadar, jika aku tak sengaja jatuh cinta
3. Judul : Ketidaksengajaan yang Keterlaluan
Hai, maaf yah kalau kehadiranku ini lancang.
Tiba tiba saja datang dan membuatmu agak terguncang.
Tapi mau bagaimana lagi, hatiku tidak bisa bohong kalau ternyata dia tidak lagi kosong.
Awalnya aku tidak tahu kalau rasa ini punya nama.
Aku hanya mengira jika dia hanya mampir begitu saja.
Jatuh cinta ini melelahkan.
Bertahan sakit, tapi memilih pergi juga sulit. Rumit.
Sepertinya Tuhan hanya menakdirkan ku untuk mencintai, bukan memiliki.
Tapi kalo boleh memaksa, aku mau ada kesempatan kedua.
Dan aku mau tetap kamu orangnya.
4. Judul : Diam dan Dalam
Kembali pada titik pertama, dimana semua kisahnya bermula
Berdiri dari kejauhan memandangi bidadari yang berwujud seorang wanita
Sembari menahan rasa yang sudah menggebu minta ditakdirkan bersama
Senyumnya menyilaukan dunia,
Iya, dunia. Duniaku yang masih saja abu abu setelah menghabiskan langitnya yang biru
Maafkan manusia tidak tahu diri ini ya
Terlalu lancang mencintai dan teramat memaksa agar bisa memiliki
Aku memang sudah sampai di titik tidak baik baik saja karena mencintaimu
Jangankan untuk bertemu, mendengar namamu disebut itu sudah bisa mencekik tenggorokanku
Kalau kamu mau tahu gila karena cinta itu seperti apa, yaa aku inilah orangnya.
5. Judul : Aku dan Kamu
Aku bukan manusia romantis
Tapi bisa dibilang jika aku insan puitis
Ini hanyalah sebait kata untuk seorang pria dewasa yang menyebut dirinya mempesona
Kamu,,
Malam kemarin masih terlalu lekat kuingat tentang panjangnya doa yang kupanjat
Bukan tentang aku ataupun hidupku
Tapi tentang namamu yang hampir setiap saat
menghantuiku bahkan sampai di lembaran baru
Aku sudah mendengar darimu jika ternyata hatimu masih belum sepenuhnya sembuh
Ruang yang kala itu kau siapkan untuk cinta kedua ternyata hanya berakhir dengan segudang pengkhianatan yang terisi penuh
Bahkan ketulusan yang ada masih saja utuh tak tersentuh
Nama: Nimah Puji Lestari
BalasHapusNIM : A310200143
Kelas : 5B
Mata Kuliah : Menulis Kreatif
Karya : Antologi Puisi
1) Bahasa adalah rasa
Bahasa adalah rasa
Bahasa gambaran jiwa
Bila bahasa mu indah kurasa
Ketenangan pun ku dapat
Kurasa perlu kita memirsa
Baik buruknya
Ada banyak yang tidak benar
Memang....
Bahasa akan bermakna
Bila tidak seenaknya
Marii kita tingkatkan
Agar bahasa kita tidak pudar
Biarkan abu-abu
Jangan biarkan menjadi abu
Mudah kurasa bila kita bersama
Tingkatkan literasi bahasa
Menjadikan bangsa berbahasa
Memperindah tampilan frasa
Mengkualitaskan kiasan lisan
2) Secarik Kertas
Putih bersih
Ada garis horizontal
Perapi tulisan manusia
Banyak rasa terukir disana
Tentang suka dan duka
Perasaan tumpah ruah
Terkadang mulut tertutup
Tangan bergerak
Entah apa perasaannya
3) Permintaan
Sejuta kata kuminta
Berulang-ulang kuucapkan
Mungkin bosan
Namun itulah permintaan
Aku meminta
Teguhkan inginku
Perluas jalanku
Aku menginginkanmu
Menemani perjalananku
4) Kaya
Terlihat
Ingin terlihat berada ingin menunjukkan
Ternyata tidak ada
Semestinya biasa saja
Tidak usah memaksa
Kamipun tidak meminta
Apalagi memaksa
Tidak usah menjadi kaya
Bila hanya kias mata
Semuanya akan terbuka
Bila tidak nyata
5) Punya tapi tidak ada ?
Banyak hal yang saya punya
Tidak Semua saya miliki
Ada namun tidak ada
Bingung tapi apa penyebabnya
Apakah boleh Mungkin saya merasa ragu?
Mengapa saya tidak boleh ragu ?
Lantas bagaimana ku menepis raguku?
Ah.. Ini hanya coretan tinta
Berisi tumpahan rasa
Banyak yang tidak menyapa
Bukan tidak bersyukur
Hanya punya tapi tidak ada.
6) Alhamdulillah
Anak bungsu lahir di dunia.
Perempuan yang hadir
Menyapa dunia fana.
Ketika hari menuju pagi
Hidup beriringan dengan usia
Memang usia hanya sekedar angka
Mamun tuamu kini terlihat
Keriputmu Mata Kini mulai ada
Apa yang bisa kuberi
Aku maan memberimu beban
waktumu untuk istirahat
menikmati masa tua
Namun hadirku merubahnya
Mengeluh pun Kau tak pernah
Alhamdulillah.
Semoga lelahmu menjadi lillah.
Nama: Ahmad Sani Saefur Rohman
BalasHapusNIM: A310200042
Kelas: 5A/PBSI
Mata Kuliah: Menulis Kreatif
Karya: Antologi puisi"kata" dan memoar
1. judul : indah pada masanya
berkerja keras demi sesuap nasi
berkerja keras demi masa depan yang indah
akan tetapi semua akan musnah bila tidak serius
menatap masa yang akan datang
yang indah....
2. judul : kekasih bayangan
kupejamkan mata
ku teringat kamu disaat kulihat foto itu
kenangan mu seakan mengadu adu di hatiku
yang membuatku menjadi rindu
3. judul : mahasiswa kupu kupu
pulang pergi kekampus
tanpa kegiatan berarti
memahami materi kelas
yang monoton dan absurd
tetapi tetap tahan akan hal tersebut...
4. judul : kekasih yang tak kembali
ku pernah bahagia denganmu
kupernah mengukir kenangan bersamamu
yang teringat dalam sanubariku
akan tetapi engkau tak kembali
karena sudah sah dengan dia
Nama: Ahmad Sani Saefur Rohman
BalasHapusNIM: A310200042
Kelas: 5A/PBSI
Mata Kuliah: Menulis Kreatif
Karya: Antologi puisi"kata" dan memoar
5. judul : sepatu tua
kupakai dengan senangnya
saling berbagi susah senang
sama sama kehujanan
sama sama kepanasan
tapi engkau tak mengeluh atau menyerah
sampai engkau kusut dan tak berbentuk...
6. judul : kerlap kerlip pasar malam
kuberjalan mengitari tempat itu
tanpa sedikitku memejamkan mata
tanpa sedikitpun ku lewatkan pemandangan itu
yang indah dan mempesona...
yang terang gemilang...
membuatku senang dan gembira...
7. judul : karpet tua
biasa ku duduk disitu
biasa ku injak injak
akan tetapi engkau tak berkutik
pernah juga ku tumpahkan minuman
tapi engkau tak berkutik
tapi engkau memberikan kehangatan
dan keindahan dalam ruangan....
8. judul : rumah reyot
engkau merupakan nasi
yang merupakan hal wajib bagiku
untuk menghindari panas
menghindari hujan
menghindari tidur diluar menjadi gelandangan
kegiatanku separuh kuhabiskan denganmu
yang merupakan bagian dari diriku....
9. judul : sikat gigi yang usang
ku gosok gigiku tiap hari
yang bau jigong maupun bau tai
tetapi engkau tak menggubris
dan selalu ada untukku
tanpa protes maupun ngambek
ohh sikat gigiku...
10. judul : gitar pertamaku
tiap hari kupetik
tiap hari ku genjreng
tiap hari ku bawa
tiap hari ku rawat
bagaikan anakku sendiri
karena itu gitar pertamaku...
Nama: Ahmad Sani Saefur Rohman
BalasHapusNIM: A310200042
Kelas: 5A/PBSI
Mata Kuliah: Menulis Kreatif
Karya: Antologi puisi"kata" dan memoar
11. judul : sepeda dari ayah tercinta
oh cinta
oh ayah ku
menuruti kemauanku
untuk menunggangi sepeda baru
dari pemberian ayah tercinta
tanpa pamprih ayah bekerja untukku
terima kasih ayah....
12. judul : Putus cinta
sakit
perih
semua menjadi tabu
menjadi sirna
karena aku tak bisa mempertahankan dia
13. judul :terduakan
disini
aku
sendiri
karena dia
sudah menjadi milik dia
menjadi hak dia
walaupun sementara
tapi aku kalah dalam segala hal
14. memoar
masuk osis sma
waktu itu aku ikut pendaftaran osis karena iseng dan aku suka berorganisasi
sehingga aku memutuskan ikut osis dengan masuk ke jalur ketua osis dikarenakan
itu aku memiliki rencana agar lewat itu menjadi lebih sedikit pesaingnya dan
menjadi lebih seru dan lebih baik dalam pensleksian.
sehingga ketika aku keterima aku sangat bahagia dan senang dengan diterimanya itu.
dan aku sangat bahagia dan sangat gembira dikarenakan aku dapat menjelajah pengalaman pengalaman baru lagi
dan aku dapat mengurangi dan menyirnakan ketakutanku di depan publik dan itu merupakan salah satu rencana ku
dalam jangka yang panjang.
Nama: Kurniati Ayu Ningsih
BalasHapusNIM: A310200044
Kelas: 5A
Mata Kuliah: Menulis Kreatif
Karya: Cerpen
BUNGKUSAN
Luri dan Santi berjalan menyusuri gerbang sekolah, matanya tertuju pada bungkusan yang tengah tergeletak dipinggir jalan. Mereka tengok kanan kiri (Gak ada yang tahu). Lalu menghampiri bungkusan itu. Syutt!! Bungkusan itu bergerak dekat mereka, syutt!! Bungkusan itu bergerak lagi. Dengan penuh rasa penasaran, Santi mencoba menggapai-gapai bungkusan itu kembali (mirip orang nangkap kodok di sawah) Santi pasrah dan tiba-tiba Adi datang.
Sambil berjalan kea rah Lurid an Santi. “Luri aku penasaran dengan isi bungkusan itu” sambil menunjuk bungkusan itu. “Jangan di buka, siapa tau itu berbahaya.” Kata Luri “Tidak akan berbahaya kalau kita membukanya” Santi masih memaksa. Mereka terus berdebat antara ingin atau tidak membuka bungkusan itu.
Tiba-tiba Adi datang dari arah belakang. “Kalian sedang meributkan apa?” Luri dan Santi pun berbalik kea rah Adi. “Kita menemukan bungkusan yang sangat mencurigaka, aku ingin membukanya tapi, Luri terus melarangku!” Jelas Santi. Adi pun melihat kearah bungkusan itu. “Menurutku apa yang dikatan Luri benar, kalau isi bungksan itu berbahaya.” Luri dan Santi pun terkejut dan sedikit was-was. “Memangnya apa isi di dalam bungkusan itu?” Tanya Luri dan Santi, “Bisa saja isi dalam bungkusan itu adalah bom, karena baru saja aku membaca berita ada orang yang menemukan sebuah bungkusan dan ternyata isinya bom.” Luri dan Santi pun merasa takut jika dekat-dekat dengan bungkusan itu. Luri pun memberi saran bagaimana jika mereka memanggil Pak Parmo yaitu satpam di sekolahan itu “Bagaimana jika kita panggil Pak Parmo saja, agar dia saja yang membuka bungkusan itu” kata Luri. “Ide yang bagus” jawab Adi dan Santi “Baiklah akan aku panggilkan” Luri prig memanggil pak satpam. Tak lama Luri dan Pak Parmo datang. “Ada apa Bapak di ajak kemari?” Tanya Pak Parmo, “ini Pak kami menemukan bungkusan tapi tidak berani membukanya karena takut isinya bom” jelas Adi. Pak Parmu pun panik dan menyuruh mereka untuk membuka bungkusan itu. “Tidak Pak!” jawab mereka bersamaan “lebih baik Bapak saja kan Bapak lebih besar dari kami” kata Santi “iya Bapak saja kami takut membukanya” jawab Luri. “Baiklah Bapak saja yang buka” Akhirnya Pak Parmolah yang membuka bungkusan itu, mereka was-was saat Pak Parmo telah membuka bungkusan itu. Namun, setelah diihat mereka terkejut dan tertawa melihat isi dari bungkusan itu. Ternyata isi dari bungkusan itu adalah seekor kucing.
Nama: Kurniati Ayu Ningsih
BalasHapusNIM: A310200044
Kelas: 5A
Mata Kuliah: Menulis Kreatif
Karya: Cerpen
TINGGAL KENANGAN
Pagii itu sangatlah cerah, mentari pagi muncul memancarkan sinar cerah dengan semangat 67 eh semangat 45 maksudnya. Sama denganku, hari ini adalah hari ulang tahun orang yang sangat aku kagumi bahkan kucintai. Semua sudah aku persiapkan termasuk kue ulang tahun serta kadonya.
Aku masuk ke kelas dengan hati gembira dan bibir tersenyum-senyum sendiri. Kakiku melangkah tepat di depan pintu masuk kelas dan disambut ceria oleh sahabat-sahabatku Sri dan Fitri.
Yaps! Hamper lupa, aku Ayu kepanjangan dari Ayu Putri Rantika. Cewek manis berkumis tipis yang kini sedang dilanda asmara cinta.
“Ciee yang senyum-senyum sendiri, kenapa? Sakit?” ucap fitri sambilmenekan tangannya ke jidatku. “apaan sih Fit, emang aku gila” ucapku (memanyunkan bibir 5 meter). Ya mungkin, ya gak Sri?” Ucap Fitri melirik Sri “Betul, kenapa kamu Yu?” ucap Sri. “Hari init uh hari sepecial banget buat aku, aku mau bikin surprise buat pangeran cecakku” ucapku panjang lebar sambil bayangin apa yang akan terjadi nantinya. Pangeran cecak? Ya, pangeran cecak adalah cowok yang aku kagumi selama ini. Aku juluki pangeran cecak karena dia super duper takut sama cecak, namanya Farid.
Bel aktu istirahat pun tiba, siswa-siswi berbondong-bondong ingin memanjakan lidah dan juga perutnya yang dari tadi demo minta makan.
“Hay guys, doain aku ya. Semoga rencana ini sukses berjalan mulus semulus jalan tol, amin” ucapku. “Oke, tuh ada Farid kebetulan banget deketin gih” ucap Fitri.
“Sukses ya say” ucap mereka berdua serentak serta kepala dimiringkan ala-ala Rita Sugiarto penyanyi dangdut.
Aku berjalan dengan pedenya sampai gak lihat ada batu di depanku, untungnya gak jatuh, kalau jatuh malu dong sama pangeran cecakku.
Setelah melewati lorong-lorong kelas, aku melihat Farid lagi berduaan sama Billa cewek yang paling aku benci karena gayanya yang kecentilan, sok cantik, sombong pokoknya aku ilfeel banget deh sama dia. Tanpa sadar kue dan kadonya jatuh ke lantai, aku berlari cepat mungkin sambil nangis.
Aku melihat ekspresi Sri dan Fitri kebingungan dengan tingkahku yang mula ceria berubah drastis menjadi duka membara.
“Ayu, kamu kenapa?” ucap Sri sambil memelukku.
“Farid sama Billa berduaan mereka mesra banget” ucapku terbata-bata.
“Udahlah cari yang lain, masih banyak kok” ucap Fitri.
Sepulang sekolah kurebahkan tubuhku di kasur empuk milikku. Kutatap langit biru kamarku. Pikiran itu selalu terngiang-ngiang dimemori otakku. Kubangkitkan tubuh ini menuju meja belajar. Pena menari-nari amat lambat di atas kertas polos putih. Kutulis kata puitis yang berisi sesuai isi hatiku.
Tinggal kenangan.
Kuukir namamu dalam hatiku
Agar hati ini tak dalam kekosongan.
Meskipun kau telah menodai hati ini,
Akan kuhapus dengan sejuta air mata.
Aku rela mentari membakar kulitku
Aku rela kebahagiaanku kuberikan padamu
Asal kau bahagia.
Namun itu dulu
Sekarang sudah terbalut oleh balutan kenangan.
For Farid (pangeran cecakku)
Pagi ini mendung, mentari enggan tuk memancarkan sinarnya, sama dengan hatiku. Mungkin mentari mngerti apa yang sedang aku rasakan. Aku berjalan sempoyongan dengan mata sembab gara-gara menangis semalaman menuju kelasku disambut oleh sahabat-sahabatku.
“Ayu kamu jangan begitu dong, kita kan juga turut sedih jadinya. Strong bro move on bangkit dari keterpurukan ini” ucap Sri menenangkanku. “Dan kamu jangan kaget ya, kalau Farid sama Billa sudah jadian kemarin. Aku tahu berita ini dari Salsa teman sekelas kita” ucap Fitri. “Iya makasih ya sahabat-sahabatku. Kalian itu orang yang selalu support aku, aku sayang kalian. Aku akan move on dari farid dan selalu bersama kalian” ucapku menangis terharu. Kita bertiga saling berpelukan.
Sahabat bukanlah selayaknya pacaran yang dapat putus atau nyambung. Namun, sahabat adalah persatuan yang abadi.
Nama: Kurniati Ayu Ningsih
BalasHapusNIM: A310200044
Kelas: 5A
Mata Kuliah: Menulis Kreatif
Karya: Cerpen
DIET BERAKHIR GILA
Adalah Alfy, yang hanya bisa mengejar tukang bakso dengan pandangannya yang pilu. Alfy merupakan mahasiswa yang bisa dikatakan maniak weight loss, yang mengatur diet sehat dan diet ketat. Hari-hari ia isi dengan konsumsi makanan penuh gizi dan kalori, plus dengan hati yang tidak menikmati. Alfy tidak menyadari bahwa ia tidak terlahir kurus, kedua orang tuanya gemuk, kecuali satu orang, yaitu Rasyid, si bucin yang humoris.
Namun Alfy percaya dengan motivasi dari seminar bisnis multilevel yang pernah digelutinya 5 bulan lalu, “tidak ada yang tak mungkin, jika kalian ingin mencapai sps ysng kslisn inginkan, dan sukses diusia muda” Tentu saja sukses bagi Alfy tidak pernah berhasil adalah nafsu makan yang sama besar dengan badan, memang ia memakan sayur, dengan porsi yang sangat banyak.
Suatu hari ia membaca sebuah artikel “Tertawa dapat membakar lemak” dan sangat serius menaggapi. Alfy sama dengan kedua orang tuanya, pemurung dengan muka berlemak sulit dibuat tertawa. Namun hari saat ia membaca artikel itu adalah hari dimana ia seolah terlahir kembali. Alfy menjadi pribadi yang gampang sekali tertawa, bahkan saat seseorang berbicara serius (pada saat itu Alfy menerima caci maki), sikap Alfy yang berubah tentu mengundang berbagai penafsiran dari masyarakat, dan didominasi oleh pandangan bahwa ia telah gila.
Nama: Kurniati Ayu Ningsih
BalasHapusNIM: A310200044
Kelas: 5A
Mata Kuliah: Menulis Kreatif
Karya: Cerpen
BULAN
Dia, duduk di samping jendela, dibawah sinar lampu yang temaram. Mencoba memandang langit yang gelap, hanya ada bintang yang memantulkan sebagian dari cahaya matahari. Tak ada bulan yang terlihat, semua bersembunyi di balik awan, barangkali malu untuk kulihat, katanya dalam hati seraya tersenyum. Angin malam berhembus sepoi-sepoi, seolah menghembuskan udara pada wajahnya yang lembut. Awan bergerak perlahan, memberikan seni tersendiri di kegelapan malam. Ahh, ternyata ada satu bintang di balik wan, senyumnya tersungging di balik bibirnya yang mungil. Ya Rabb, ternyata setitik cahaya pun bisa memberikan keindahan yang luar biasa diantara luasnya langit yang gelap di malam hari. Ah, seandainya keyika membuka jendela, memandang langit dan tak menemukan bintang kemudian dia tak mencoba menatap awan tapi menutup jendela kembali, dia tak akan menemukan bintang yang tersembunyi di balik awan.
Seperti setitik bintang di kegelapan malam, terkadang kita tak menyadari ada cahaya kecil dalam malam yang gelap, yang kita berinama “bulan”. Betapa indahnya cahaya itu walaupun tak bisa menerangi malam. tapi, lain halnya ketika kita melihat ada setitik noda di atas kain putih yang membentang kita justru terfokus pada noda yang kecil, dan seolah lupa betapa bersihnya kain itu terlepas dari setitik noda yang ada, yang mungkin bisa hilang hanya dengan sedikit detergent pemutih. Itulah hidup, kadang-kadang kita lupa untuk memandang sesuatu dari sisi lain yang demikian.
Nama: Kurniati Ayu Ningsih
BalasHapusNIM: A310200044
Kelas: 5A
Mata Kuliah: Menulis Kreatif
Karya: Cerpen
SURAT CINTA DAN SETANGKAI MAWAR
Aku mengintip dari balik pohon beringin, agak jauh dari gadis itu. Ia masih duduk bersimpuh di sana. Wajahnya terlihat serius. Tangan indahnya terlihat sedang menggoreskan tinta ke selembar kertas yang ia bawa dari rumah. Kulihat sebutir air mata jatuh ke pelupuk matanya dan diikuti tetes-tetes air mata berikutnya. Ya, dia pasti menulis surat lagi.
Beberapa menit berlalu, dia pun menyelesaikan suratnya dan memasukkannya kedalam sebuah amplop merah muda. Aku tetap pada posisiku. Gadis cantik itu pun berdiri, mletakkan amplop itu di tempat biasa, tersenyum, kemudian beranjak pergi. Ketika dia sudah tak terlihat lagi, dengan langkah hati-hati aku mendekati tempat dimana dia meletakkan suratnya tadi. Kuambil surat itu, kubuka perlahan dan mulai membacanya…
Kepada: Arif Abi
Ketika aku menulis surat ini, suasana di sekelilingku sangat sepi, Rif. Aku tak pernah berpikir sebelumnya, bahwa kesepian ini kamu rasakan setiap hari. Aku merasa menjadi perempuan tak berguna karena tak bisa selalu menemani kesendirianmu. Maafkan aku hanya bisa datang setiap sabtu pagi hanya sekedar melepas kerinduanku padamu. Aku benar-benar rindu, Rif…
Hari ini, aku ingin menceritakan banyak hal ke kamu… Arif, kamu pasti ingat dulu kamu pernah berkata bahwa kamu ingin memiliki sebuah rumah yang letaknya jauh dari keramaian. Ketika itu kamu berkata, kamu ingin hidup di sana bersama orang yang kamu sayang dan kamu berkata orang itu adalah aku. Percaya atau tidak, sekarang rumah itu sudah ada, Rif. Aku bangun rumah itu dengan hasil keringat aku sendiri. Walaupun sepenuhnya aku sadr, kamu sudah damai hidup sendiri di sini, tapi setidaknya aku berhasil mewujudkan salah satu keinginan kamu. Semoga kamu terkesan, Rif…
Oh iya, Rif, dua hari yang lalu aku menerima seikat bunga dari Kakak kamu, Kak Rendy. Awalnya aku kira itu hanya sebagai ucapan selamat dari Kak Rendy atas kelulusan aku. Tapi ternyata, Kak Rendy mengungkapkan perasaannya ke aku, Rif. Jangan marah dulu, beneran setelah itu, aku langsung mengembalikan bunganya. Aku berkata bahwa aku tidak bisa. Aku hanya menganggapnya sebagai seorang Kakak. Sebenarnya, ada alasan yang lebih dari itu dan dia pasti tau, Rif. Aku jadi teringat kamu, Arif. Ketika kamu mengungkapkan perasaan kamu ke aku, kamu kasih aku setangkai mawar karena kamu sangat tau aku tidak suka coklat. Pokonya kamu itu orang yang paling bisa ngerti aku dan selamanya kamu takkan pernah tergantikan…
Rif, sebenarnya surat ini tidak sama seperti surat-suratku sebelumnya. Surat ini bukan hanya surat cinta, tetapi juga surat perpisahan. Arif, entah aku harus bahagia atau berduka ketika mengatakannya. Aku akan pergi, Rif. Aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S2 di Jepang. Aku akan mewujudnkan satu lagi keinginan kamu. Keinginan kamu untuk menulis nama kita berdua di puncak Gunung Guji. Di Jepang nanti, aku akan menghuni rumah impian kamu itu, Rif. Rumah impian kita berdua. Aku tidak sendirian disana. Aku percaya banyangan kamu selalu ada di samping aku…
Arif, ini berarti aku harus meninggalkan kamu di sini sendirian. Selama beberapa tahun ke depan aku tidak bisa melakukan ritual Sabtu pagi mengunjungimu. Jujur, aku sedih, Rif. Tapi aku yakun jalan yang aku ambil ini akan bahagiakan kamu dan kedua orangtuaku. Doakan saja aku dari sini…
Rif, kamu lihat, matahari di sini mulai tenggelam. Ini adalah waktu favorit kita, Rif. Senja. Mungkin saatnya aku pulang. Seperti biasanya, bersamaan dengan surat ini kusertakan setangkai mawar kesukaanmu. Kuletakkan dibawah nisan yang berukir indah namamu…
Aku pamit, Sayang. Selamat tinggal. Doakan aku supaya tetap bahagia. I Love You More, Arif…
Terdalam,
Resyta Feronica J. (Reyta)
Tanpa sadar, aku berurai air mata usai membacanya. Aku baru menyadari sepenuhnya bahwa gadis itu masih belum bisa lepas dari Arif, adik lelakiku yang kini telah hidup damai di akhirat sana. Tiba-tiba aku menyesal pernah mengungkapkan perasaanku padanya karena aku sekarang yakin cinta mereka berdua abadi meskipun salah satu diantaranya sudah pergi dan tinggal sebuah nama.
BalasHapusAku melirik coklat yang tergeletak tepat di bawah nisan adikku. Kemudian kuusap air mataku, tersenyum, dan bertekad memendam seluruh perasaanku pada gadi itu.
Resyta, aku berjalan mundur…
Nama: Nofiko Azalea Inzaghi
BalasHapusNIM: A310200102
Kelas: 5. B
Mata Kuliah: Menulis Kreatif
Karya: Antologi Puisi
I. UKEL
Pesona ukel lengger…
Jarinya bagaikan tiang monas
Kukunya bagai lentera dikegelapan
Gemulai indah geraknnya
Gerak jari bagaikan mendayung
Memutar bagaikan roda kereta kencana emas
Terpancar gerakannya bagaikan dewa
Memikat penikmat pelihat
II. LAKSAMANA CHENG HO
Penggembara laksamana cheng ho
Gedong batu simongan saksimu
SAM POO KONG klenteng bernama
Yang bertengger diSemarang
Sam Poo Tay Djien dan Sam Po Tao Lan
Nama lainmu yang terkemuka
Ekspedisi menjadi saksi perjalanmu
Dalam mengitari dunia
Wargamu tionghoa etnis
Musafir agama islam jalnmu
Islam pernah kau kibarkan
Namun dunia masih mepertanyakannya
III. SANG MATAH ATI
Laskar Prajurit Wanita
Rubiyah sang prajuritnya
Menggempur VOC tujuannya
Bersama mas said melawannya
Olah prajurit wanitamu
Dianggap lebih mumpuni dari pariamu
Teliti dan luwes menjadi pesonamu
Mampu memikat sang RM said mencintaimu
TIJI TIBEH
Mati Siji Mati Kabeh
Mukti Siji Mukti Kabeh
Semboyan penggerak arah
IV. PESONA BUMI KAYANGAN
Tempatmu didataran kayangan
Negri elok menagjubkan
Bagai kahyangan
Bumi banjarnegara yang idamanan
Sungguhku bersyukur padamu
Atas citptaanmu duh tuhan…
Sembah sujudku padamu tuhan
Kami ucapkan teriamkasih
Disana terdapat situs tua bebatuan megah
Disana terdapat hamparan savana luas
Disana terdapat cerita legenda kawah
Disana menyimpan panorama rahasiamu tuhan
Dieng….
Pesonamu bagai nesgri kayangan
Yang terbentang didunia nyata
Terimakasih pencipta
V. DAWET AYU
Hijau-hijau yang berrenang
Putih-putih yang menggenang
Coklat-coklat yang terbentang
Didalam kolam cengkir
Segar bagaikan udara pagi
Penghilang dahaga dikala siang
Pelipur rindu ketika teringat
Akan kampung halamanku
Pesona dawet ayu
Minuman negri banjarnegara
Yang penuh akan kenikmatan
Dalam setiap tegukan
Nama : Alegra Akbar Yogantara
BalasHapusNim : A310200073
Kelas : 5A
Maktul : Menulis Kreatif
Karya : Puisi
BARU
Setelah bayang kelabu itu lenyap
Kau menghapus mimpi buruk
Perlahan tapi pasti nadiku berhenti
Mengaharapkan sesuatu yang sulit kuhadapi
Bulan dan matahari bergantian hadir
Semakin kuat hembuhan angin ini
Menyebarkan benih-benih harapan
Tak kuasa sukma ini beranjak
Hingga sukma ini terkena benih harapan itu
Terasa begitu indah dan tak pernah mengira
Semua itu terjadu begitu cepat
Kau menembus dinding hatiku
Taukah.... kamu adalah hal kecil
Yang berarti agar nafasku
Bisa terus ada dan hidupku
Berarti selamanya……
Nama: Ananda Nur Aprilia Ika Widyaningsih
BalasHapusNIM: A310200154
Kelas: B
Mata Kuliah: Menulis Kreatif
Karya: Antologi Puisi
1. Delusi
Tidak perlu menghakimi
Berkacalah
Nyatanya kau bagai buruk rupa Menjelma bagai dipuja sosok dewa dewi
Berlindung dibawah topeng ilusi
Berdelusi tuk dipuja
Dengan khayalan fantasi
2. Jalan-Mu
Tuhan.....
Apa arti hidupku ini
Kurasa!
Hidupku dalam lingkaran kelam
Sampai detik ini aku bertahan karna-Mu
Tuhan...
Tunjukan jalan terbaikmu
Bagi kehidupan ku
Rubah pandanganku akan kehidupan
Bantu aku memahami makna kehidupan
3. Bimbang
Bagai buih terombang ambing
Di lautan lepas
Mengikuti lajunya arus
Tanpa bisa menentukan tujuan sebenarnya
Bimbang dalam segala hal
Tanpa sadar membelenggu hidupku dengan rasa kekhawatiran
4. Dusta
Rintihan rindu berbalut sendu
Dipenuhi derai air mata,
Menggerai koyak nya hati
Memaparkan dusta akan mahligai cinta
Jeratan tipu muslihat
Bersemayam dalam relung hasrat
Meninggalkan seberkas raga
Yang bertahta tanpa daya
Di penghujung nestapa
5. Kawula Muda
Kalian para kawula muda
Yang sukanya hura-hura
Harusnya lebih banyak karya
Jangan menghabiskan harta
Kalian para kawula muda
Cobalah buka mata
Pandanglah dunia dengan seksama
Hidupmu ini tidak bergantung pada orang tua
6. Manusia Tercela
Seonggok manusia yang banyak maunya
Berharap semua tercapai tanpa usaha
Inilah contoh manusia tercela
Hai manusia
Seharusnya kau ini berusaha
Jangan hanya leha-leha
Tidak ada yang instan di dunia
Maka pilihlah kerja atau sengsara
7. Mulut Manis
Mulut manismu memang menggoda
Tapi nyatanya penuh tipu muslihat
Manis akan janji-janji
Namun nihil akan aksi
Lalu mau bagaimana lagi
Semua yang terucap tak ada arti
Kini hanya berakhir menyakiti
Dasar lidah tak bertulang
8. Sebuah Peringatan!
Hai manusia…
Apa yang engkau kau harapkan?
Sebelum kau menjawab,
Lebih baik aku peringatkan!
Jangan terlalu berharap dengan manusia
Jika kau tidak siap untuk kecewa
Maka jangan percaya akan manusia
Sebab manusia pasti mengecewakan tanpa dia sadari
9. Yuwana
Yuwana
Kau pikir, kau ini siapa
Nyalinya tak seberapa
Tapi lagaknya bak jawara
10. Pemimpin
Pemimpin
Tak perlu jadi pemimpin agar disegani
Pemimpin
Hanya perlu karisma dan kewibawaan
Pemimpin
Harus perlu andil daripada kekuasaan
21. Menghina
HapusSepertinya ada hal yang perlu diluruskan!
Kamu kira aku menghinamu ya?
Aku bukannya mau menghinamu
Aku ini hanya mendeskripsikanmu
Pakai cara yang lebih baik
22. Salah Sangka
Aku kira, kau ini baik
Ternyata jauh dari ekspektasi
Dasar manusia ini
Oh iya, aku baru ingat
Namanya juga teman
Ada yang baik
Ada pula yang munafik
23. Riuh
Penghuninya tak seberapa
Namun, terdengar riuh
Hingga ingin menulikan pendengaran
Rasa-rasanya ingin ku bungkam
Mulut manismu itu
Tahukah kamu?
Suaramu itu terdengar lebih merdu
Kalau mulutmu sedang tertutup rapat
24. Kebohongan
Lihat dua sejoli itu
Yang sedang duduk manis di bawah pohon rindang
Serta asik menceritakan kebohongan
Kebohongan yang terus menerus diceritakan
Memberikan kesan seperti kebenaran
25. Lelaki Berdasi
Lelaki berdasi dengan jabatan tinggi
Sungguh patut dikagumi
Namun, ada hal yang harus kau ketahui
Lelaki berdasi itu sering umbar janji
Omongannya mirip balon warna-warni
Isinya bak angin tanpa bukti
26. Pilihan
Hidup itu pilihan
Namun, hidup itu juga singkat
Jika hidupmu habis untuk menggunjing orang
Mengomentari kehidupan orang
Lalu kapan waktumu berbenah diri?
Menata kehidupanmu dengan pasti
27. Recehan
Uang recehan
Kepingan yang identik dengan logam
Punya nilai tukar tak seberapa
Teman pun seperti itu
Tak ada bedanya dengan uang recehan
Berwajah dua
Lalu nilainya pun tak seberapa
28. Adu Mulut
Bergulat lewat cakap
Debat dengan manusia yang tak tanggap
Sungguh sangat berat
Kamu akan salah
Kamu akan kalah
Ketika kau nantinya benar
Kau akan tetap kalah
29. Tingkah Laku
Hitam atau putih
Benar atau salah
Baik atau buruk
Bak pilihan yang ada dampaknya
Seperti perbuatan yang kau lakukan
Pasti akan ada balasan
Waktunya pun tak pasti
Bisa jadi besok,
Lusa,
Atau entah kapan datangnya
Tanpa kau duga-duga
30. Karma
Laku mu itu…
Karma yang menghasilkan karmaphala
Sebab karma tak pernah jalan sendiri
Dia pasti berjalan di belakangmu
Mengintai tanpa kau sadari
Serta menunggu di waktu yang tepat
Tuk menunjukan keberadaannya
Di saat yang tepat
31. Teman
Kamu punya temen gak?
Aku sih punya banyak
Bahkan dengan berbagai macam watak
Salah satunya suka sesumbar
Kalau berucap sangat melambung tinggi
Tapi maklumi saja
Mungkin sedang merasa mabuk
Mabuk dengan kenyataan
32. Aku Paham
Aku paham
Setiap manusia memiliki kelebihan
Aku paham
Karena manusia lahir dengan kelebihan dan kekurangan
Tapi aku tak paham
Kenapa kelebihan itu perlu disombongkan
33. Sang Pengendali
Kamu kenapa?
Tiba-tiba ikut campur
Mengendalikan kehidupan saya
Ini hidup saya
Kendali ada disaya
Karena saya sutradaranya
Lalu teruntuk kamu
Tak perlu ikut masuk
Karena tak ada tempat
Serta tak ada pula posisi yang tepat
34. Parfum
Lagi-lagi aku harus membandingkan parfum dan omongan
Kalian tau kenapa?
Sebab omonganmu bak parfum isi ulang
Beraroma wangi namun palsu
35. Langit
Langit yang cantik
Yang kupandangi setiap hari
Memiliki jarak yang sulit diraih
Dia tahu letak dirinya
Sebab langit tak pernah menunjukkan dirinya tinggi
Tapi memperlihatkannya sendiri
36. Bodoh
Mau di dunia maya
Ataupun di dunia nyata
Banyak dijumpai orang yang sok Terlalu lihai dalam menilai orang lain
Padahal dia bodoh
Bodoh dalam menilai diri sendiri
37. Tak Selalu Bersama
Aku dan kamu
Tidak harus selalu bersama
Tapi yang ku harap
Kau paham kapan seharusnya ada
38. Jalan Kehidupan
Perjalanan kehidupan itu sulit
Terkadang harus melewati kerikil
Bahkan menemui tanjakan yang tak terpikir
Tapi kita perlu berterima kasih kepada saat-saat sulit
Sebab di situlah
Kita paham dan mengerti
Siapa yang teman dan yang bukan
39. Hening Ku
Hening,
Senyap,
Seperti kehidupan ku
Namun jangan salah sangka
Keheninganku bukan berarti aku selalu setuju dengan mu
Hanya saja
Tingkat ketaktahuanmu itu
Sungguh membuatku tak mampu berucap
40. Kosong
Kalian pernah dengar peribahasa ini?
Tong kosong nyaring bunyinya
Pasti pernah dengar bukan!
Kalian perlu tahu
Itu seperti seseorang yang fasih dalam berbicara
Namun yang keluar hanya omong kosong
“You are a professional doer.” Gumam Gala masih dengan kepala di bahu Odelia.
BalasHapus“That compliments come because I'm an actress or because I'm your ex?”
“It's very complicated to make amends for the past.” Gala mengganti posisinya jadi
membelakangi kamera, namun kepalanya mengarah kepada Odelia.
“Don't apologize, nothing wrong there.” Perempuan itu meletakkan tangannya pada
lengan Gala.
“Oke.”
Kepada semua hal yang terjadi hari ini, benar-benar semuanya, Odelia hanya berharap
agar berlalulah dengan segera agar ia bisa meratap dalam kamarnya. Ia ingin segera
menghapus damba yang kembali hidup, seolah dihujani pupuk dari pertemuannya dengan
Gala. Untuk hari yang akan datang, jika memang takdir ingin bermain-main lagi, Odelia
harap ia siap untuk segala rupa atmosfer yang memayungi keadaan.
Panggung hari ini adalah yang paling merana dan ulasan dari Odelia lebih banyak
mengarah ke tidak suka. Berada di dekat Manggala lagi adalah suatu hal yang bahkan tidak
mau Odelia terka. Pun ia tidak menepis fakta bahwa kenangan yang hanya dua tahun dengan
Gala tidak bisa dilupakan untuk waktu yang bisa digunakan untuk menyekolahkan anak
sampai kelas satu SMA karena sembilan puluh sembilan persen adalah kenangan euforia.
Captivated
BalasHapusPertama kali ia datang ke sekolah ini, karena waktu pendaftaran ia tidak bisa ikut
serta. Jadi asing masih mendera si paras ayu saat melangkah menuju ruang guru berbekal
petunjuk satpam di depan gerbang tadi. Ia harus lurus setelah itu berbelok ke kanan, dari lobi.
Suasana sudah jelas sepi karena jam pelajaran sudah mulai sejak lima puluh menit yang lalu.
Tidak disengaja telat datang karena wali kelasnya sendiri yang bilang, lebih baik datang di
jam ketiga karena jam pertama hingga kedua adalah jam pelajaran olahraga dan Ode belum
harus melakukannya.
Sepatu putih dengan ornamen hitam ia tatap sekali sebelum masuk ke ruang yang
sejak tadi ia cari, memeriksa penampilan. Kemeja batik lengkap dengan tanda pengenal yang
terjahit di dada kanan bertuliskan Odelia Sophie, rok abu-abu selutut, kaus kaki semata kaki,
semua aman. Ia menghembuskan nafas, membuang takut.
Belum sempat langkahnya berlanjut, presensi orang lain yang baru saja keluar
ruangan membuat kejutnya tumbuh. Lawannya juga sama saja, itu disebabkan karena ia tidak
fokus pada jalan.
Yang perempuan mundur dua langkah, sedang yang baru muncul dari ruangan
menahan tubuh sampai mengangkat tangannya ke atas.
“Sorry, sorry.” Ucapnya sambil menurunkan tangan.
Ode mengangguk sopan, bingung harus bereaksi bagaimana sebab dirinya sendiri
sedang melawan rasa asing sebagai siswi baru. Kemudian yang ia lakukan adalah bergerak
masuk ke ruang guru, menemui nama yang diberi tahu ibunya sebelum ia turun dari mobil.
“Halo, Odelia Sophie!” Panggil seseorang dari sisi ruangan saat Ode baru masuk. Ia
adalah yang Ode cari.
Langkah si paras ayu mendekat pada meja dengan papan nama terpajang di meja
bertuliskan Elizah Mayana, guru wali kelasnya. “Langsung ke kelas aja, yuk! Tapi maaf
untuk perkenalan dengan kawan baru secara proper baru bisa setelah jam olahraga, ya? Di
waktu itu nanti Bu Maya ngajar di kelas. Untuk sekarang ini, kelas 11 IPA 3 sudah keluar
kelas untuk ikut mata pelajaran, jadi kelasnya kosong.”
Ode mengangguk tanda paham. “Kalo gitu, saya ke kelas sendiri saja tidak apa, Bu.”
Mendengar penuturan dari siswi barunya, mata yang lebih tua membola. “Gitu, nggak
papa?”
Ode mengangguk sekali lagi. “Ibu lanjutkan saja kegiatannya, saya cari kelas sembari
keliling sekolah.”
Bu Maya tersenyum hangat. “Baik kalo mau kamu seperti itu silakan, Odelia. Nanti
langsung duduk di kursi yang kosong aja, ya?”
Setelah pamit secara baik dan menyapa beberapa guru yang ada di ruangan, Ode
BalasHapusmelangkah menuju pintu. Kejutnya tumbuh lagi, karena dari arah kiri ada sosok yang bangkit
menyambut. Orang yang sama dengan yang mengangkat tangan untuk menahan tubuh agar
tidak menabrak Ode sepuluh menit yang lalu.
“Adelia atau Odelia?” Tanya si pembuat kejut.
Yang ditanya melirik ke arah dalam ruangan, mengira-ngira apakah bisa suara Bu
Maya saat memanggil namanya sampai depan pintu. Jawabannya, bisa saja. “Odelia.”
“Oh, Odelia. Dipanggil Ode aja ya?”
“Iya, emang panggilannya Ode dari dulu.” Jawab Ode sembari netranya menaruh
fokus pada individu di hadapannya yang sekarang sedang berucap “Oooo...” tanpa suara.
“Gue Gala. Panggilan dari dulu juga Gala.”
Ode rasa kata aneh diciptakan untuk reaksi terhadap tingkah laku laki-laki yang baru
saja memperkenalkan dirinya. Menurut Ode ada sekitar tiga ratus siswa di sekolah ini,
mungkin juga lebih dari tiga ratus, tapi mengapa satu yang ia temui pertama kali adalah
Manggala Braga Wardhana? “Oh, oke Galla.” Ia memberi jawaban seadanya.
“Gue temen sekelas lo, btw.”
Sekuat hati setelah kalimat itu meluncur halus dari bibir Gala, Ode tidak bereaksi
yang bisa membuat tersinggung. Seperti membuka mulut lebar-lebar sampai harus
menutupnya dengan telapak tangan atau mengangkat alisnya tinggi sambil mata yang
membelalak. Perempuan itu hanya menatap mata Gala lebih lekat dari sebelumnya.
“Ayo kita ke kelas bareng!”
Padahal tidak gatal, tapi tangan Ode tergerak untuk menggaruk tengkuk. Matanya
bergerak melihat koridor yang kosong, hanya ada ia dan Gala. “Ayo.” Jawabnya pasrah. Jujur
ingin keliling sekolah hanya alibi karena Ode sendiri lelah, ia baru tidur di kasur pukul dua
setelah melakukan perjalanan selama dua jam dari Bandung.
Makin ke sini, makin tiada sesal yang dirasakan oleh Ode untuk pindah ke Jakarta.
BalasHapusPadahal sehari sebelum hari pertamanya masuk sekolah waktu itu, ia masih di Bandung untuk
menghabiskan waktu ke sana-sini dengan teman-temannya dengan kata hati enggan berpisah.
Tapi nyatanya Jakarta tidak buruk, sama sekali, bagi Ode.
Hampir tiga bulan di sini, ia merasakan banyak euforia yang tidak jauh beda dengan
Bandung. Selain punya Vivi, Kazya, dan Arum, ia juga punya Gala. Gala yang sekarang
sedang menggiring bola basket, membawanya hingga ke daerah lawan, mengincar ring yang
warnanya dominan biru.
Bibir Ode tersenyum lebar sekali saat melihat poin baru pada papan besar di sisi
kanan lapangan basket indoor milik sekolahnya tercetak angka baru. Di bawah sana ada yang
sedang berbangga diri sambil berlari ke sisi lapangan yang merupakan daerah kuasa ia dan
tim, mata mereka bertemu. “Buat kamu.” Telunjuk Gala menunjuk ring basket lawan saat
berkata demikian tanpa suara.
Ode menangkap semua itu dari tribun. Menangkap mata Gala yang berbinar,
menangkap sabit senyumnya yang cerah, pun menangkap bagaimana laki-laki itu memeluk
teman satu timnya yang paling dekat untuk menyebar perasaan bahagianya. Tiga teman Ode
yang melihat interaksi itu ikut meledek dengan mengguncang tubuhnya bersama-sama.
Letupan bahagia kisah cinta remaja menengah atas tidak bisa Ode pungkiri, ia rasakan hal itu
sekarang.
She has fallen in love.
Tanya siswi satu sekolah, siapa yang tidak jengkel dengan bagaimana kelakuan Gala?
BalasHapusBahkan guru juga akan geleng-geleng takjub. Gala ajaib karena nakal dan pintarnya
seimbang, maka ia banyak mendapat wajar.
Bukan kapten basket, namun pesonanya setara dengan yang memimpin tim. Bukan
yang peringkat satu paralel, tapi tiga. Bukan yang jago di bidang bahasa, tapi menghitung.
Gala sering melakukan hal aneh seperti tidak masuk sekolah tiga hari karena
penasaran bagaimana rasanya absen, ia belum pernah sama sekali sejak TK. Tidak tahu juga
mengapa ia setiap sakit selalu di hari libur, tidak tahu juga mengapa ia tidak pernah punya
acara keluarga yang membuatnya sampai harus absen. Paling maksimal yang pernah ia
lakukan adalah dispen karena basket.
Pernah ikut Olimpiade Siswa Nasional, mendapatkan medali perunggu, setelah itu
tidak lagi. Ia cuma ingin cari pengalaman sekali habis itu tidak berniat untuk mengulang.
Pernah sekolah dengan seragam yang tidak sesuai jadwal karena seragam aslinya bolong, ia
nekat menyetrika sendiri. Pernah bolos pramuka dengan teman-teman satu lingkarannya
hingga dibariskan di tengah lapangan saat apel penutupan.
Absennya tiga hari tanpa keterangan membuatnya jadi dipanggil Bu Maya hari itu.
Ada baiknya juga, karena hal tersebut ada jalan baru yang terbuka untuknya dan Ode. Gala
belum pernah lagi merasa jatuh pada binar netra yang atraktifnya buat lupa dunia, hingga ia
bertemu Odelia.
Setelah yang laki-laki menang sparring di kandang sendiri dengan skor 78-53, dua
muda-mudi itu keliling kota sebelum yang perempuan diantar pulang. Dengan Honda
CBR250RR, latar langit hampir gelap, dan lampu jalan yang mulai benderang, Gala bercerita
tentang ayahnya yang suka mengobrol dengan anjing mereka yang bernama Broto. Ode
tertawa sambil mendengar cerita bahwa untuk memasukkan Gala ke sekolahnya saat ini,
ayahnya meminta saran dari Broto yang saat itu mengangguk.
“Kalo Broto nggak ngangguk, aku jadi nggak kenal kamu.”
Tubuh Gala menghangat karena dekap Ode semakin erat.
Bulan selanjutnya mereka sudah kemana-mana dengan judul baru karena resmi
BalasHapussebagai sepasang kekasih. Ke pantai sore-sore, kehujanan hingga harus menepi di pinggir
toko yang tutup, ke acara pameran yang diadakan universitas dan dibuka untuk umum,
merayakan ulang tahun Ode di rumahnya, ke Kebun Raya Bogor, juga ke McD di jam 11
malam setelah Ode melakukan lomba monolog.
Setelah menelan cheese burger miliknya, Ode hendak membuka mulut untuk bicara.
Namun sebelum itu, tangan Gala memanjang untuk menyeka ujung bibir kekasihnya dengan
tisu. “Kamu nggak harus selalu nonton aku pentas tau, Gal. Misal kamu ada acara apa gitu,
datengin aja acaramu.”
“Enggak kok, pentas teater kamu nggak pernah ganggu acara aku. Tenang aja.”
Setelah meletakkan tisu bekas bibir Ode pada nampan cokelat di hadapannya, Gala
melanjutkan acaranya makan ayamnya. “Kamu tampil di acara di gedung teater mana aja
bakal aku datengin.” Lanjutnya sebelum melahap.
“Terus kalo misal nggak bisa nganter aku ke sana atau jemput aku di situ, juga bilang,
ya? Kamu jarang banget absen anter-jemput, makanya aku suka ngerasa takut ngerepotin.”
Telapak tangan kiri Gala yang tidak kotor sama sekali bergerak di udar. “Nggak lah,
Sayang. Aku mah disuruh anter-jemput kamu sampe muterin Jakarta juga nggak merasa
direpotin.”
Gala serius saat ia ingin sesuatu, maka ia akan bergerak. So he got the great love from
Ode as much as he gave.
Both of them were captivated.
Nonetheless
BalasHapusMalam itu hujan mengguyur kota yang kalau boleh jujur baru Ode pijak pertama kali
ini. Diperhatikannya lamat-lamat mulai dari aroma kota, suasana ramai, dan lampu jalan.
Dimasukkan dalam kenangan baik untuk diceritakan sebagai pengalaman kelak.
Kalau kalian mau tahu ada orang yang tidak tahu diri, maka orang itu adalah Ode. Ia
berada dalam mobil yang disewakan oleh manajer Gala untuk berpergian di Anaheim dengan
Gala yang berada di belakang kemudi,mereka habis pergi berdua. Ini sudah 30 jam mereka di
kota orang karena acara merek fesyen yang menjadikan mereka duta dari Indonesia.
Terlibat beberapa obrolan kecil karena harus ke sana-sini berdua di acara pagi ini,
mereka seperti “akrab” kembali. Kalau tidak begitu, mana mungkin Ode bisa ada dalam
mobil dengan Gala malam-malam hanya untuk cari pizza? Mana mungkin Ode setuju pada
ajakan Gala satu jam yang lalu?
“Mau makan apa lagi?” Gala memecah hening sembari melirik pada Ode yang
melihat ke luar kaca sebelah kanannya. “Atau mau ke mana dulu?”
Ode menoleh, kemudian menggeleng. “Udah aja deh.”
Hening lagi. Suara siaran pada radio yang diputar asal tidak dapat menyembuhkan
apa-apa. Pun banyak objek di sepanjang jalan yang mereka lalui juga tidak ada yang
menimbulkan topik baru baik oleh yang mengemudi ataupun yang menumpang. Obrolan
yang tercipta di restoran pizza tadi pun hanya obrolan ringan yang biasa dilakukan teman
lama.
Sebenarnya sebagai selebriti, susah untuk menutup-nutupi bahwa mereka pernah
punya hubungan. Namun dengan kesepakatan yang mereka buat sejak pemotretan kala itu,
bila setelahnya akan berita tentang mereka berdua, maka keduanya akan sepakat untuk tidak
menyangkal bahwa mereka saling kenal. Di sisi lain, keduanya akan menyangkal bila disebut
pernah memiliki hubungan selain teman dekat. Publik tidak perlu tahu kebenaran tentang itu.
Hingga akhirnya mobil berhenti karena sukses terparkir kembali di rubanah hotel.
“Is that rumor is true?” Tembak Gala tiba-tiba. Tangannya tidak berusaha mematikan
mesin mobil agar AC tetap menyala saat mereka butuh bicara.
“Jangan pake kata rumor buat nanya kebenaran, Gal.” Senyum Ode terbit bersamaan
dengan tangannya yang bergerak untuk melepas seat belt.
NAMA : YULIA NURLAYLY ASLAMIYAH
BalasHapusNIM : A310200144
KELAS : 5B
Mata Kuliah: Menulis Kreatif
Karya: Kumpulan Cerpen
Timbal Balik Antara Sahabat
Pagi ini hujan turun dengan sangat deras saat Saka hendak pergi ke sekolah. Saka pun
merasa bingung bagaimana caranya untuk berangkat ke sekolah tanpa kehujanan. Ketika
sedang keluar untuk mengecek kondisi hujan di luar, terdengar suara HP Saka yang berdering
di sakunya, ternyata itu dari Demas. “Saka kebetulan ini yang mengantar ayahku dengan mobil,
mau bareng tidak?” tanya Demas dalam teleponnya. “Iya boleh Demas, kalau tidak
merepotkan” jawab Saka. “Tidak merepotkan kok Saka, kan kamu sahabatku”
Tak selang berapa lama, Mobil Demas sudah sampai di depan rumah Saka dengan
ayahnya yang menyetir. Saka pun bergegas masuk ke rumah untuk mengambil tas dan
berpamitan pada ibunya, karena ayahnya sudah berangkat sedari tadi.
Setelah sampai di sekolah, Saka dan Demas berpamitan pada ayah Demas. “Sekali lagi
terima kasih ya Om” ugkap Saka pada Ayah Demas. “Iya Saka sama-sama, jangan sungkan”
Saka dan Demas pun pergi masuk ke kelas mereka. Saka yang lebih dulu duduk di
bangku bertanya pada Demas “ Sudah sarapan Demas?” tanyanya. “Belum Saka, tadi Ibu tidak
sempat masak” Jawab Demas lesu. “Ya sudah ayo kutraktir di kantin, itung-itung terima
kasihku karena sudah mau memberi tumpangan ke sekolah tadi.” Ajak Saka “Wahh, terima
kasih Saka, sebenarnya aku menolong dengan sukarela, tapi kalau ditraktir siapa sih yang
nolak? Hahaha” Jawab Demas yang juga diikuti tawa oleh Saka.
Liburan?
BalasHapusSelepas pembagian rapot di sekolah, akhirnya aku bisa menikmati liburan yang
panjang. Meskipun aku tidak mendapat rangking satu, tapi aku tetap mendapat nilai yang
lumayan baik, masih masuk tiga besar di kelas. Aku pun tambah bahagia karena
membayangkan keluargaku mengajak aku pergi liburan. Ayah dan ibuku mengajakku pergi
liburan ke suatu tempat wisata yang menyenangkan dan belum pernah aku kunjungi. Aku
sangat tidak sabar untuk pergi menikmati liburan itu. Bahkan aku bingung untuk memilih
pakaian mana yang akan kupakai. “Aku pakai baju yang mana ya?” Tanyaku dalam hati. “Bawa
baju apa saja ya?, Ah baju dari nenek ini sepertinya bagus, tapi yang merah hadiah dari tante
juga bagus!”
Aku pun pergi menemui ayah dan ibu yang sedang asyik mengobrol di ruang keluarga.
Lalu aku bertanya pada mereka, “Ayah, Ibu, Kita jadi berangkat hari apa?”. Ayah dan ibu tibatiba hanya saling pandang, lalu Ibu berkata “Sayang, liburan kali ini ditunda dulu ya, karena
ayah harus pergi ke Bandung selama 2 minggu, untuk mengurus pekerjaan yang tertunda.”
Mendengarnya bagaikan gledek di siang bolong, aku terkejut dan dengan lesu pergi ke kamar.
Aku sangat kecewa mendengar Ibu tadi, tapi aku harus bagaimana selain menerima
keputusannya.
Hari-hari telah berlalu dan aku hanya menikmati libur sekolahku di rumah saja. Ya
terkadang aku pergi bermain di luar dengan teman-teman lingkungan tempat tinggalku.
Meskipun begitu aku tetap merasa ada yang kurang. “Masak liburan begini-begini aja”
Batinku.
Terkadang aku juga membantu ibu melakukan pekerjaan rumah, dan belajar untuk
persiapan masuk sekolah. Hingga tiba-tiba pada suatu sore ibu mengetuk pintu kamarku dan
bilang kepadaku “kamu segera mandi ya, Ibu tunggu di luar.” Aku menjawabnya dengan heran
“loh kita mau kemana Bu?” Lalu ibu menjawab “Ibu mau mengajak kamu ke Mall, ayah tadi
transfer uang. Kemarin ibu bilang ke ayah kalau kamu di rumah tidak bersemangat, lalu ayah
mentranfer uang untuk mengajakmu pergi ke Mall.” Sontak aku merasa senang “Asikk, oke
kalau begitu aku mandi dulu.”
Setelah itu aku pergi ke Mall dengan Ibu, kita melihat film bersama, membeli baju baru
yang berwarna senada juga makan makanan yang belum pernah dicoba. Aku sangat senang
hari itu. Meskipun hanya pergi ke Mall dan tidak jadi liburan bersama-sama pergi dengan Ibu
ke Mall mengembalikkan kegembiraanku. Terima kasih Ayah dan Ibu, aku sayang kalian.
Bubur Barokah
BalasHapusPagi itu seperti biasa Pak Jamal berdagang bubur ayam di kos dekat perumahanku,
sudah beberapa hari ini sebenarnya Pak Jamal tidak berjualan karena harus merawat istrinya
yang sakit karena terjatuh di tangga. Jadi sudah beberapa hari juga aku rindu bubur ayam buatan
Pak Jamal.
“Sudah seminggu pak ngga jualan, kangen buburnya aku.” Setibanya aku di kios Pak
Jamal. “Iya neng, rawat Ibu dulu kemaren.” “Memang anak-anak kemana Pak?” tanyaku.
“Yang besar kan sudah berumah tangga jadi ikut suaminya. Yang kecil sekarang tinggal di
Sukabumi dengan neneknya.” Jawab Pak Jamal menjelaskan. “Oalah, berarti bapak hanya
berdua dengan Ibu ya?” “Iya neng, buburnya berapa neng” “3 Pak.” “Biasanya hanya 2, tumben
yang satu untuk siapa neng?” tanya pak Jamal. “ Nenek pak, ini sedang nginep di rumah jadi
mau coba bubur Pak Jamal yang paling enak sekomplek.” “Hehehe, eneng bisa aja.”
Selang beberapa lama ada Ibu-Ibu tua yang meminta-minta ke kios Pak Jamal, aku yang
iba pun memberikan uang dan dijawab ibu itu “Semoga rejekinya lancar ya nduk.” “Amiin”
kataku. Pak Jamal yang juga melihat ibu tua itu bertanya padanya “Sudah makan bu?” “Belum
pak” jawab ibu itu. “Sini bu duduk, sarapan dulu. “
Setelah itu bubur pesananku pun jadi Aku pun membayar dan mengatakan pada Pak
Jamal “Pak sekalian ini untuk bubur ibu itu ya.” “Tidak usah neng, biar ibu itu bapak gratiskan
saja, itung-itung jadi barokah pagi ini.” Kata Pak Jamal. “Oooh iya pak, kalau begitu saya
permisi pak.” “Iya neng.”
Pak Jamal memang orang yang baik, selain memiliki kasih sayang yang tinggi pada
keluarga, Pak Jamal juga suka menolong sesama. Semoga Usaha bubur Pak Jamal tambah maju
dan barokah.
Siapa Setyo?
BalasHapusKamis sore dengan nuansa cuaca yang gerimis kecil-kecil memang enaknya sambil
menyantap soto hangat di depan kampusku. Aku dan Diana teman satu jurusanku berencana
pulang bersama sambil mampir ke toko buku untuk membeli novel incaran kami sejak minggu
lalu. Namun, karena cuaca yang tiba-tiba gerimis membuat kami mampir ke warung soto untuk
berteduh dan makan sore.
“Net, cari novelnya besok saja ya.” Kata Diana ditengah-tengah kami menyantap soto
yang nikmat. “Memang kenapa Di? Aku udah nunggu beli novel dari minggu lalu tau.” Kataku
sedikit kesal. “Kak Rian mau jemput, dia ngajak nonton.” Kata Diana sambil nyengir. “Balikan
kamau sama mantanmu itu?” tanyaku heran. Diana hanya menjawab dengan cengiran mautnya.
“Ya sudah nanti aku ke sana sendiri saja, takut kehabisan.” “Maaf ya Net, maaf banget.” “Iya”
jawabku sedikit kesal.
Meskipun sedikit kesal karena Diana tidak jadi menemaniku untuk membeli novel
incaranku akhirnya aku pun pergi ke toko buku sendirian.
Sesampainya di toko buku aku pun langsung mencari novel incaranku. “Ketemu.”
Batinku senang. Namun, saat aku hendak mengambilnya ada tang yang mejulur untuk
meraihnya juga. “Maaf aku duluan yang mengambilnya.” Kataku agak takut. Karena si
empunya tangan adalah sesosok laki-laki yang berbadan tinggi dan tangannya pun juga besar
aku pun mengatakannya dengan nada rendah. Nyaliku menciut.
“Untukku ya? Adikku mencari novel ini dari kemaren.” Katanya dengan nada halus
tapi dengan suaranya yang besar. “Tapi aku duluan yang menemukannya.” Jawabku dengan
memelas. Dia pun yang melihatnya juga sepertinya ragu untuk tetap bersikukuh dengan
keinginannya. “Ya sudah. Ini “ kataku sambil mengulurkannya. Melihatnya yang seperti putus
asa membuatku iba, apalagi novel ini hendak ia berikan untuk adikkanya. Entah itu benar atau
tidak, aku pun hanya ingin berbuat baik. “Di toko lain, atau online saja deh aku belinya.”
Batinku menyemangati. Aku kemudian mengulurkan novel itu dan pergi meninggalkan lakilaki itu.
Sepulangnya aku dari toko buku, sampai di kamar aku kembali mengingat momen tadi.
Laki-laki berbadan tinggi dan bertangan besar tadi mengingatkanku akan seseorang di masa
lalu. Sepert fitur wajahnya aku menenalnya. Siapa ya tapi?
Pagi harinya seperti biasa aku pergi ke kampus dijemput Diana. “Kemaren jadi nyari
novel itu Net?” tanya Diana sambil mengulurkan susu kotak kepadaku. “Ada apa ni?” tanyaku
heran. “Permintaan maaf ku kemaren karena tidak jadi menemani mencari novel incaranmu.”
“Alah sogokan.” Kataku sambil tetap mengambil susu kotak di tangan Diana. Kami pun pergi
ke kampus bersama dengan mobil Diana.
“Di, kemaren aku ketemu orang di toko buku yang sepertinya teman kita dulu deh.”
Kataku pada Diana. “Siapa?” “Sepertinya tetangga kita di komplek dulu.” Jelasku pada Diana.
“Anak komplek kan banyak Netaaa. Banyak yang pindah juga.” Timpal Diana agak kesal.
Setelah kuingat-ingat lagi, iya juga ya. Sebagian temanku di komplek saat kecil memang
banyak yang pindah pindah rumah dan tidak bertemu lagi. Sehingga wajar kalau Diana agak
kesal.
“Eh..” “Kenapa Net?’ tanya Diana yang melihatku tiba-tiba berhenti. “Itu Di, laki-laki
yang kemaren.” “Ah, mana?” “Itu yang baru turun dari motor pakai jaket hijau.” Kataku
menunjuk laki-laki di parkiran. Diana pun menoleh mencari laki-laki yang kumaksud. “Alah,
itu mah Kak Setyo, anak Teknik Sipil angkatan atas kita.” Terang Diana. “Kok kamu tahu?”
tanyaku heran pada Diana. “Ya iyalah, dia anak Teknik yang sering masuk instagram kampus.
Pinter dia.” Kata Diana. “Memangnya kita pernah tetanggan dengan Kak Setyo?” tanya Diana
heran. “Entah.” Jawabku sambil mengajak Diana pergi menuju kelas.
Di kelas aku tidak bisa berhenti memikirkan laki-laki yang kutemui kemarin di toko
buku juga yanga ada di parkiran tadi. Fitur wajahnya mengingatkanku akan sosok teman ku
saat kecil dulu di komplek. “Setyo..” batinku mengingat-ingat. “Siapa ya Setyo ini?, apa benar
ya teman komplek ku dulu?”
Nama : Junita Arliniwaty
BalasHapusNIM : A310200067
Kelas : A
Karya : Puisi
Rindu
Desah rindu peluh dalam dada.
Lirih waktu berputar tak berasa.
Kalbu merah menusuk rongga rasa.
Perih melihatmu tersenyum bersama sang penggoda.
Hitam pekat membasuh wajah.
Wahai sang pemberi rasa.
Aku menangis parah dalam hari yang kian membelenggu jiwa.
Pahlawan Pandemi
Duduk lemas meratapi kelelahan
Dari pagi hingga ke pagi engkau berjuang
Berpakaian putih lengkap yang pengap
Bercucuran keringat serta air mata
Menahan rindu bersua dengan sanak keluarga
Namun engkau berusaha tegar demi kesembuhan pasien
Putih suci pakaian mu, sesuci niat mu
Tak ada keraguan serta ketakutan
Kau rawat pasien mu dengan kasih sayang
Sungguh mulia tugas mu
Insyaallah surga tempat mu
Luka dibalik Pandemi
Kubuka mata dengan perlahan
Terlihat dibalik jendela, langit yang murung
Matahari yang tak begitu bersemangat
menyinari bumi
Kulihat kakek tua yang berjalan membawa dagangan nya yang masih penuh
Anak-anak yang tak bisa bermain bebas
Tuntutan kehidupan yang semakin
membelenggu diri
Penuh derita, penuh luka dan tangisan
Sampai kapan kah kesedihan ini berakhir
Sampai kapan kah bumi ini pulih
2. TAMU DARI MARS
BalasHapusAku sedang membeli sebuah nachos di pinggir jalan milik paman Nick, saat tiba-tiba seorang menghampiriku dan meminta sebuah nachos kepadaku. Aku tidak punya uang lebih saat itu. Uangku hanya cukup untuk membeli satu porsi nachos. Jadi aku menawarkan untuk berbagi satu nachos milikku kepadanya. Dia hanya menganggukan kepalanya setuju. Rambutnya pirang hampir putih, tinggi semampai dengan kulit pucat bak porselen. Ia banyak bertanya hal tentang manusia dan bumi seakan-akan dia turis di bumi. Ah, dia mengenalkan dirinya sebagai J401. Aku memanggilnya dengan pelafalan huruf depannya saja, Jey, karena, yeah, siapa yang memanggil orang lain dengan julukan sepanjang itu apalagi dengan kombinasi angka. Bukankah itu terlihat aneh? Seperti, ‘Halo, Jey empat ratus satu, bagaimana kabarmu?’. Aku tidak tahu, orang tua mana yang memberi namanya dengan paduan huruf dan angka seperti itu. Saat aku bertanya mengapa, ia menjawab jika yang memberi nya nama adalah pimpinannya bukan orang tua nya. Pimpinan seperti apa maksudnya, apakah semacam presiden? Karena rasa penasaranku semakin membuncah, aku bertanya kepadanya dari negara mana ia berasal. Setelahnya ia hanya terdiam dan aku bukan tipe yang pemaksa.
Kami duduk di pinggir sungai seraya memakan satu porsi nachos milikku. Wajahnya selalu menampakan seperti sedang berpikir keras. Bahkan saat ia menyuap nachos milikku pun ia selalu menampakan wajah bertanya-tanya. Mungkin ia bertanya-tanya, mengapa ada makanan seenak ini? atau apakah bahan yang dipakai ada campuran dari debu pixie dan ayunan tongkat sihir dumbledore? Aku tidak berbohong, walau murah, nachos di pinggir jalan milik paman Nick adalah yang terenak di bumi ini.
“Bagaimana pendapatmu mengenai manusia bumi?” Tiba-tiba ia bertanya. “Satu dari sepuluh nilainya nol bahkan minus.” Sahutku.
“Seburuk itu?”
Aku hanya menganggukkan kepalaku seraya melahap nachos ku yang tinggal seujung
jari.
“Padahal kau juga manusia bumi.”
“Aku tidak menyangkal nilaiku juga buruk kok. Bicaramu aneh, memangnya kau bukan manusia bumi juga?”
Ia kemudian menggeleng, “Bukan”.
Aku tertawa. Ah, mungkin ia terjangkit suatu penyakit mental. Yah, di zaman sekarang hal seperti itu sudah lumrah bukan? Semakin hari, semakin banyak manusia aneh yang memadati isi bumi. Oh, bumiku malang sekali.
“Aku serius. Pimpinanku mengirimku ke sini untuk mengamati manusia bumi. Jika memang nilainya seburuk itu, maka kami tidak akan menerima kalian di rumah kami?”
BalasHapusOh, aku sudah tidak sanggup lagi. Ini semakin gila. Perutku sakit karena tertawa begitu kencang. Wajah seriusnya makin mendukungku untuk tidak bisa berhenti tertawa. Rasanya aku akan mati karena tertawa detik itu juga. Ugh, itu adalah hal paling konyol dibanding perkataan si pirang ini.
“Hei, kau orang yang lucu. Aku suka kau. Akhir-akhir ini manusia sepertimu sangat jarang terlihat. Yah, kau tahu, bumi makin dipenuhi oleh manusia-manusia yang melawan arus demi mengincar kenikmatan mereka masing-masing. Terima kasih ya sudah bertemu dan menghiburku.” Ujarku kemudian seraya masih tertawa kecil
“Aku setuju. Selama aku di bumi manusia yang kutemui aneh semua, termasuk kau. Aku tidak yakin kalian akan diterima di rumah kami. Aku harus pulang, waktu ku tidak banyak. Terimakasih untuk turnya. Aku akan mengingatmu. Manusia di bumi aneh-aneh. Namun, kau orang baik. Suatu saat, bumi sedang tidak baik-baik saja, aku akan memberikanmu tiket gratis ke rumahku.”
Aku hanya tertawa kecil mendengarnya dan hanya menganggap perkataannya sebagai guyonan semata . Karena, yeah siapa yang percaya perkataan anak kecil yang terlalu banyak menonton film luar angkasa? Namun, sedetik kemudian aku merasa aku harus percaya ucapannya ketika aku melihat dengan kedua mataku sendiri, Jey pergi dengan piring terbang yang melintas di atas kepalaku.
“Haha, okay, memangnya rumahmu di bagian bumi sebelah mana? Apakah sejauh itu?
Karena ibuku tidak akan mengizinkanku bermain terlalu jauh.”
Jey hanya tersenyum. Kemudian air sungai di depan kami beriak. Angin-angin di sekitar kami berhembus dengan kencang membuat helaian rambutku terbang ke sana ke mari. Ku tengok ke atas langit dan betapa kagetnya aku. Piring besar terbang tepat di atas kepalaku. Mulutku menganga sampai mau jatuh rasanya. Aku tidak dapat berpikir apa-apa, otakku rasanya membeku hingga aku sadar Jey sudah masuk ke piring besar itu dengan cahaya bak laser yang menariknya. Ia melambaikan tangan padaku. Setelahnya piring terbang itu menghilang dengan sekejap dari mataku. Apakah aku ikut gila?
Surat undangan kunjungan ke Mars.
Hai. Mungkin kamu sudah melupakanku. Tapi aku akan selalu mengingatmu. Terima kasih untuk nachos dan tur singkat kala itu. Aku sangat menyukainya. Pimpinanku berkata bumi akan hancur 20 tahun lagi jika manusia-manusia di sana masih berperilaku aneh. Kuharap kau dapat membawa perubahan yang lebih baik pada planetmu. Karena jika bumi hancur, Mars tidak akan menerima kalian. Laporan ku kemarin atas kunjungan ke bumi sudah cukup untuk memutuskan bahwa makhluk di Mars tidak akan pernah menerima manusia-manusia berperilaku aneh. Namun, aku diperbolehkan untuk mengundangmu kemari. Jadi jangan khawatir, kau dapat ke sini jika planetmu itu hancur. Oh, ya aku juga akan mengundang paman Nick. Kupikir, mahluk-makhluk di Mars akan menyukai nachos buatannya.
Dari, teman Mars-mu,
Jey.
3. PERMINTAAN MAAF SEORANG IBU
BalasHapusKatanya nyawa makhluk hidup bergantung pada uang.
Nak, maaf karena ibu telah menjadi manusia miskin yang memilihmu. Aku bukan manusia yang memilihmu karena ibu ingin. Bukan yang rela mengeluarkan uang satu dua koper untuk menjadikanmu milik ibu. Jutaan bintang di galaksi terangkum dia kedua manik bulat mu adalah hal yang menggetarkan hati ibu dan mendorong perasaan kasih sayang begitu besar kali pertama bertemu.
Nak, maaf telah ibu menjadi manusia miskin yang memilihmu. Ibu memilihmu, bukan karena tampilanmu, tapi karena hati ibu. Mungkin bagi yang lain, kamu kalah gemas dengan mahluk berbulu lainnya di dunia ini. Namun, jika pun ibu menjadi si kaya, ibu akan tetap memilihmu karena kamu tiada banding.
Nak, maaf karena ibu menjadi manusia miskin yang memilihmu. Rasa sayang sebesar semesta pun sepertinya tidak akan menjanjikan untuk bernapas lebih lama. Maaf karena ibu menjadi manusia miskin yang memilihmu. Maaf, jika nanti ibu hanya berdiam diri. Membeku. Melihatmu dengan nafas terakhir yang kau punya meninggalkan buana. Ibu tidak punya kuasa. Apalagi uang.
Nak, maaf karena ibu menjadi manusia miskin yang memilihmu. Ibu berterima kasih pada Tuhan yang telah mempertemukan kita pada asmaraloka ini. Namun, jika ibu bisa meminta lebih, ibu ingin kau dipilih oleh manusia kaya yang mencintaimu agar kau tetap sehat dan bahagia. Karena surga tidak akan ada untukmu. Jadi, setidaknya kau harus bahagia di semesta ini. Jika nanti aku lahir kembali, aku berharap pada-Nya untuk menjadikan ibu ikan yang dijual di pasar. Agar kamu bisa mencuri ibu untuk perutmu. Agar kau bisa mendapat protein yang layak. Agar kau bahagia. Karena jika ibu menjadi manusia, ibu akanmati karena perasaan. Ibu akan terpuruh jatuh, mati, melihatmu yang kurawat. Maafkan ibu karena aku terlalu pengecut untuk jadi ibumu. Ibu terlalu takut untuk merasakan sakit. Pedih yang memenuhi dada hingga rasanya sesak. Ingin sekali rasanya melarikan diri, tapi rasa sakit terlanjur mengakar dalam tubuh ibu. Dalam hati ibu.
Nak, maaf karena ibu menjadi manusia miskin yang memilihmu.
Surat untuk Tuhan
BalasHapusYang Maha Tahu isi hatiku, aku hanya ingin anakku menjadi mahkluk mu paling bahagia di dunia. Jadikan aku di kehidupan selanjutnya sebagai ikan-ikan di laut yang ditangkap nelayan dan berakhir di pasar. Buatlah daging yang besar untuk tubuhku. Yang kelak akan dimakan anakku. Tak pernah kulewatkan sedetikpun untuk mensyukuri kelahiran anakku yang diberikan padamu. Anak laki-laki pemberani dan baik kepada semua orang. Ia akan selalu jadi anakku di tiap kehidupanku, benar begitu? Jika memang kau tak bisa memberi surga padanya, maka buatlah ia bahagia dengan atau tanpaku.
Dari, Ibu yang miskin
Surat yang tidak akan pernah tersampaikan
BalasHapusRin, saat pohon akasia itu menyuruhku untuk menunggu, hatiku berbisik ini salah. Namun, aku tetap berusaha mempercayainya. Hingga kemarin ia berkata jika kamu seperti biasa di pukul empat di sudut rumahmu membaca Duka-Mu Abadi dengan cokelat panas yang tidak pernah absen. Kemudian aku pergi ke sudut rumahmu dan melihatmu di pukul empat, membaca serius Petualangan Tintin dengan soda kaleng. Apakah pohon akasia itu berbohong, Rin?
Jadi, diriku yang lain membawa ragaku ke ayahmu dan membujuknya untuk menebang pohon akasia. Ibuku pernah berkata, seseorang yang nakal harus dihukum. Yah, lagi pula log akan selalu tumbuh juga kan?
Untuk, Rin yang lebih baik tidak tahu ini
6. SESI MENANGIS UNTUK DIA YANG PILIH DI SEMESTA
BalasHapusAda manusia paling serakah sedunia yang tiap detiknya selalu muncul di kepala bahkan di waktu aku ingin melupakannya. Katanya yang paling baik itu merelakan. Namun, kenapa kau tidak lelah, berlarian di kepala tanpa punya rasa ingin pulang. Apa kau tidak tahu letak pintunya? Atau kau lupa jalan pulang?
Hari ini aku mendatangi seseorang yang senasib denganku. Namanya Bulan. Perpisahan itu harus dirayakan. Ditangisi itu klise. Begitu katanya. Aku mengiyakan saja, karena sudah terlalu muak dan frustasi mencari cara melupakanmu. Mungkin benar katanya, ini harus dirayakan. Maka, aku pergi ke tempat ia ada di sana. Tempat yang dekat dengan kamu, katanya. Aneh bukan? Dia bilang ini bisa melupakanmu tapi mengapa memilih tempat yang dekat denganmu? Karena aku sudah sangat menyerah, maka aku menurutinya.
”Mengapa hanya ada soda kaleng? Kukira akan ada banyak makanan dan musik.” Ujarku sesampainya di tempat yang Bulan janjikan.
”Mengapa kau berpikir demikian?” ”Kau bilang kita harus merayakan?” ”Memang merayakan harus ada pesta?”
Aku terdiam. Terasa lelah jika perdebatan ini dilanjutkan. Tempat ini ada di puncak gedung tinggi berisi budak-budak yang tertekan dengan atasannya. Miris, tetapi mungkin itu satu-satunya cara untuk bisa makan. Yah, aku tidak terlalu peduli sih. Aku bahkan sudah tidak ada keinginan untuk makan. Karena yang ada di kepalaku sekarang hanya bagaimana caranya aku bisa bertemu denganmu. Namun, sepertinya itu tidak akan terjadi hari ini, karena Bulan menawarkan solusi untuk ini. Aku tidak begitu mempercayainya sih. Lihat saja, jauh-jauh datang ke sini hanya disuguhi soda, bagian mana yang pantas untuk merayakan. Tapi, daripada sama sekali tak dicoba, kan?
”Hei, lihat ke atas. Ini terasa dekat sekali dengan orang yang pergi ke langit.” Bulan berteriak.
Aku memandang langit malan yang tidak ada bintangnya karena tertutup polusi. Menatap nanar langit, apakah kau merasakannya juga? Apakah sudah sedekat itu? Aku hanya perlu meloncat sedikit saja kan untuk memelukmu?
”Hei, bodoh! Kau ingin menjadikanku tersangka pembunuhan?” Teriak Bulan padaku seraya mengenggam erat tanganku.
Aku tersadar, kakiku sudah diujung darat, ”Kenapa ya, kehilangan itu harus ada?” ”Makin banyak kehilangan, makin buat kita sakit jiwa. Sebesar itu yang dampak orang
yang dipilih semesta?”
“Aku menatap sedih Bulan, “Kamu tahu kan kalau kehilangan itu eksisnya bukan hanya di kepala?”
Bulan berdiam. Kemudian ia membuka tutup kaleng soda dan menyerahkannya padaku, ”Hidup manusia itu berakhir dengan cara yang berbeda. Jika orangmu itu pergi karena dipilih semesta bukan berarti hidupmu juga berakhir sama sepertinya. Kau tahu kenapa caramu untuk menyusulnya selalu gagal? Karena semseta tidak memilihmu. Dan mungkin orangmu juga meminta pada semesta untuk membiarkanmu lebih lama di dalamnya.”
Aku menyesap cola yang diberikan Bulan kepadaku. Seperti ada ratusan semut berjalan di lidahku hingga kerongkongan.Aku memikirkan ucapan Bulan barusan. Mungkin benar nyatanya. Mungkin semesta memang tidak memilihku. Mungkin, kamu memintaku untuk lebih lama di sini, ”Jika memang ia memintaku untuk lebih lama di sini, mengapa ia tak pernah pergi dari kepalaku? Membuatku ingin bersamanya selalu.”
”Bukan ia yang tak pernah pergi dari kepalamu. Tapi kamu yang menyimpannya terus di kepalamu.”
”Berarti aku yang egois? Bukan dia?” “Entahlah.”
Mungkin benar. Perihal aku yang menjadi sumber kesedihan yang tak pernah berakhir kini. Yang membuatku menderita. Mungkin benar, itu aku. Aku yang egois. Yang tidak pernah rela melepasmu pada semesta dan ingin terus menahanmu di buana. Mungkin benar. Kamu yang tidak selalu resah, tidak tenang di langit karena ikhlasku belum sampai pada kepergianku. Hatiku sesak. Aku tersengal. Kepalaku runyam. Sedihku seperti ada puncaknya dan meledak sekarang.
Bulan mengelus bahuku lembut seraya berkata, “Tidak apa, perayaan kali ini adalah sesi menangis untuk dia yang dipilih semesta.”
Surat mengikhlaskan
BalasHapusUntuk yang ada di langit
Aku sudah membuat pintu keluar di kelapaku. Jadi, kamu sudah bisa keluar mulai detik ini. Maafakan aku yang berpikir kamu egois padahal aku yang egois. Maaf aku terlalu lama mendekapmu saat kamu seharusnya sudah bisa tenang di langit. Apakah semesta mau memaafkanku? Apakah semesta masih mau aku tinggal lebih lama? Kuharap jawabnnya iya.
Aku sadar, barangkali aku terlalu takut untuk lari dari kenangan soal kamu. Kupikir, kehilangan itu sudah biasa. Sudah berapa banyak kali kehampaan yang kurasakan sebelum hampa karenamu. Tapi aku salah, terbiasa belum tentu bisa. Bulan bilang, ikhlasku harus sampai padamu agar kamu bisa bahagia. Mungkin itu benar. Jadi mulai hari ini aku mencoba ikhlas melepasmu ke langit.
Dari, Aku si manusia egois.
Surat untuk peri
BalasHapusPerihal omongan temanku itu, jangan dimasukan ke hati, ya. Aku percaya padamu surgamu. Hanya kamu yang bisa memberikanku kebahagiaan di saat dunia tidak bisa memberikannya padaku. Sebenarnya, menyenagkan bisa tidur dan bermimpi dengan bahagia sepanjang hari bersamamu. Jika memang aku tidak bisa terbangun, kupikir itu tidak masalah jika imbalannya pergi ke neverland bersamamu. Kau bisa berjanji kan? Aku mempercayaimu.
Ah, iya. Aku tadi bertemu denganmu di depan pintu rumah temanku. Kau benar-benar cantik secara nyata.
Untuk, Peri Gyu di neverland.
8. TITIK PANDANG PERTAMA
BalasHapusAthaya membawa kedua tungkainya menuju kelas XII IPA-1 yang berada di lantai tiga paling ujung sebelah kanan. Jujur saja, langkahnya berat. Dengan pikiran-pikiran buruk yang kapan saja dapat terjadi di masa depan, rasa takutnya untuk bertemu primadona sekolah semakin besar hingga dapat meledak kapan saja. Namun, perkataan Luna terus terngiang memberi tumpuan pada dirinya untuk menyelesaikan masalah ini dengan penuh rasa tanggung jawab.
Langkah menuju kelas yang ia tuju hanya tinggal menghitung jari, tetapi kakinya seperti direkatkan sangat kuat pada tempat ia berpijak. Dari tempatnya berdiri, Hestama Rahagi Lesmana tertangkap di kedua netranya, bergumul bersama dua tiga orang yang mengelilinginya. Satu hal yang terpikiran di otaknya; ia ingin muntah. Perutnya mual, rasanya seperti ditekan oleh atmosfer orang-orang pintar yang ada di dalam kubus IPA-1. Otak bodohnya seperti berteriak malu. Hal itu membuatnya terdiam lima langkah dari XII IPA-1, bergumul dengan pikiran absurdnya, hingga suara nyaring yang mengelukan namanya tertangkap oleh indera pendengarannya.
“Athaya ya??” Laki-laki berperawakan tinggi dengan wajah bak dewa Eros menyapanya. Athaya terlonjak, “Eh, iya kak…”
“Mau nyari Tama kan?? Sebentar ya, aku panggilin dulu.” Athaya hanya mengangguk pelan membalasnya.
“Tama! ini ada si Athaya yang ngabisin bekel kamu!” Si dewa Eros berteriak yang menghasilkan raut wajah berwarna merah seperti kepiting rebus pada wajah Athaya. Sialan, batinnya.
Tak perlu waktu lama, orang yang dipanggil kini berdiri di hadapannya.
“Kutinggal dulu ya, baik-baik jangan bertengkar.” Ucap Si Eros seraya melenggang pergi menyisakan Athaya dan Hestama.
Tak ingin membuang waktu, Athaya langsung menyampaikan maksud dan tujuannya. Dengan menyerahkan sari roti isi selai srikaya yang ia beli sebelumnya, seraya menundukkan kepalanya, enggan menatap iris yang diajak bicara, ia berkata kepada Hestama, “Kak, maaf banget sebelumnya, tapi bekal nya udah aku habisin. Sebagai gantinya aku belikan ini dan tempat makan kakak aku bawa pulang mau dicuci dulu. Gimana kak?”
Hestama menghembuskan napas panjang yang sontak membuat Athaya menatap wajahnya. Kemudian Hestama tersenyum simpul dan berkata, “Gak apa-apa, Athaya. Yaudah kalau kamu mau bawa pulang dulu. Rotinya aku ambil ya.”
“Eh? Iya kak…”
“Oh iya, bekel kamu gimana? Mau kamu ambil juga?” “Gak usah kak, buat kakak aja.”
“Serius? Kali aja kamu masih laper?” Balas Hestama dengan tawa yang merdu.
Athaya terpana, “Gak kak. Buat kakak aja. Mmm, kalo gitu, gue balik dulu ya kak. Besok gue balikin tupperwarenya.”
Hestama tersenyum lembut, “Iya, Athaya, Makasih ya.” “Makasih juga kak.”
Athaya membalikkan tubuhnya dan beranjak pergi ke kelasnya. Satu yang Athaya tahu saat pertama kali titik pandang mereka bertemu. Palsu.
Nama: Meisyifa Triandiva
BalasHapusNIM: A310200064
Mata Kuliah: Menulis Kreatif
Karya: Cerpen
Judul "Titik Temu"
Perkenalkan, nama saya Aleta. Tepatnya di tahun 2017 adalah tahun dimana saya memasuki bangku Sekolah Menengah Atas, di tahun ini dimana semuanya dimulai, segala suka dan cita bermulai di tahun ini, dan di tahun ini dimana saya bertemu dengan seseorang yang mengubah hidup saya. Ya, dia salah satu manusia yang mengajarkan banyak hal kepada saya, dan saya beruntung bertemu dan bisa kenal dengannya.
Bulan agustus di tahun 2017 adalah awalan dari semuanya, di bulan itu awal mula saya bertemu dengannya.
Saya menjalani kegiatan MPLS di sekolah baru saya, namun pada saat itu saya belum mengenalnya. Setelah segala kegiatan sudah rampung saya mendapatkan kelas. Saya mendapatkan kelas yang berada di lantai 3 sebelah kanan dari tangga. Saya memilih jurusan IPA yang padahal jurusan itu bertolak belakang dengan apa yang saya pilih di perkuliahan, namun saya tidak menyesal pernah memilih pilihan itu, saya bisa berada disini sekarang karena keputusan-keputusan yang saya buat di masa lampau.
Pada jam istirahat sholat duha saya sedang menghadap belakang dan berbicara dengan dua teman saya. Bangku paling depan baris kedua dari kiri, ya, itu tempat saya. Saya ingat jelas posisi saya pada saat itu, karna itu pertama kali saya bertemu dengan jelas dengannya. Tiba-tiba dia duduk di samping bangku saya, kebetulan saya memang duduk sendiri. Kami tidak berbincang satu katapun, kami hanya saling lihat satu sama lain, lalu pergi. Dia kembali ke kelasnya, sayapun kembali berbicara dengan teman saya.
Setelah pertemuan singkat itu, saya menanyakan kembali ke dia, kurang lebih pertanyaan saya “itu kamu yang tadi”. Dia menjawab kalau itu dirinya. Oh, ya saya lupa cerita. Kami memang sudah saling tukar pesan, namun ya hanya sebatas anak SMA yang sedang mencari teman baru saja, tidak lebih dari itu.
Nama: Wahyu Mardaning Hardiyanti
BalasHapusNIM: A310200065
Kelas: 5A
Mata Kuliah: Menulis Kreatif
Karya: Puisi
Pertemuan Singkat
Aku terlambat mengerti
Apa arti hadirmu di hidupku
Aku begitu yang tertutup
Tidak melihat sosokmu yang berarti
Butuh waktu bagiku untuk mengerti
Namun, semesta tidak mau menunggu
Aku yang terbelenggu batin
Dan terperangkap kenangan masa lalu
Begitu singkat pertemuan kita
Bahkan, bibir ini tak mampu berucap
Kabar pesan tak bertukar
Hanya sosial media yang berbicara
Kau meninggalkan kota tanpa pamitan
Disaat raga ini bergerak mengenalmu
Kenangan memang tidak terukir
Namun, tawa candamu masih terekam
10. DARI BERANDA KOTA
BalasHapus”Mengapa orang banyak yang ingin mati? Padahal belum tentu setalah mati masalah mereka bisa hilang.”
”Lalu masalah mereka akan dibawa sampai ke alam sana?” ”Ya, itu mungkin saja terjadi bukan?”
Malam ini, aku dan Juna melewatkan makan malam di warung makan langganan kami di jam istirahat. Kami lebih memilih ke restoran cepat saji dan memesan burger keju dengan kentang dan soda. Kali ini Juna yang bayar. Katanya penghargaan diri atas waktu lemburnya seminggu penuh ini. Jadi perutnya harus diisi makanan enak yang mahal. Padahal burger keju dengan kentang dan soda menjadi makanan sampah bagi orang berduit. Yah, problematika masyarakat dengan kelas sosialnya. Kalau aku sih tidak begitu mempermasalahkan, yang penting makan enak dan uangku aman. Itu sudah menjadi anugerah tersendiri bagiku.
”Ternyata jadi orang dewasa itu sulit.” Ujar Juna dengan mulutnya yang penuh dengan kentang goreng.
“Siapa bilang mudah?”
“Harus banting tulang demi bisa hidup.”
“Sebenarnya mudah kalau terlahir punya hak istimewa.” ”Kenapa kita dilahirkan jadi orang biasa saja ya?” ”Mana kutahu.”
Aku memasukkan beberapa kentang goreng ke mulutku. Aku Jadi berpikir perkataan Juna. Mengapa ya? Padahal aku cukup kompeten untuk punya hak istimewa. Aku sangat yakin bisa memanfaatkan hak istimewa itu.
”Ah ingin sekali rasanya mengeluarkan uang yang banyak tanpa harus bersusah payah.” Keluhku pada Juna.
”Memang orang kaya tidak bersusah payah?” Tanyanya kemudian. “Tidak tahu, aku kan bukan orang kaya.”
Kemudian kami tenggelam dengan pikiran kami masing-masing. Seraya menatap ke luar jendela restoran, di mana banyak kendaraan berlalu Lalang dengan gedung-gedung pencakar langit sebagai latarnya. Kota ini sangat sibuk. Rasanya sangat bersalah aku duduk dan menikmati
makanan ku sementara di luar sana orang-orang sangat sibuk. Istirahat seakan-akan haram dalam hidupku. Bekerja dan bekerja untuk menghasilkan uang banyak, sehingga aku bisa tetap hidup.
”Mungkin, aku paham mengapa orang ingin mati.” Ucapku. ”Mengapa?”
”Karena mereka tidak punya uang.” ”Kata ibuku uang bukan segalanya.”
”Kalau begitu, kenapa kau masih bekerja lembur sampai sekarang?”
Juna cemberut mendengar perkataanku, ”Lalu kalau yang ingin mati itu orang kaya bagaimana?”
Aku berpikir sejenak. ”Mungkin kurang kebahagiaan.” ”Berarti hidup bukan perkara uang.”
Aku terdiam. Benar kata Juna. Tapi aku tidak setuju.
Surat untuk diriku di masa lalu
Aku tidak akan basa basi, jadi catat ini baik-baik. Jika memang kamu dilahirkan dengan tidak membawa hak istimewa ataupun sendok emas di mulutmu, maka yang harus kau lakukan adalah belajar dengan giat dan mencapai tempat di atas rata-rata. Karena begitulah cara kerja manusia, kamu akan dipandang jika di atas rata-rata. Entah dari aspek apapun itu. Dan begitulah kau akan hidup dengan seidikit kesulitan. Menjadi orang baik memang penting. Tapi hidup nyaman bukanlah impian segala orang? Jangan ada penyesalan di masa depan.
Dari,
Aku di masa depan.
Nama : Tifani Puspa Kristalliana
BalasHapusNIM : A310200014
Kelas : 5A
Mata Kuliah : Menulis Kreatif
Karya : Antologi Puisi
Cerpen 1
Judul : 3 Metode Cinta
Shania siswa kelas XII IPS 2 pada tahun pertamanya di SMA jatuh cinta pada temannya
yang bernama Rian. Rian merupakan ketua kelas XII IPA 7 yang terkenal sangat ramah dan tampan, ia juga merupakan anggota OSIS dan pandai bermain sepak bola. Oleh karena itu, dia juga
populer dan disukai banyak siswi disekolah itu. Sudah hampir 3 tahun Shania memendam perasaan
kepada Rian.
Pada suatu hari Shania bersama temannya Dea dan Shinta pergi kekantin untuk membeli makanan,
disana dia melihat Rian dan teman-temannya sedang makan sambil memainkan gitar. Seekor kucing yang lapar datang kepada Rian dan kemudian ia memberi kucing itu makan. Shania melihat
momen itu dan ia tersenyum melihat Rian yang baik hati itu. Sepanjang hari Shania hanya
memikirkan Rian saja, saat hari itulah ia mulai menyukai Rian.
Keesokan harinya saat berangkat sekolah Shania bertemu Rian yang sedang menggandeng seorang pria tua yang sedang menyebrang menggunakan alat bantu tongkat untuk berjalan. Hati
Shania sangat luluh dan mulutnya tersenyum lebar melihat itu. “Aaah aku tahu penyebabnya” kata Dea. “Ada apa?” tanya Shinta penasaran. Sambil mengedipkan matanya Dea memberi kode kepada Shinta untuk melihat Shania yang sedang terhipnotis oleh Rian. Mulutnya tersenyum lebar
dan matanya tidak bisa beralih dari Rian. “Kamu menyukainya Shan?” teriak Shinta mengejutkan Shania. Shania terkaget dan langsung jalan terburu-buru “Enggak lah, dia kan cowok populer disekolah kita mana mungkin aku menyukainya”. Dea dan Shinta hanya tersenyum dan saling
menatap, mereka tahu jika Shania mencintai Rian.
Pada saat jam istirahat tiba Shania, Dea dan Shinta melihat seorang siswi memberikan kue
kepada Rian. “Waah kurang gercep nih Shin” kata Dea kepada Shinta untuk menggoda Shania. Shania yang memasang wajah sedih dan putus asa hanya terdiam melihat Rian dengan membawa
kue pemberian siswi itu “Lihatlah siswi cantik itu, bagaimana aku bisa mendapatkan hati Rian jika
seperti ini”. Tiba-tiba Shinta dan Dea menarik tangan Shania membawanya ke kelas. Saat di kelas Shinta memberikan buku yang berjudul “5 Metode Cinta” kepada Shania. Shania bingung apa yang ada dipikiran teman-temannya, mengapa mereka percaya dengan buku aneh seperti ini. “Kalian pernah mencobanya?” tanya Shania dengan heran. Dea dan Shinta hanya tersenyum dan
menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Disini tertulis kamu harus memberikan coklat kepada orang yang kamu cintai, coklat itu adalah simbol cinta” kata Dea membacakan metode pertama pada buku itu. Dengan ragu Shania membeli coklat dan menaruhnya di motor Rian. Saat pulang sekolah Rian mengambil coklat itu
akan tetapi coklat itu meleleh karena terkena panas. Shania, Dea, dan Shinta terkejut melihat itu. “Aku lupa kita berada dinegara tropis” kata Shinta.
Metode kedua adalah hipnotis. “Tatap matanya dan dia akan melihat kamu secara spontan” tulis buku itu. Ketika jam istirahat Shania, Dea, dan Shinta melihat pertandingan sepak bola antar kelas,
Rian pun mengikuti pertandingan itu. Saat Rian bertanding tanpa sepengetahuan teman-temannya Shania mengikuti metode kedua itu dia menatap mata Rian dengan lama dan tiba-tiba Rian melihat kearah Shania. Shania terkejut “Waah berhasil”. Teriakan Shania mengejutkan Dea dan Shinta, mereka tersenyum dan berkata “kamu tetap mengikuti metode itu?”.
Karena merasa metode kedua itu berhasil Shania mengikuti metode ketiga. Dalam buku itu
menuliskan bahwa seorang harus bisa merubah penampilan menjadi menarik.
Dea dan Shinta langsung melakukan make over kepada Shania. Tubuh Shania yang dulunya hitam sekarang menjadi putih, Shania juga belajar tidak memakai kacamata agar tidak terlihat culun. Teman sekolah Shania pun terkejut melihat perubahan Shania yang drastis, ia mendapat julukan bebek menjadi angsa karena itu. Akan tetapi Shania, Dea, dan Shinta merasa Rian masih tidak melirik Shania yang sudah berubah drastis, mereka merasa bahwa buku itu sangat gagal. Maka dengan itu, Shania bertekat memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya kepada Rian secara langsung.
BalasHapusHari kelulusan pun tiba, Shinta mengikuti Rian yang berjalan menuju taman sekolah untuk
memotret taman karena hari itu adalah hari terakhir Rian disekolah itu. “Hai Shania mengapa kamu kemari?” tanya Rian. Dengan gugup Shania berkata “Sebenarnya ini adalah hal yang konyol, aku tertarik padamu sudah hampir 3 tahun berlalu. Semua cara sudah aku lakukan agar kamu bisa menerimaku dan hari ini aku merasa senang karena aku bisa mengungkapkannya” akan tetapi Shania berhenti bicara saat membaca tulisan di atas saku Rian yang bertuliskan Rian cinta Dian. “Dian? Kalian berpacaran?” kata Shania sambil menahan nangis. Rian hanya menganggukkan kepalanya. “Sudah berapa lama?” tanya Shania karena penasaran. “Hampir 1 bulan” kata Rian dengan sedih. Karena malu Shania langsung pergi meninggalkan Rian. Shania menangis sampai rumah karena hari bahagia itu ternyata berubah menjadi hari yang paling meyedihkan bagi Shania.Karena Shania mendapatkan peringkat pertama, ia akan menyusul ayahnya yang bekerja di USA sebagai koki. Shania akan melanjutkan pendidikan di USA. Sudah hampir 5 tahun Shania tidak bertemu ayahnya. Hal itu dapat melupakan kesedihannya selama di SMA. Satu bulan setelah hari kelulusan Shania berangkat ke USA untuk beremu ayahnya, ia merasa bahagia. Rian dan Shania pun melanjutkan kehidupan masing-masing.
7 tahun berlalu Shania menjadi designer terkenal di USA dan diundang oleh salah satu talk
show, dalam talk show tersebut Shania menceritakan bagaimana perjalanannya ketika menjadi designer. Dea dan Shinta pun juga hadir dalam acara itu. Mereka merasa bangga dengan Shania.
Tanpa sepengetahuan Shania dan orang-orang dalam acara tersebut, Shania dipertemukan kembali dengan Rian yang berhasil dalam Indonesia Glass dan menjadi fotografer. Shania terkejut dan merasa malu kepada Rian. Rian tersenyum dan memberikan buket bunga kepada Shania. “Shania, apakah ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan kepada Rian?” tanya pembawa acara talk show tersebut. Dengan terbata-bata dan takut Shania berkata “Rian, kamu sudah menikah?. Dengan raut wajah yang sedih dan tidak menatap Shania, ia menjawab “Aku sedang menunggu seseorang designer dari USA” jawab Rian langsung terseyum dan menatap Shania. Mendengar hal itu Shania menangis dan para penonton pun bertepuk tangan dengan meriah.
Cerpen 3
BalasHapusJudul: Perundungan di Sekolah
“Dasar gendut, hitam, jelek,” ejek anak-anak.
Neina sudah biasa dengan ejekan semacam ini dari kecil. Saat usianya menginjak 2 tahun, tetangga di sekitar rumahnya kerap tersenyum sinis melihat Neina. Sang ibu bercerita kalau dulu
bobot tubuh Neina justru lebih besar. Dokter pun sempat memperingatkan ibu Neina bahaya obesitas yang mungkin dialami sang anak.
Memasuki usia 3 tahun, ibu Neina mencoba mengatur pola makan sang putri. Apa mau
dikata? Neina memang harus menjaga bobot tubuhnya agar tak membahayakan kesehatan.
Bertahun-tahun memiliki bobot tubuh diatas rata-rata, Neina sebenarnya tak ambil pusing. Sejak di bangku SD pun, ia kenyang dijadikan bahan bully-an.
Sama seperti sekarang, Neina masih jadi bahan candaan sekaligus ejekan teman-teman
sekolahnya. Ia kira teman di SMP jauh lebih terbuka dan menyenangkan, ternyata tidak. Efek perundungan yang dialaminya pun kian menjadi setelah naik ke kelas 9. Tekanan menghadapi
ujian nasional ditambah ejekan teman-temannya membuat Neina uring-uringan.
Ia hanya bisa melampiaskan rasa sedihnya kepada sang ibu. Tak ada teman yang mau dekat
dengannya. Setiap kali ia mencoba menyapa dan ikut mengobrol, teman-temannya langsung bubar.
Neina sadar diri, ia tak pernah diharapkan dalam lingkup pertemanan manapun.
Tanpa disadari, mental Neina drop akibat perlakuan teman-temannya. Hal ini rupanya
mengundang rasa curiga bu Indre, wali kelas Neina. Usai upacara, bu Indre memanggil Neina ke ruangannya. Ia menanyakan penyebab turunnya nilai Neina di semua mata pelajaran. Awalnya
Neina enggan menceritakan semua yang dialami. Bahkan ia hanya diam mendengarkan kata-kata sang guru.
Bu Indre tak kehabisan akal. Ia mencoba mengulik perlahan-lahan. Neina menyerah dan
menceritakan keluh-kesahnya. Keesokan harinya, bu Indre masuk ke kelas seperti biasa. Namun,
ada hal menarik yang diceritakannya kepada anak-anak.
“Ibu ingin bercerita hari ini. Kalian mau mendengarkan?” tanyanya.
Semua murid hanya mengangguk, tanda setuju. Mulailah bu Indre bercerita tentang kasus perundungan. Awalnya anak-anak merasa risih, namun tetap mendengarkan. Di akhir cerita, bu Indre menekankan betapa buruknya merundung orang lain. Anak-anak terpaku dan mulai melihat ke arah Neina. Neina hanya tertunduk tak berani menatap.
Saat waktu istirahat tiba, satu per satu teman sekelas Neina mendekatinya. Mereka
meminta maaf karena sudah mengejek Neina selama ini. Mereka tak sadar kalau ejekan itu membuat Neina sedih dan mengalami gangguan belajar
Nama: Ath Thaariq Rahma Syahrita
BalasHapusNIM: A310200045
Kelas: 5A
Mata Kuliah: Menulis Kreatif
Karya: Puisi
1. Judul: Tangkuban Perahu
Suara merdu ayam berkokok di pagi hari
Langit putig tenunan karya dayang Sumbi
Gunung Putri nan cantik dipandang mata
Perasaan ketenangan menciptakan rasa
Bagaikan bunga bertaburan di udara
Hati kian menggebu-gebu
Rasa cinta akan keindahan ini
Begitu takjub akan ciptaannya
2. Judul: Hujan Dikala Sore
Duduk sejenak menikmati suara gemericik air hujan di pelataran
Terdengar air mengalir deras menuju tanah
Sore ini matahari dipersilakan untuk beristirahat diganti dinginnya malam
Daun bergerak kesana kemari tertimpa rintiknya hujan
Bau tanah yang menyejukkan hati dan merilekskan pikiran
Datang kemudian pergi membawa suasana kenyamanan
3. Judul: Pelajaran
Teringat lagu “Sampai jadi Debu”
Akankah perjalanan ini akan berlanjut sampai jadi debu?
Akankah perjalanan ini akan berhenti di tengah jalan?
Akankah semua perjalanan itu berakhir seperti harapan
Nyatanya suatu perjalanan akan berbeda dengan harapan
Ketika kenyataan berbeda dengan keinginan
Lantas apakah kita bisa mengubahnya?
4. Judul: Kerinduan Terhadap Seseorang
Pergi untuk meraih masa depan
Meninggalkan segala kenangan masa kecil
Peluk hangatnya yang kian memudar
Tangis yang tak terbendung
Dimanakah aku akan merasa aman
Apakah seperti lirik lagu “Ku aman ada bersamamu”
Jika benar akan ku bawa selalu kalimat itu
5. Judul: Secarik Kertas
Terlihat biasa jika dilihat
Terasa ringan jika diangkat
Bergitu banyak makna yang tidak bisa diungkapkan
Melihat hanya secarik kertas bertuliskan “Semangat!”
Membawa perubahan bagi pembacanya
Mungkin biasa jika dibaca
Namun akan sangat berarti bagi orang yang tepat
Teruslah melangkah demi keyakinanmu
Nama : Muhammad Ibadil Ghoffar
BalasHapusNIM : A310200047
Kelas : A
Matkul : Menulis Kreatif
Karya : Puisi
Judul : Mawar
Mawar yang unik
Warnamu yang merah
Seperti warna cabai yang cerah
Bunga yang indah
Bunga yang harum
Bunga yang cerah
Dan bunga yang unik
Oh bunga mawar
Bunga mawar pujaan hati
Judul : Khayalanku
Andai aku seperti orang sukses
Aku ingin mencapai tujuanku
Andai aku bisa mencapai cita-citaku
Aku akan berusaha, aku tak akan menyerah
Setiap pagi aku kuliah dengan berpakaian rapi
Untuk menuntut ilmu
Bagiku aku ini selalu mengkhayal
Tanpa kusadari itulah yang terjadi
Meskipun aku kuliah di kota besar
Tapi aku akan tetap belajar dengan giat lagi
Menurutku biar aku di kota besar
Tak pernah aku peluh
Judul: Bintang
Terlihat terang
Tanpa bintang
Malam hari terasa gelap
Bintang
Kau sungguh
Sangat indah
Bertaburan di langit
Indah mewarnai malam
Yang indah
Nama: Indra Ardhana
BalasHapusNIM: A310200174
Kelas: 5B
Mata Kuliah: Menulis Kreatif
Karya: Antologi Puisi
Judul: Riak Air
Lambaian dahan sang ilalang
Menjadi saksi rasa yang tak pernah hilang
Sungai cinta telah bermuara
Bertemu samudera indah sang empunya
Tetes demi tetes cinta yang kau suguhkan
Menjadi riak air di permukaan
Meluas dengan perlahan
Pusatnya ialah dirimu sang idaman
Merdu seruan kasihmu
Indah belai cintamu
Menjadi alunan syahdu
Melepas segala ragu
Judul: Artefak
Nyatanya kini era kita telah purna
Kita bukan lagi tokoh utama
Jika semula kita saling menyema, perkara dan semua yang serba bertautan,
Kini tak lagi kita tabur benih badai yang kelak tumbuh perlahan
Kita kekalkan prasasti yang tak lagi menorehkan aksara cemburu
Kita bukan lagi nenek moyang yang berburu dan meramu
Maka marilah kita mencecap setiap jengkal jejak
Langkah yang abadi dalam pikatmu
Setangkup kekal yang kita pertanyakan, seberapa besa ria hingga sampai menuju keabadian? Apapun itu mari kita abadikan
Judul: Bermuka Dua
Berlagak seperti muka manis
Ketika menggores kapur di papan tulis
Terkadang pula Kau harus bersikap munafik
Demi mereka yang periang
Walaupun susah, sebenarnya melanda.
Diriku tak punya apa-apa, sayang.
Cuma sedikit ilmu dan buku usang.
Jangan takut anakku Saat nanti libur tiba Datang, mainlah ke rumahku.
Bangku yang reot itu
Toples, blong yang kosong itu
Sendok yang tak berdenting dengan piring itu
Dan gelas yang tak berisi air
Mereka bersaksi tentang diriku
Tentang cerita hidupku, sebagai guru
Sungguh, diriku berharap
Kau tetap mencintai aku anak-anakku
Judul: Ah Kamu
Debur yang beda, debar yang sama
Cinta tak hanya cahaya, melainkan waktu
Seperti kamu yang lebih memilih bulan baru daripada purnama,
Tapi kenapa kamu selalu hadirkan ronanya, di kedua pipimu?
Petang yang berlainan, rasa yang terindukan
Sayang yang dibuat-buat itu berbeda dengan dibuat sayang
Sama dengan kamu yang alergi pemanis buatan,
Tapi mengapa kamu buat manis setiap pertemuan?
Kota yang beda, Bali yang sama
Kita yang berbeda selalu ingin bersama
Seperti jika aku menjadi kepiting,
Tetap saja kamu sodorkan pipi, untuk kucapit?
Walalu aku menjelma ikan sapu-sapu,
Tetap saja kau dekatkan bibir, untuk ku...
Ah, Kamu.
Judul: Neptunus
Temui aku di Neptunus
Tempat deru ragu jadi rindu
Metana, hydrogen, dan helium
Cahaya merah dibuatnya biru.
Temui aku di Neptunus
Dengan gaun indah menyapu lantai
Dengan sepatu Cinderella
Juga senyum yang bercahaya
Temui aku di Neptunus
Tempat mantra-mantra suci bermuara
Tempat asap doa mengepul
Lalu terbang menembus langit
Bawa pena dan bukumu
Mari menulis bersama
Tentang langit, tentang bintang
Tentang triton, proteus, juga Thalassa
Selama kita saling percaya
Takdir akan selalu menang
Judul: Legenda Sangkuriang, Asal Usul Gunung Tangkuban Perahu
Danau mu telah mengering
Perahumu hanyut tanpa dayung ke dalam kabut
Dan kau, Sangkurian, berhentilah menulis puisi
Dayang Sumbi kini telah menjelma dingin yang diam
O Sangkuriang
Mencintai tak pernah salah,
Tapi kadang hidup punya banyak cerita yang perlu kau baca
Perlu kau tata hidup yang juga punya cerita, yang kau sendiri lakunya
O Dayang Sumbi
Bohong adalah Ibu dari dusta yang lain
Siapa ayah siapa ibu siapa kau dan siapa sangkuriang
Kabut menjelaskan semua, dingin mengabadikan semua.
Legenda membenarkan semua, mencintai tak pernah salah.
Judul: Hari Itu
Semalam, seperti biasa
Aku duduk di ujung dermaga
Mengamati bintang, mengamati diri
Satu-satu aku melihat lebamku menghilang dari tubuh
Kini mereka aku temukan si sudut-sudut ingatan
Barangkali, ingatanku sudah menjadi tumbuhan laut yang rimbunnya melindungi ikan
Sebab, bukan hanhya satu dua
Yang aku hanyutkan di dermaga itu
Bisa jadi rubuan
Apakah pilu bisa menumbuhkan kehidupan?
Karena yang aku tau, berkali-kali aku mati
Berkali-kalo pula aku hidup karenananya.
Nama: Zulfa Mabila Herman
BalasHapusNIM: A310200077
Kelas: 5A
Mata Kuliah: Menulis Kreatif
Karya: Antologi Puisi
1. Puisi
Judul “AKU”
Aku tau diriku terlalu berharap lebih
Aku tau semua akan menjadi angin lalu
Aku tau bayanganku perlahan menjadi benalu
Aku tau semakin hari dia menjauh
Tapi apakah kau pernah berpikir dengan hati teduh
Bagaimana diriku berusaha menggapaimu
Sampai diriku tak tau dimana akan berlabuh
Dari sekian umat kenapa aku memilihmu?
Hati dan pikiran selalu mengeluh
Seolah ingin mengungkapkan sikapmu
Apa kesempatan memang tidak datang untukku?
Judul “Bangku Kosong”
Bukankah ini keinginanmu, memilih siapa yang harus dikorbankan
Diriku menjadi lemah.
Bahkan meninggalkanku sendiri didalam kegelapan
Siapakah dirimu sebenarnya?
Haruskah aku yang sengsara?
Tidak ada satupun yang menemaniku.
Kondisiku telah using, memangnya siapa yang akan datang menolong
Tak satupun sudi menyentuhku, bahkan mereka memandangku tak berguna
Aku tidak ingin berharap, karena fakta membenarkan pikiran mereka.
Aku menjadi tempat rapuh yang lemah
Aku, si bangku kosong.
Judul “An”
Aneh, dia berucap seolah membutuhkan
Tapi tak satu kata keluar memberitahukan
Bagaimana ini, jika keduanya saling diam
Tidak ada yang bisa diungkapkan
Omong kosong mengelabui pikiran
Sampai lupa kesempatan menunggu di depan
Nama : Dias Azizah
BalasHapusNIM : A310200120
Kelas : 5B
Mata Kuliah : Menulis Kreatif
Karya : Antologi Puisi “Langit air basah”
1. Judul : Langit air langit basah
Dalam genggaman awan
Tersimpang gelombang
Dilukis cahaya warna warni
Tergambar masa dibelakang kian menggoda
Lalu lintasan pelangi adalah rona
Indahnya....oh alangkah indahnya
Lalu................................!
Lukisan berbagi posemu
Diantara buih buih dan gelembung air
Sukmaku mengaca dan mengambang
Berakhirkan?
Nafasku masih diam diarus deras
Tak satupun bebatuan dapat kupegang
Bair masa mengasuhku
Biar sekian lama kupendam dalam
Bayang bayang kolam
Tak bisa beranjak dari kerinduanku
Dalam segenapmu
Hai terpuja dalam diam
2. Judul : Tamu tamu memasang pasung dihatimu
Lihatlah geriap dedaunan hijau
Ditingkap jendela teduh
Memang terasa ada lika liku
Terkadang menyampir sembilu
Tiupan bayu
Cahya mentari dan kicau burung burung
Kenapa binar matamu tajam?
Menggantung di setiap langkahku
Dunia penuh bintang bintang
Kutatap hanya satu, kamu
Diantara riak ombak dan gemuruh sopan kerucut
Kusimpan farasmu diantaran rusukku
Meski tamu tamu datang memasang pasung pada lengan dan kakimu
Aku sering rengkuh kecintaanku di atas asa
Persaingan kasihmu menabuh genderang perang
Sauh telah kutambatkan di dermaga
Berjuta anak panah telah kucurahkan keangkasa
Menggeleparlah hati yang terkena
Jika memang ini titahnya
Ditulangku yang hilang
Tak akan kubuang cinta
Meski aku hanya serpihan malam malam mimpimu
Hanya sebatangkara
Hanya seorang pengelana
Ini batangan puisi
Requiem disudut waktu berlalu
3. Judul : Sebenarnyalah
Kau sebenarnya paham.
Tatapanku adalah ribuan puisi.
Bunga bunga mekar harum dan berbekas
Angan angan melukis langit langit kamarku.
Mendekap erat jatungku.
Meluruhkan nafsu nafsu dan pecah pada ombak.
Menyuburkan putik putik. Memerahkan bibit rona cinta
Kau genggam bendera.
Lambang pada gairah malam kita.
Begitu dukanya rindu di jemari waktu.
Wahai kekasih.
Bagaikan aroma semerbak gemerlap, terlelap.
Angin dari gunung gunung
Celoteh anak perawan riang di pucuk pucuk cemara.
Berlari dan bernyanyi bersedekap, kala hujan mengguyur bumi.
Sesungguhnya sengatmu meracuni jalan darahku.
Kegilaan hentakan kaki dan jatungku.
Seperti menerjang kesana kemari
Berdendang seorang diri.
Gerak langkahku tanpamu, bagai langit tanpa bintang.
Hidup ingin denganmu , maka jika sirna juga denganmu.
Sebenarnyalah....................!
Nama: Fachrunnisa Asshidiq
BalasHapusNIM: A310200046
Kelas: 5A
Mata Kuliah: Menulis Kreatif
Karya: Cerpen
PRIA ITU MISTERIUS
“hari yang cerah, kuharap perjalanan ku hari ini juga sama cerahnya.” Ucap wanita itu dengan senyuman di bibirnya
Pagi buta itu ia beranjak dari tempat tidurnya untuk segera berbenah diri. Duduk didepan cermin rias setelah ia membersihkan diri. Bersiap berdandan seperti akan menemui seorang kekasih, namun siapa sangka ia hanya akan bertemu pelanggan tokonya. Melangkah menuruni tangga, ya kalian bisa tebak tokonya berada dibawah ruang kamarnya. Ruko biasanya mereka menamainya yaitu singkatan dari rumah dan toko.
“kring…” bunyi bel toko itu ketika pintu itu terbuka.
“Erika…?” panggil wanita paruh baya itu
“selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?”
“tidak usah terlalu semangat dipagi buta ini Erika, Hahaha…”
“Ah… ibu saya kira siapa, Bukan terlalu semangat, ada pepatah berkata kalau bangun terlalu siang nanti rezekinya dipatok ayam” sahut perempuang itu dengan senyuman lembutnya.
“iya…iya, apa kamu sudah sarapan, ini ibu ada sedikit makanan untuk mengganjal perutmu” ucap wanita paruh baya itu sembari menaruh kotak sarapan di meja kasir.
“terima kasih ibu…,ini sudah lebih dari cukup untuk sekedar ganjal perut”
“yasudah lanjutkan berbenah tokomu, aku permisi dulu”
“hati-hati bu lastri…” ucapnya sambil melabaikan tangannya.
30 menit berlalu Erika menghabiskan waktunya untuk membersihkan toko bunganya. Ia pun tak lupa menghampiri kota makan yang diletakkan di meja kasir. Tak disangka isi kotak makan yang dibukanya ternyata sangat banyak makanan didalamnya. Ia pun dengan rasa senang melahap makanan tersebut sembari menunggu pelanggan datang.
“kring…permisi” ucap seseorang memasuki toko
Bagian 2: CERPEN "PRIA ITU MISTERIUS"
BalasHapus“Silakan masuk…” ucap Erika sembari melihat pemuda itu melangkah mendekat “Ada yang bisa saya bantu?”
“Selamat pagi kak, saya mau pesan sebuket bunga” ucap pemuda itu dengan wajahnya yang agak gugup.
“buket bunga untuk acara apa kak kalau boleh tau?”
“Ee… buket untuk wisuda”
“oh.. silahkan dipilih sampelnya disebelah sana” dengan menunjukkan contoh2 buket bunga yang ditempel didinding ruangan.
Pemuda itupun melihat sampel-sampel buket yang terpampang didepannya, ia pun semakin bingung dengan pilihan yang sudah tersedia.
“hah…yang mana yang harus kupilih untuknya?” gumamnya sembari menggaruk kepala kebingungan.
Erika pun mendekat kearah pemuda yang tampaknya kebingungan memilih model buket mana yang tepat.
“apakah untuk seorang perempuan?” ucap Erika yang berdiri tak jauh di belakang pria itu.
Pemuda itu terperanjat dan mengiyakan dengan hanya bisa mengangguk malu kepada Erika.
“tidak usah malu-malu saya sudah biasa mendapat konsul pelanggan untuk memilih bunga yang tepat pada kekasihnya” ucap Erika dengan senyuman manisnya.
“tolong buatkan buket bunga yang bagus ya kak untuk seseorang perempuan yang saya suka”
“Siap, untuk kapan buket ini akan diambil?”
“besok apakah bisa?”
“tentu, mohon ditunggu ya kak, saya akan buatkan bill pemesanannya” dengan rasa senang Erika pun melangkah ke meja kasir membuatkan bill pemesanan buketnya.
“ini bill nya kak, besok dibawa untuk mengambil buketnya”
“terima kasih kak, saya percayakan pada kakak untuk buket bunganya” ucap pria itu dan setelahnya keluar dari tokonya dengan perasaan senang.
Bagian 3 : CERPEN "PRIA ITU MISTERIUS"
BalasHapusHari semakin siang beberapa pelanggan setiap jamnya datang, tak banyak namun juga tidak sedikit juga pelanggan yang datang. Ada yang pesan ada yang langsung membeli bunga membuat Erika senang dan tak memiliki rasa lelah untuk melayani klien-kliennya yang meminta tolong untuk dipilihkan bunga yang bermakna bagus dan tepat untuk diberikan pada seorang.
Waktu menunjukkan pukul 12 siang, sembari menyicil membuat buket pesanan Erika pun akhirnya mengambil waktu istirahat sejanak dengan menikmati jajanan-jajanan yang dibelinya 10 menit yang lalu. Ia pun mendekat kearah pintu dan membalik sebuah tulisan open menjadi close untuk sementara waktu.
Ia pun keluar dari tokonya tersebut dan tidak lupa mengunci pintunya. Berjalan-jalan menyusuri trotoar yang disampingnya terdapat berderet-deret toko selain ruko bunganya. Dengan memegang snack yang ia gengam ditangan semabari berjalan ia juga memakan snack itu.
“Erika…” sapa ibu Lastri yang pagi ini mengunjungi tokonya “kemarilah…”
“iyaa…” ucap Erika dan melangkah menuju toko roti ibu Lastri
“nah… sini duduklah disini, kau mau apa akan ibu hidangkan segera”
“tidak usah repot-repot bu…”
“ah.. tidakpapa, yasudah ibu kebelakang sebentar ya”
Toko roti yang didesain seperti café itu cukup aestetik dipandang suasana yang tenang membuat Erika dapat menghilangkan rasa penatnya sejenak.
“kriet…blam, permisi” ucap seorang pria yang masuk dalam toko itu dan melangkah menuju dapur toko.
Pandanganku tak lepas dari pintu dapur, mengingat-ngingat perawakan pria itu yang tadi begitu jelas, tinggi, gagah dan berkulit putih.
“siapa? Karyawan? Tidak mungkin?” gumam Erika
Tak lama kemudian pintu dapurpun terbuka dan keluarlah ibu Lastri yang membawakan pizza buatannya dan secangkir minuman coklat dingin.
“makanlah yang banyak, masih lama waktumu untuk membuka toko bukan?”
“hah… ibu tidak usah repot-repot”
“ah…, tidakpapa makanlah, ibu lebih senenag kalau melihat mu makan masakan ibu dengan lahap”
Bagian 4 : CERPEN "PRIA ITU MISTERIUS"
BalasHapus“iyaa…iya, selamat makan..” pandangan Erika yang masih belum lepas pada pintu dapur dan seperti bertanya-tanya siapa pria tadi.
“kenapa?” Tanya ibu lastri membuyarkan lamunan Erika
“ah… tidakpapa bu, masakan ibu enak sekali kejunya aku suka”
30 menit Erika setelah meninggalkan toko untuk berkujung ke toko roti bu Lastri. Ia pun membuka kembali tokonya. Kembali ke kesibukannya membuat buket pesanannya.
Keesokan harinya seperti biasa Erika membuka tokonya lebih awal karena ada beberapa pelanggan yang akan mengambil pesanan buket bunga. Ketika membuka pintu toko tak sengaja ia melihat seorang pria yang taka sing baginya. Ya, laki-laki yang dilihatnya ketika di toko roti bu Lastri tersebut sedang berjalan kaki di sekitar trotoar di sebrang toko bunganya.
“Dingin sekali” batin Erika, dengan masih terpana pada laki-laki yang sedang berjalan santai menyusuri trotoar yang masih sepi sembari mengenakan earphone warna putih.
“permisi kak?” ucap seseorang membuat buyar lamunan Erika
“eh… iya selamat pagi, mau ambil bunga pesanan ya”
“iya kak, apa sudah jadi?”
“sudah kok mari masuk saya siapkan packingnya”
“iya kak”
Tak disadari disebrang trotoar ada yang balik memperhatikannya dengan senyum gemas ketika melihat Erika berbicara dengan pelanggannya.
“pantas Ibu menyukainya” gumam pria itu.
“Riko…” Panggil wanita paruh baya pemilik toko roti
“yaa… aku kesana” ucap pria itu sembari berlari kecil mengghampiri bu Lastri yang memanggilnya.
Sedangkan di dalam toko bunga tersebut ada yang sibuk mengagumi karya buket bunga yang indah diluar ekspektasinya.
“wah… bagus sekali kak”
“eh…tunggu dulu masih ada yang kurang” diambilnya pewangi dan disemprotkan kearah buket bunga yang ia buat.
“wah…wangi sekali, pasti dia suka, terima kasih ya kak”
Bagian 5 : CERPEN "PRIA ITU MISTERIUS"
BalasHapus“sama-sama semoga berhasil ya” ucap Erika diiringi senyum bahagia karena buket yang ia buat memuaskan pelanggannya.
Erika pun membukakan pintu keluar untuk pelanggannya tersebut, namun tak disadari bu Lastri sudah berada di depan pintu tersebut dan membuat Erika terkejut.
“Astaga…Bu Lastri”
“kak saya permisi dulu ya sekali lagi terima kasih”
“eh.. iya sama-sama”
“hmmm… anak muda zaman sekarang mudah sekali mengenal cinta ya” ucap bu Lastri
“hehehe… bukan hanya sekarang bu dulu juga begitu bukan” sahut Erika dengan kikikan kecil.
“hahaha… kamu bisa saja”
“ada yang perlu dibantu ibu?”
“em…Erika datanglah ke toko kun anti siang saat waktu makan, aku ada menu baru yang mau ku rilis tapi harus kamu dulu yang mencoba ya?”
“siap ibu, saya selalu siap khusus untuk bu Lastri”
“yaaa… aku tunggu nanti jangan terlambat ya”
“siap”
Waktupun tak terasa berlalu sangat cepat hingga tak disadari sudah menunjukan waktu istirahat. Erika pun segera bergegas membereskan tokonya untuk tutup sementara waktu dan menuju menjadi tamu undangan café and cake milik bu Lastri.
“kriet…”bunyi pintu toko roti itu ketika terbuka menandakan Erika yang sudah masuk di dalam toko. Ia hanya terdiam ketika yang dilihatnya pertama kali bukan orang yang mengundangnya melainkan pria yang ia temui dipagi hari tadi sedang menunggu dimeja kasir yang fokus pada minuman coklat dingin yang ia buat.
“ada yang bisa dibantu” ucap laki-laki itu yang perlahan memandang Erika yang mematung gugup.
“ee…bu Lastri?”
“duduk saja dulu, disebelah sana” ucap laki-laki itu tanpa ragu dengan melemparkan senyuman hangat pada Erika.
Bagian 6 : CERPEN "PRIA ITU MISTERIUS"
BalasHapusErika pun melangkah pada tempat duduk yang ditunjukkan oleh lelaki tersebut dengan perasaan aneh, malu, dan gugup.
“Erika?” panggil wanita paruh baya itu, disusul oleh pria tinggi yang berdiri dibelakangnya
“bu Lastri”
“oh ya Erika kenalkan ini putra ibu yang bernama Riko, dia baru pulang dari studinya di Belanda, yang dulu sudah pernah ibu ceritakan”
“Riko” sembari mengulurkan tanggannya untuk berjabatan tangan
“Erika” Erika pun membalas uluran tangan itu dengan perasaan campur aduk ‘tampan’ batinya.
“senang bertemu dengan mu”
Erika hanya bisa tersenyum, ia kira awalnya pria itu sangat dingin dan tidak mungkin dapat diajak bicara namun ternyata baik dan bisa lemah lembut juga. Senang bisa berkenalan dengannya.
TAMAT
Nama : Atika Puspita Dewi
BalasHapusNIM : A310200182
Kelas : 5B
1. Senja Yang Indah
Keemasan cahaya di cakrawala
Di ufuk barat saat hari mulai senja
Terbelalak mata saat memandangnya
Keindahan dari sang maha pencipta
Sang surya bersiap untuk tenggelam
Menjemput mesra ketenangan malam
Meneguk cahaya dalam-dalam
Menyempurnakan keindahan malam
Lembayung indah tampak kekuningan
Gradasi warna bagaikan lukisan
Di sudut langit yang tipis berawan
Hiasan terbesar sepanjang zaman
2. Senja, Keindahan Yang Tidak Terganti
Siang mulai berganti
Warna langit pun berubah menjadi jingga
Burung-burung silih berganti terbang di tengah warna jingga yang kian melebur di langit sana
Siapa saja yang melihatnya, akan takjub dibuatnya
Waktu terus berlari
Warna jingga pun terkikis secara perlahan
3. Awan
Bertebaran di angkasa
Putih, kelabu, dan hitam
Warna -warna menawan
Bergelombang mengombak-ombak
Tebal dan sangat indah
Bahkan sang bagaskara tak terlihat
Pelangi terlihat tak penuh
Karena sang selimut menutupinya
Jauh disana
Menyelimuti jagat raya
Tebal tipis
Beredar dimana-mana
Indah bukan buatan
Ingin rasanya memeluknya
Lembut dan menawan
Indah tak terperikan
4. Sawah
Sawah di bawah emas padu
Padi melambai, melalai terlukai
Naik suara salung serunai
Sejuk di dengar, mendamaikan kalbu
Sungai bersinar, menyilaukan mata
Menyamburkan buih warna pelangi
Anak mandi bersuka hati
Berkejar-kejaran berseru gempita
Langit lazuardi bersih sungguh
Burung elang melayang-layang
Sebatang kara dalam udara
Desik berdesik daun buluh
Di buai angin dengan sayang
Ayam berkokok sayup udara
5. Keindahan Alam Indonesia
Saat aku membuka mataku
Ku tak percaya bahwa itu nyata
Aku masih berpikir bahwa aku masih bermimpi
Tetapi aku sadar bahwa keindahan itu benar-benar ada di depanku
Sungguh indah kepulauan ini
Ribuan pulau-pulau berjajar
Membentuk gugusan pulau yang indah
Gunung-gunung berbaris dari ujung barat ke ujung timur
Samudra luas membentang dengan air yang biru
Dan berisi keindahan di bawahnya
Aku bangga menjadi anak Indonesia
Aku berjanji aku akan menjagamu
6. Sekolah kehidupan
Disini
Dimana saja
Sekarang dan kapan pula
Aku belajar di sekolah kehidupan
Dari alam semesta dan peristiwa
Guru sejati membimbingku
Kulihat wacana membuka pengetahuanku
Kudengar kisah petualangan dalam perjuangan
Kulalui lorong pengalaman bersama dengan teman-temanku
Kutandai setiap kejadian
Kucatat semua hikmah dari peristiwa
Sebagai bekalku merajut masa depan
Melancarkan jalanku mencapai tujuan
7. Buku
Susah payah memikul buku
Tiap hari bertemu dengan guru
Demi mendapatkan yang namanya ilmu
Lalu ada ujian negara
Orang bilang lebih susah
Daripada ujian biasa
Kita belajar susah payah
Kalau buntu, menyontek pun menjadi pilihan
Jikalau gagal
Nilai sempurnapun tak ada artinya
Tapi apalah daya
Pendidikan memang kita butuhkan
Kita harus melewatinya dengan baik
8. Sekolahku
Tempatku menuntut ilmu
Tempatku membekali diriku
Dengan keterampilan dan ilmu
Sekolahku
Bersama guru aku belajar
Semua ilmu pengetahuanUntuk bekalku di masa depan
Sekolahku
Disanalah aku belajar
Bergaul bersama dengan teman
Juga mentaati segala aturan
Terimakasih sekolahku
Kau telah menjadi tempat belajar
Bagiku dan teman-temanku
9. Pejuang Pendidikan
Di sebuah rumah pendidikan
Kita belajar dengan tulisan
Mengerti dengan bacaan
Bergelut dengan hitungan
Siapa yang ikhlas memberi
Ilmu dan sebuah perjuangan
Tentang hidup dan masa depan
Mengejar ribuan impian
Figur yang tak terkalahkan
Ditiru dan dibanggakan
Bukan digugar untuk disalahkan
Bahkan sampai dijatuhkan
10. Meraih Mimpi
Bilamana mentari bangun pagi
Kusiap mengawali hari
Dengan sejuta harapan dan mimpi
Kan kuwujudkan demi bangsa ini
Meski adanya pandemi seperti ini
Namun yak menyerah diri ini
Tak kan ada kata putus asa dan malas diri
Kini saatnya berusaha dan meraih mimpi
Janganlah terlena dengan dunia ini
Kita harus mengerti dan tahu diri
Betapa kerasnya hidup ini
Untuk mewujudkan sebuah mimpi
Nama : Anggun Oktavia
BalasHapusNIM : A310200192
Kelas : 5B/PBSI
Mata Kuliah : Menulis Kreatif
Karya : Antalogi puisi
1. Setetes Kenangan Hujan
Dulu
Saat semburat merah jingga nan elok
Saat gumpalan kapas gelap bersanding bersama cakrawala
Tetes kehidupan jatuh serentak
Membombardir ribuan kilometer lahan
Impresi menguap di atas tanah
Larut bersama wewangian hujan
Di bawah rintik-rintik nikmat Tuhan
Tersemat manis indahnya janji masa depan
Penuai kebahagiaan semu berselimut basah
Kini
Harus beradu dengan nestapa
Menatap seruan hina yang menyayat jiwa
Menusuk hingga rindu menyeruak keluar
Dengan satu tarikan napas gusar.
2. Lukisan Khayalan
Sewaktu kugoreskan pensil diatas kertas putih,
kulukiskan eloknya parasmu,
sembari kuputar lagu bertajuk cinta ,
membikin keadaan romantis terwujud,
Kamarku yang sempit berserakan,
seakan jadi restaurant berkualitas,
sinar lampu yang terperinci ,
berubah jadi 1 lilin ditengah-tengah meja makan,
Lukisan parasmu kubayangkan ialah diri kamu,
seperti kita lagi duduk berhadap-hadapan pada 1 meja,
aku memandang eloknya parasmu,
dan kamu menatap ke bawah alasannya tersipu aib,
Aku dan kamu takut buat mulai pembicaraan,
maka kondisi jadi membisu tanpa ada nada,
hanya ada alunan musik yang merdu,
berikut ini fantasi waktu saya melukis eloknya parasmu
3. Bahagia di Alam Raya
Setiap kali menatap langit-Mu,
Yang membentang indah membiru,
Disertai sapuan awan gemawan,
Lapang pulalah rasa dadaku.
Tiba-tiba berlaksa bahagia,
Memenuhi telaga dalam hatiku,
Karena aku tahu Tuhanku Maha Indah.
Hari ini,
Aku merindukan pertemuan dengan-Mu,
Dan esok aku mengharapkan perjumpaan.
Aku tahu, dunia ini begitu indah,
Tapi keindahan abadi hanya di surga.
Maka ke sanalah jiwaku menuju
Melepaskan diri dari hiruk pikuk dunia.
4. Berjiwa Bagaikan Alam
Aku ingin setenang gunung,
Selapang langit,
Setekun sungai,
Seteduh pepohanan.
Karena jiwaku menyukai mereka,
Begitu pula jiwa-jiwa lainnya.
Karena mereka
Memberikan ketenangan,
Menghadirkan kelapangan,
Keteduhan dan pengajaran.
Biarlah kunikmati hari ini
Berada di tengah-tengah
Bentangan alam.
5. Sahabatku, Keluargaku
Sahabatku adalah keluargaku
Sahabatku adalah bagian hidupku
Engkau menemaniku
Engkau melindungiku
Hujatan berceceran kepadaku
Masalah berdatangan kepadaku
Tetapi engkau sahabatku
Tak pernah mengeluh untuk menyemangatiku
Kau seperti keluargaku
Ada dikala sedih
Ada dikala senang
Kau adalah manusia sabar dengan segala kebaikanmu
6. Tak Lekang Oleh Waktu
Diawali dari perkenalan
Tersusun menjadi keakraban
Mengisi hari-hari penuh makna
Terjalin persahabatan antara kita
Hari-hari kian berlalu
Walaupun aku dan kamu hanya sebatas waktu
Kita telah ukir sebuah persahabatan
Melangkah dalam satu rasa, suka maupun duka
Telah berlembar-lembar cerita kita torehkan
Berbaur dalam persahabatan yang indah
Kamu begitu mengerti apa mau dan maksudku
Sahabat… kaulah teman dalam hidupku
Tak pernah membenci menyakiti
Tak pernah pula berhenti memberi motivasi
Sahabat…
Waktu telah bergulir
Tali persahabatan telah kita rajut
Bersama kita semaikan bunga-bunga di hati
Dalam hasrat ini, dan dalam angan ini
dan dalam asa mimpi ini
Hanya satu kuingin, hati kita sama
Di dalam satu kalimat, bahwa aku dan kamu
7. Bingkai Kehidupan
Masa demi masa berlalu sudah
Kemana kaki jalan melangkah
Liku-liku kehidupan mengukir sejarah
Kini saatnya berpotret diri
Berbenah dari segala keburukan
Meningkatkan semua kebaikan
Ramadhan sebentar kan tiba
Kini saatnya tuk membuka pintu hati
Memaafkan semua kehilafan
Mari kita sambut dengan gembira
Dengan memperbanyak ibadah
Tuk menggapai tingkatan taqwa
Derajat tertinggi disisi khalik
Semoga Allah selalu membimbing kita
Dan nanti memasukkan kita dalam surga-Nya
8. Aku Bisa
HapusAku tak lelah
Aku hanya butuh dorongan
Aku tak menyerah
Aku yakin Aku bisa
Ini bukan sebuah beban
Tapi tantangan
Pengalaman membuatku berani
Berani hadapi tantangan
Tak boleh takut gagal
Karena setelah kegagalan akan ada kesuksesan
Kegagalan adalah pembelajaran menuju sukses
Aku yakin
Aku pasti Bisa
9. Langit biru
Langit biru yang berlalu padanya awan awan putih
Sebagian awan membentuk imajinasi
Sebagian lagi membentuk perasaan
Saat ku basuh air ke mukaku
Kudapati perasaan yang berbeda
Jernih ku pandang air itu
Seolah berkata pergilah, hadapilah
Ketika kita membaca sebuah buku
Kita akan terbawa ke langit fikiran
Dan termenung di dasar emosi
Jangan takut, jangan tertipu
Waktu tak akan membalik lembaran
Sebelum berkehendaknya hati
10. Jingga di langit senja
Kala rona jingga menghias langit senja
Kutitipkan sekeping hati pada cakrawala
Diantara mega-mega, dalam balutan penuh rindu
yang memerah diufuk jiwa
Senja perlahan memeluk malam
dengan warna gelap yang meliputi
menanti penuh harap pada jemari kasih,
yang kan menyibak tirai gulita
pada hamparan padang sunyi
Saat purnama menyapa ditepian malam
kan kutuangkan goresan rasa
kedalam cawan jiwamu
Agar kau tau
Disetiap detak nadiku
Hanya ada namamu
Yang terukir indah dalam relung sukmaku
Kasih
Ejalah dengan nurani setiap bai-bait
yang mewakili perasaan hati
Dan kau akan tau betapa beningnya tulus ini
Tanpa beban mimpi yang tak bertepi
11. Hargai Prosesmu
Ada yang sedang bahagia
Juga menderita
Ada yang berbunga
Juga merana
Ada yang mencinta
Juga kecewa
Ada yang tertawa
Juga terluka
berbagai warna di hidupmu
adalah cerminan dari tingkah lakumu
bersiap diri dalam setiap kesempatan
untuk merubah menjadi keberuntungan
Nama : Yuni Diyan Dari
BalasHapusNim ; A310200058
Kelas : 5A
karya : puisi
Senja
Mata terpanah menatapnya
Diufuk barat cakrawala
Emas merona cahaya
Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa
Terbenam perlahan malam
Menjemput mesra rasa terdalam
Menyempurnakan keindahan alam
Tertutup awan warna yang menawan
Begitu Indah bulan menyapaku
Sejenak diam ku terpaku
Keindahan yang tak pernah semu
Oh senjaku begitu Indah memekaran hatiku
Bulan
Matahari kian tersingkir
Cahaya malam ikut hadir
Membuka langit sampai bergilir
Kalahkan cahaya tintir
Gemerlap cahaya yang rumit
Memeriahkan butiran-butiran langit
Tanganku seolah terkait
Cahayamu begitu genit
Akankah kau menerangi hati
Makin malam makin sepi
Tercengang tegang menjalani hari
Bulan.. Usaplah sesak dada malam ini
Malam
Cahaya emas telah pergi
Penantian mallam silih berganti
Kerinduan dalam hati ini
Didalam bayang seorang menanti
Aku tertiu malu
Kegelapan mengalunkan rindu
Rasa resah dan pilu
Kini makin kian menyatu
Bicara pada langit sepi
Menuai kasih dirumah ini
Seakan hari cepat berganti
Malam, ku sendiri disini
Nama : Nisa Alfiya
BalasHapusNIM : A310200187
Kelas : 5B
Mata kuliah : Menulis Kreatif
Karya : Antologi Puisi
1. Beraksara
Sebaik-baiknya resapan
Hanya serapan asamu yang mempan
Entah membumi atau mengudara
Atau bahkan batin yang beraksara
Sebaik-baiknya usaha merapal
Hanya kutipan kuasa yang dihapal
Entah dipuja atau diuja
Atau bahkan menjadi reja
Setidaknya tuan masih mau
Mentahbiskan hidup meski dalam derau
Manunggaling Gusti tanpa surau
2. Matahari
Matahari di seperempat ufuk
Ku rajutkan baju untukmu agar tetap hangat
Ku bawakan sinar, entah serpihan matahari
Atau percikan api tungku perapian
Berapa kalipun, seringaimu ku pajang
Berapa kali pula, atmaku merejang
Matahari di seperempat ufuk
Penciptaan tentang raguku
Menyenggol batinku
Tentu saja,
Rupa rupanya
Tanpamu, rasaku, tak tercipta
3. Rasa
Dan segala suratanku tentang rasa pengrasa atmaku
Bukan aku yang tau bagimana asalnya
Bahkan tentang bagaimana gambarnya
Perihal rasa pengrasa atmaku
Biarkan rapalan mantra dalam ringkuhanku membumi dan diteruskan ke bumantara
4. Apa tak bisa
HapusTak kala rasaku menguat
Kau hiasi dengan kalimat pemikat
Membuatku berhasrat
Untuk semakin menggebu dalam bersuara
Bahwa rasaku benar adanya
Kau bisa mengalihkan semuanya
Kau bisa tak percaya
Apa kau tak bisa melihatku
Yang menggebu saat mencintamu
Sedikit arogan
Tapi itu benar adanya
Nama : Yoga riyanda
BalasHapusnim : a310200084
kelas : 5B
karya : puisi
Bidadari Dalam Hujan
Kulihat awan-awan yang mendung
Seolah memberi syarat kepadaku
Tentang kedatangan kebahagiaan
yang tiada batas dan tiada hingga...
Hembusan angin yang menyentuh
seolah mengambil rasa penasaranku
kepada suasana ini
suasana yang membuatku bertanya-tanya
kepada tanda-tanda keagunganNYA...
sekejap kilatan petir yang turun ke bumi
menandakan jatuhnya bidadari didepanku
dengan kecantikan seperti permata putih suci
dan berkilauan cahaya surga
yang menyilaukan saksi saksi bisu
dan menghentikan sepersekian detik waktu
dalam diriku...
Hujan yang hanya seorang
berubah menjadi tentara air
yang siap mengepung diriku
dan memutuskan semangatku
genderang perang tiba-tiba berbunyi dalam diri
ku siapkan panah untuk memenangkan ini
jika hujan ini tercipta untukku
aku akan ikhlas dengan dingin, basah dan lelahnya tubuh ini
demi dirimu, lukisan indah Tuhanku...
Lukisan Sore
Terbenamnya malam....
Mengukis orensnya atsmosfer
yang gelap dan kelam
aku melihat seolah
mataku tertancam dalam
lukisan Sang Pencipta yang sangat indah
suara burung yang menggema di telingaku
seakan menuntunku kedalam kedamain
kedamaian antara dunia dan akhirat
hitam putihnya hti ini akan terenyuh oleh ketenangan...
suasana matahari tenggelam
diantara pegunungan yang tinggi menjulang...
betapa hebatnya Tuhan menciptakan
alam semesta beserta isinya...
GRAVITASIKU
Dalam gelap kau berikan sinar
Dalam dingin kau berikan kehangatan
Kau mampu datang secepat jantungku
Yang berdetak di setiap mata ini melihatmu
Kau membuat api yang dapat merangkul tubuh ini
Menumpulkan tajamnya jarum malam
Mengikiskan setiap batu yang keras
Dan menemaniku di setiap berjalannya jarum merah
Jarum merah jantungku , jarum merah hatiku
Tak akan menjadi indah kata-kata yang ku buat
Jika matahari tak lagi bisa bersinar dan mengorbit
Di sisiku selamanya
Karena hanya kamu gravitasiku....
kalo yang dibawah ini sebenernya tugas sekolah ane dulu.....
aku posting sekalian aja buat ramadhan bulan juli besok biar tambah mantab ramadhannya :v
Hadiah dari Tuhan
Ketika masalah menghampiri
Ketika jiwa tak terobati
Tapi jika membacamu
Jiwa ini terasa hidup kembali
Kau adalah wahyu yang terwariskan
Untuk mengobati jiwa-jiwa yang tersesatkan
Untuk kembali ke jalan yang benar
Hingga tiba pada saatnya nanti
pada saat akhir zaman
Terimakasih TUHAN
Karna telah memberikan hadiah terindah
Bagi hambamu ini
Yang sangat lemah tanpamu
Terimakasih TUHAN
Karna dengan petunjuk-petunjukmu
Semua masalah terselesaikan
Lewat kitab suci ini, kitab suci Al Qur’an
Nama: Erin Arindha
BalasHapusNim: A310200033
Kelas: 5/A
Karya: Antalogi Puisi
Tarian
Gemulainya..
Anggunnya..
Membumbui jagat
Yang kian erat
Lantunan gending
Senyuman tulus
Gelagat memikat
Membuat terpana
Leher meliuk
Mata melirik
Kekaguman yang antik
Elok cantik nan simpatik
Lantang tari tarian negri
Meronai sabang merauke
Menebar adat pertiwi
Menyulut dunia terpukau
Ragam budaya, ragam tarian
Penuh simponi, jua arti martabat negri
Tari..
Tarian..
Tari..
Tarian..
Batik Kita
Penyerta karakter
Tarbiah terwarnai
Pembentuk jiwa
Identitas bangsa berpulau
Batik, Membatik
Batik, membatik
Warisan leluhur bangsa
Piawainya goresan canting, penyeimbang hati nurani
Batik, membatik
Kerajinan tradisional bangsa
Putih berserinya kain, intelektualitas pada sang pencipta
Batik, membatik
Identitas kultural bangsa
Lekukan corak seribu makna, pembentuk karakter insan
Batik, membatik
Ekspresi budaya bangsa
Ulet nan tulennya perajin, merabuk rasa cinta tanah air
Sejuta Pohon Untuk Bumi
Apa jadinya bila bumi tanpa pohon?
Oksigen terbatas tak muluk
Sandiwara kehidupan nihil
Tanah tandus, timpas
Air meruap tanpa tepi
Memintasi pendidikan akan tertangani
Entitas kepedulian pada alam
Memupuk semangat menanam
Menjaga taulan manusia dengan alam
Hijau menyiur gagah
Udara segar beraras
Tanah sehat subur
Air bersih jernih
Terima kasih kita untuk sejuta pohon!
Nama: Ainun Qolbi M.F
BalasHapusNIM: A310200022
Kelas: 5A
Karya: Antologi puisi
1. Sang Pencipta
Gemricik air mulai terdengar
Pohon - pohon mulai menari
Kulihat pemandangan yang indah
Sang Penciptalah
Yang membuat itu semua
Membuat kita sadar
Atas nikmat Tuhan
Yang tiada batas
2. Kitab Penerang
Kubuka setiap malam
Lembaran demi lembaran
Kitab penerang
Kumulai membaca
Ayat demi ayat
Dengan lantunan merdu
Yang meneduhkan hati
Mencari benang merah kehidupan
Yang sudah kusut
Dengan meluruskannya
Memberikan petunjuk yang benar
Menyadarkan bagi yang lalai
Memberikan hak kepada yang berhak
3. Sampah
Kunikmati setiap langkah
Menuju ke suatu tempat
Yang tak terduga olehku
Di depan mataku
Terdapat gunung sampah
Yang siap meledak
Dan memunculkan asap yang tak sedap
Banyak lalat yang terbang silih berganti
Banyak belatung yang berjalan
Dan banyak hewan yang mencari sumber penghidupan
Kenapa orang tak sadar diri
Untuk membuang sampah
Pada tempatnya
Padahal....
Kebersihan itu
Sebagian dari iman
4. Air
Jika kau menghargai air
Air akan menghargaimu
Dengan memberikanmu penghidupan
Penghidupan setiap yang ada di bumi
Memiliki banyak manfaat
Untuk kelangsungan hidup
Manusia hewan tumbuhan
Dan untuk keperluan umat manusia
Dari hal yang kecil dan besar
Jangan pernah mengotori air
Air merupakan
Kelangsungan hidup dibumi
5. Nikmat Illahi
Menikmati setiap keindahan
Yang engkau
Anugerahkan kepada kita
Kita sepatutnya bersyukur
Atas nikmat
Yang engkau berikan
Begitu banyak nikmat
Yang diberikannya
Kepada kita
Kita tidak boleh mengecewakannya
Dengan cara merusaknya
Kita harus....
Slalu menjaga
Agar tuhan
Slalu mencintai kita
6. Awan Hitam
Betapa hancurnya hati ini
Ketika mendengar awan hitam
Yang berlalu
Dari mulut ke mulut
Awan hitam telah datang
Begitu cepat
Tidak kuat hati ini
Hancur berkeping - keping
Menjadi partikel debu tak terlihat
Tidak tahan raga ini
Untuk menopang
Kehidupan yang pelik
Begitu menyesak di dada
Begitu sakit seluruh tubuh
7. Jejak
Derap langkah tak berarti
Mengikuti arus kehidupan
Yang begitu fana
Mengerti arti sebenarnya
Melangkah dengan hati
Melakukan dengan jiwa
Terus maju tanpa henti
Mengikuti hasrat tanpa batas
Menembus garis takdir
Mewarnai jalan kehidupan
Dengan beribu makna
Tiada tara
Menjalani kerasnya dunia
Terus melangkah
Tiada henti
Demi mewarnai kehidupan
Dengan langkah sebenarnya
Seperti air mengalir dengan tenang
Tanpa takut suatu hal
Terus berjalan
Menuju lautan kebahagiaan
8. Bola Sinar
Bola sinar.....
Mulai menyirami bumi
Dengan cahayanya
Menghiasi langit
Dengan membawa keceriaan
Menenggelamkan petang di ufuk
Membangunkan pagi yang terlelap
Yang timbul di sela - sela dedaunan
Menembus embun
Yang mulai menetes
Seiring bola sinar muncul
Memanggil setiap makhluk
Yang tertidur di kegelapan malam
Untuk bangkit dan berjalan
Demi menyukseskan dunia ini
Nama : Dina Putri Kinasih
BalasHapusNIM : A310200111
Kelas : 5B
Karya : Antologi Puisi
1. Pergi Kuliah
Sinar mentari pagi tadi
Begitu cerah menerangi
Au segera mandi
Demi kuliah kelas pagi
Sebenarnya begitu malas
Apalagi jika cuaca panas
Di jalan tetap patuhi lalu lintas
Jangan sampai menerabas
Ya begitulah kenyataannya
Demi kuliah aku rela
2. Mahasiswa
Aku seorang mahasiswa
Mahasiswa yang membawa perubahan
Namun apakah aku bisa
Aku masih sangat biasa
Perubahan dibawa oleh mahasiswa istimewa
Bagaimana tidak istimewa
Mereka rela kuliah rapat tak terkira
Berjuang dengan sukarela
Ya itulah sebenarnya mahasiswa
3. Cinta Semester Pendek
Terduduk sendiri menikmati ramainya suasana kantin didalam kehampaan
Kala itu aku menunggu pergantian kelas semester pendek
Riuh ricuhnya suara kehebohan para remaja yang beranjak dewasa memenuhi telingaku
Tapi tak ada satupun dari gelak tawa itu yang mampu memecah kesunyianku
Detik demi detik terlampaui
Menitpun berubah menjadi jam
Aku masih termenung menikmati heningnya jiwa
Namun semua kesunyian yang telah lama kunikmati terganggu
Kedua mata tak mampu memalingkan pandangan
Hei.. Siapakah itu yang datang seorang diri
Tinggi bersih dan terhias pakaian rapi
Itulah cerminannya
Aku tak pernah melihat sosok hasil karya Tuhan yang satu ini sebelumnya
Dia yang beraninya tiba tiba datang memporak-porandakan hampaku
yang tersusun rapi sejak lama
Hei… Bolehkah aku memberi julukan cinta padamu..
Cinta yang kutemui melalui perantara ruang dan waktu dismester pendek
4. Tempat Bernaung Dalam Peluh Perjuangan Meraih Impian
Ditempat ini
Ratusan hari kuhabiskan waktu
Tak terhitung lagi berapa jam dalam sehari
Tempat yang terkadang terlihat menjenuhkan
Ruang-ruang kelas yang terkadang membuat penat
Lengkingan suara bergeseknya deretan kursi yang terasa menusuk telinga
Alunan suara para pengajar yang terkadang menjelma menjadi dongeng pengantar tidur
Semua keluh kesah itu terasa tiada arti
Ketika janji akan harapan meraih impian merayu didalam benak dan jiwaku
Secercah cahaya kehidupan menjadi alasan bertahan
Senyum hangat dan renyahnya tawa para kawan
Rangkulan diantara kesulitan
Rumah ku yang lain
Keluarga ku yang tak sedarah
Semua dipertemukan oleh semesta didalam ruang yang sama
Terimakasihku untukmu
Wahai tempat bernaungku dalam peluh perjuangan meraih impian
Sang pelindung yang yang dikenal dengan julukan kampus
5. Terpaku di dalam kegundahan hati
Terasa tak mampu ku lawan dengan jari-jari
Tiada kembali area hari yang mulai ada
Hanya lelah
Lelah yang ku rasa……………
Andaikan kala itu tak terjadi
Mungkin hatiku takan remuk seperti ini
Langkahku terhenti di dalam kelamnya malam
Mataku terkendala jurang yang dalam
Pendengaranku sayup-sayup tak menentu
Hatiku terombang ambing di dalam ombak kemarahan
Ragaku tak berkuasa untuk berfungsi
Mungkin ga ada kembali yang mampu terjadi kala ini
Semangatku lemah hatiku susah
Teringat malam itu yang menyakitkan
Inikah kehidupan?
Kurasa seluruh bukan seperti ini
Mungkin masih ada titik terang
Yang bakal menyinari kegelapan hati
Memberi pujian untuk diri sendiri
Meredamkan seluruh yang ada kala ini
Hingga aku mampu kembali ke kehidupan yang indah ini
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus